Tak hanya mengejutkan, namun juga menyayat dan mencabik-cabik hati nurani manusia. Betapa tidak. Peristiwa bom di Sri Lanka menewaskan lebih dari 300 orang dengan 500 lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa yang terjadi di tiga gereja; St. Anthony, St. Sebastian, dan Sion serta di tiga hotel berkelas; Shangri La, Kingsbury, dan Cinnamon Grand ini merupakan peristiwa terorisme yang luar biasa brutalnya.

Sampai hari ini, belum ada satu pun organisasi teror yang melakukan pengklaiman atas kejadian di Sri Lanka ini. Tak ayal jika masih banyak spekulasi yang berkembang dalam kasus ini, diantaranya pemerintah setempat yang menuding National Thowheeth Jama’ath sebagai dalang peristiwa brutal ini. Bahkan ada yang menduga pula bahwa teror di Sri Lanka ini sebagai bukti balas dendam atas peristiwa penembakan massal di dua Masjid yang berada di wilayah Christchurch, Selandia Baru.

Kejadian demi kejadian aksi teror, baik dalam skala rendah maupun besar merupakan fenomena yang kompleks. Tidak hanya masuk dalam faktor agama, melainkan juga ada motiv lain seperti ekonomi dan politik. Terhadap motiv ekonomi-politik, lihatlah peristiwa terorisme yang menimpa kawan Timur Tengah. Amerika Serikat yang menyerang banyak negara di kawan Timur Tengah dengan dalih perang terhadap teroris, nyatanya semakin hari semakin ‘tak terbukti’.

Fakta lapangan menyebutkan bahwa aksi tersebut tak ubahnya hanya ingin menguasai beberapa kekayaan alam yang ada di negara setempat. Tak hanya itu, kisah pilu pun menyelimuti kawasan yang diserang AS. Betapa tidak. Aksi-aksi AS yang beralih war on terror  itu justru menyebabkan warga yang tak berdosa menanggung kepedihan; banyak kehilangan rumah dan harta benda, bahkan hak hidup dan kemerdekaannya tercerabut.

BACA JUGA:  Pendidikan Toleransi dan Wisata Religi

Kembali pada fenomena bom di Sri Lanka. Ada hal menarik yang patut dicermati dalam peristiwa bom di Sri Lanka, yakni cara bergerak dan modus yang dijalankan oleh bomber di Sri Lanka. Hal ini disampaikan oleh pengamat terorisme, Al Chaidar, bahwa cara dan aksi pelaku bom bunuh diri di Sri Lanka pada momentum Paskah, Minggu (21/4) kemarin, ada kemiripan dan biasa dilakukan oleh pendukung ISIS dan jaringan terorisme di Indonesia.

Dari sinilah, Indonesia, melalui aparat keamanan mulai waspada terhadap sel tidur jaringan teroris di Nusantara. Hal ini tak berlebihan, bahkan sangat logis mengingat klaim sementara dalang bom di Sri Lanka, yakni National Thowheeth Jama’ath mempunyai hubungan dengan kelompok radikalis-teroris di Indonesia.

Usai insiden bom beruntun di Sri Lanka, melalui berbagai media, Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, memberikan keterangan ke publik bahwa pihaknya sudah melakukan gerakan cepat, yakni mapping jaringan sel tidur teroris di Indonesia. Kemudian Dedi memberikan keterangan lanjutan bahwa sejumlah teroris yang ditangkap beberapa waktu lalu, merupakan langkah awal untuk antisipasi dn mencegah terjadinya serangan lanjutan dari kelompok teroris di Indonesia.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa sel-sel teroris di Indonesia yang memiliki jaringan secara internasional masih ‘hidup’, kendati pasca kekalahan ISIS beberapa waktu lalu. Maka, segenap pihak, baik pemerintah, masyarakat dan bahkan pegiat di media sosial dan media online, agar tidak lengah dalam mengedukasi masyarakat untuk tidak sampai terjerat oleh kelompok radikalis-teroris yang hingga saat ini, bahkan selamanya, selalu mencari kader untuk dijadikan sebagai eksekutor misi mereka.


Sumber : harakatuna.com