Indonesia menempati peringkat enam besar pada tahun 2017 lalu di tingkat dunia dalam hal penggunaan internet. Hitung saja, satu orang memiliki lebih dari satu akun, seperti facebook, instagram, youtube, twitter, gmail, dan akun-akun lain sebagai bumbu kehidupan di dunia maya. Jika satu orang memiliki minimal tiga akun di media sosial, kalikanlah dengan jumlah pengguna media sosial di Indonesia.

Menurut laporan Tetra pak Index 2017 mencatat 132 juta pengguna internet di Indonesia dan setengahnya merupakan budak media sosial (dalam hal ini, penulis adalah salah satunya). 85% di antaranya mengakses sosial media melalui perngkat seluler. Pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millenial dan generasi Z; generasi yang lahir di era digital. Ungkap Gabriella Angriani Communications Manager Tetra Pak Indonesia.

Dalam hal ini, media sosial memiliki peran penting dalam kehidupan people zaman now. Media sosial dapat dijadikan sebagai album kenangan bersifat online yang menceritakan berbagai pengalaman dan perjalanan hidup seseorang. Media sosial juga dapat berperan sebagai buku diary online yang dapat diakses oleh semua orang atau bahasa lainnya adalah penyimpan rahasia umum. Begitu pun peran media sosial yang paling diminati banyak orang adalah sebagai ajang dakwah, mengingat Indonesia adalah negara yang over dosis dengan agama. Tidak ada negara se-over relijius Indonesia.

Agama menjadi pembahasan paling seksi di era milenium ini. Semua golongan yang mengaku beragama berlomba-lomba untuk menelanjangi agama demi melihat isi dibalik keseksiannya. Lagi-lagi, dengan kehebatan ujung jempol mampu membuat jutaan pasang mata membelalak jika perbincangan seputar agama sudah mulai dibuka oleh ujung jempol. Hanya bermodal sekali klik, share, maka jutaan jempol lainnya akan turut meramaikan reuni atau meet up para jempol di kolom komentar di dunia maya yang sebenarnya berujung pada debat kusir.

Ternyata memang benar lirik lagu Jaman Wis Akhir yang dilantunkan oleh Cak Nun (Emha Ainun Najib).

#

Kalau memang yang engkau pilih bukan kearifan untuk berbagi,

melainkan nafsu untuk menang sendiri,

maka terimalah kehancuran bagi yang kalah

dan terimalah kehinaan bagi yang menang.

#

Kalau memang yang mengendalikan langkahmu adalah rasa senang dan tidak senang, dan bukannya pandangan yang jujur terhadap kebenaran,

maka buanglah mereka yang engkau benci,

dan bersiaplah engkau sendiri akan memasuki jurang.

Sekilas lirik lagu di atas menyadarkan kita betapa manusia di era modern ini sangat hobi menyajikan ujaran kebencian (hate speech) sebagai makanan kita sehari-hari; di sela-sela pagi kita sebagai makanan sampingan selain teh hangat, sajian makan siang, bahkan sebagai desert kita di malam hari.

Kita tentu sudah tidak asing jika menjumpai ujaran kebencian dimana-mana dengan mengatasnamakan agama. Banyak quote yang meneriakkan takbir, di sisi lain berteriak kafir. Seolah-olah hanya golongan tertentu yang (dijamin) akan masuk surga, dan di luar golongannya adalah penghuni neraka. Padahal saya kira yang menentukan manusia akan masuk surga atau sebaliknya adalah Tuhan, bukan golongan tertentu, terutama yang geer akan masuk surga dan selainnya adalah kafir.

BACA JUGA:  Kerancuan Tafsir Sensitif Memahami “Celotehan” Andre Taulany

Padahal jika saja mereka paham bahwasanya dakwah itu mengajak, bukan mengejek. Merangkul, bukan memukul. Menemani, bukan memusuhi. Menerangi, bukan memerangi. Meramahi, bukan memarahi. Begitulah konsep dakwah yang dilakukan walisongo. Saya kira, golongan-golongan tertentu yang melakukan dakwah dengan menebarkan kebencian, ejekan, menyulut permusuhan, atau bahkan dengan sengaja memerangi sasaran dakwah adalah orang-orang yang melupakan sejarah (untuk tidak mengatakan buta sejarah).

Dakwah yang disebarkan dari jempol ke jempol tersebut menjadi kesempatan emas bagi para pegiat agama untuk menyebarkan titahnya sesuai dengan justifikasi kebenaran masing-masing kelompok. Media sosial akan menjadi ajang eksistensi sekaligus menjadi tempat bersembunyi. Artinya, banyak tangan-tangan (baca: jempol-jempol) yang tidak bertanggungjawab dengan apa yang di-share sebagai media dakwah. Dalam hal ini, penulis tidak menjadikan jempol sebagai alibi, karena yang dibicarakan adalah realitas. Penulis tidak menyalahkan jempol, justru dalam hal ini penulis memiliki rasa kagum atas keberadaan dan peran jempol dalam dunia maya melalui seluler atau bahasa kerennya adalah smartphone.

Begitu pun media sosial akan menjadi ladang bagi para penulis Islam kiri (seperti yang dikatakan Edi AH Iyubenu dalam bukunya Cerita Pilu Manusia Kekinian bahwa Islam kiri biasa diidentikkan dengan liberal, bebas, moderat) untuk turut meramaikan media sosial dengan postingan-postingan yang menebarkan kasih dan perdamaian. Berbagai akun sosial di media sengaja disuarakan dalam rangka melawan intoleransi, radikalisme, dan ekstrimisme. Banyak akun-akun tidak bertanggungjawab yang hobi repost-repost tanpa memperhatikan validitas isinya, bahkan cenderung berisi seruan ekstrimisme.

Pada era digital seperti sekarang ini, media sosial memiliki peran penting untuk melawan ideologi radikal. Mengingat jutaan manusia merupakan penghuni dunia maya pada saat ini, maka dakwah atau perdamaian pun harus menyesuaikan kondisi psikolog people zaman now, yakni menaburkan benih-benih perdamaian dan countering violent ekstrimism via langit-langit media sosial agar menembus ke dalam isi dunia maya.

Banyaknya pengakses media akan berdampak ke dalam banyak hal. Banyak orang yang berguru agama ke media sosial tanpa mengetahui sanad keilmuannya. Oleh karena itu, akun-akun islam moderat, akun-akun perdamaian dan toleran pun harus dikuatkan agar jejaring ekstrimis tidak kian menjebol gawang persatuan bangsa yang selama ini sudah dirajut sedemikian rupa. Disinilah akun-akun tersebut bermain dan selalu giat mengingatkan para penduduk dunia maya bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan. Jika ada yang mengajarkan dalam hal yang tidak baik (teror misalnya), maka itu sesungguhnya bukan ajaran agama manapun.


Sumber : harakatuna.com