Manusia tercipta dengan gender yang berbeda: ada pria, ada wanita. Mereka pun menyandang status sosial yang berbeda: ada yang kaya dan yang miskin, ada priayi dan abangan, bahkan ada yang alim dan yang awam. Perbedaan gender dan status sosial seringkali disikapi diskriminatif, berjalan tidak beriringan, dan saling menunjukkan “keakuan”.

Sikap diskriminatif menggiring pria melihat wanita sebelah mata. Lelaki, menurut mereka, adalah pemimpin dan penguasa segala sektor, termasuk rumah tangga, sehingga tidak ada ruang bagi wanita untuk menyampaikan pendapat dan memperjuangkan hak dan kewajibannya. Lelaki merasa superior, sementara perempuan dianggap inferior. Tak ayal, perempuan ada pada posisi yang kurang menguntungkan, terpenjara, dirampas hak-haknya, bahkan hilang masa depannya.

Selain itu, sikap diskriminatif menutup kesadaran seseorang akan jati dirinya, yakni manusia (al-insan) atau makhluk (makhluq). Manusia merupakan sosok yang mudah lupa dan tidak menutup kemungkinan berbuat salah. Sifat pelupa dan salah ini menjadi bukti bahwa manusia adalah sosok yang lemah (dhaif). Maka, benar bunyi doa sang hamba yang disebutkan dalam al-Baqarah/2: 286 yang menggambarkan kelemahan manusia: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Demikian pula, status makhluk yang melekat pada diri seseorang menunjuk bahwa dia adalah sosok yang lemah, karena dia tercipta sesuai dengan arti kata makhluq, “yang tercipta” yang mana dia menghamba kepada Sang Khalik yang terambil dari bahasa Arab, Khaliq yang berarti “Pencipta”. Relasi “Pencipta” dan “yang tercipta” tak ubahnya “subjek” dan “objek”. Tentunya, subjek lebih kuasa dibandingkan objek.

Perbedaan status tersebut hanya berlaku di luar masjid sebagai tempat ibadah orang Islam. Begitu mereka menginjakkan kaki di masjid, maka hilanglah status yang dibanggakan. Manusia di sana disamaratakan, tanpa ada yang dibanggakan, diagungkan, bahkan Naudzubillah dituhankan. Hal ini dapat dilihat dari rutinitas pelaksanaan shalat yang dibentuk dengan saf atau barisan yang bebas. Tidak ada aturan saf terdepan bagi golongan priayi, sementara saf terbelakang bagi golongan abangan. Bahkan, gerakan shalat dari takbir (takbirah al-ihram) sampai salam ditambah bacaan-bacaannya disamaratakan dalam syariat Islam: belum pernah ditemukan perbedaan aturan gerakan shalat antar orang kaya dan orang miskin dan antar orang alim dan orang awam.

Kesamaan gerakan dan bacaan shalat yang dilakukan oleh seluruh manusia yang beragama Islam mengisyaratkan bahwa tidak ada kelas yang satu lebih mulia dibandingkan yang lain di tengah-tengah orang yang bertamu di masjid. Tidak dibenarkan seseorang meremehkan yang lain karena merasa status sosialnya lebih tinggi. Sebab, kemuliaan seseorang tidak cukup diukur dari gender yang dibawa semenjak lahir dan status sosial yang dibangga-banggakan. Kemuliaan itu hanya dapat diukur dari kualitas ketakwaannya. Allah swt. menyebutkan secara tegas dalam surah al-Hujurat ayat 13: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Pakar tafsir—sebagaimana dinukil oleh az-Zamaksyari—menyebutkan bahwa ketakwaan, bukan keturunan, yang menjadi standarisasi kemuliaan seseorang di sisi Tuhannya. Ibnu Abbas manambahkan: “Kemuliaan dunia dapat diukur dengan kekayaan, sementara kemuliaan akhirat hanya dapat diukur dengan ketakwaan.” Benar, ketakwaan adalah standar kemuliaan yang abadi, sedangkan kekayaan dan kekuasaan adalah kemuliaan sementara. Alangkah indahnya jika kemuliaan sementara ini dibarengin dengan kemuliaan yang abadi seolah-olah orang yang kaya yang dermawan, tidak angkuh, dan gemar bersyukur.

BACA JUGA:  Mengenal Tafsir Pembebasan Farid Esack

Selain tempat shalat, masjid juga digunakan sebagai media berdakwah. Tidak sedikit masjid dijadikan tempat berdakwah bil lisan, seperti khutbah Jum’at, kuliah tujuh menit atau yang lebih populer dengan sebutan “kultum”. Bila dilihat dari macam-macam dakwah, dakwah bil lisan ini lebih rendah tingkatannya dengan dakwah dengan akhlak. Bisa jadi orang yang berpidato di atas podium hanya pandai menyampaikan kalimat dengan indah, sementara akhlaknya masih belum menggambarkan apa yang dia ucapkan. Dakwah yang paling paling baik adalah menghiasi diri dengak akhlak yang baik, karena dengan akhlak itu akan memberikan kesan kepada orang lain sehingga mereka tertarik untuk mengetahui dan mengikuti apa yang dilakukannya. Dakwah dengan akhlak yang baik seringkali dipraktekkan oleh Nabi Muhammad saw. semasa hidupnya dan efeknya benar-benar terasa di hati masyarakat pada masa itu dan masa sesudah wafatnya. Oleh sebab itu, Al-Qur’an merekam kepribadian Nabi saw. sebagai sosok teladan yang dapat dijadikan cerminan di semesta yang maha luas ini (al-Ahzab/33: 21). Bahkan, dalam sebuah hadis yang populer Nabi saw. menyebutkan: Hanyasanya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak. 

Thus, hiasilah masjid dengan akhlak yang baik sehingga terhindar dari sikap diskriminatif . Masjid bukan lagi dijadikan media “memuluskan” kepentingan pribadi, namun “dijaga” dan “dikembangkan” dengan dakwah yang dikehendaki Nabi Muhammad saw., yakni dakwah moderat (wasathiyyah), tidak ekstrem dan tidak liberal.[] Shallallah ala Muhammad!

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com