Di Era Milenial seperti saat sekarang ini, banyak bermunculan ustadz-ustadz ‘dadakan’. Ustadz di era sekarang ini masih sekedar balutan euforia dunia maya. Pada saat bersamaan, banyak masyarakat yang mempertanayakan akan  asal-usulnya dari mana, dan sejauh mana ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan dengan kualitas sanadnya. Model ustadz seperti inilah yang seringkali mengabukan nilai dan ajaran Islam.

Indonesia sekarang sudah mulai kacau karena ulah ustadz zaman now, mereka memanfaatkan media kekinian seperti youtube, instagram, facebook, dan media lainnya. Melalui media itulah, ceramah-ceramahnya dipublikasikan. Dengan dibumbui sedikit humor, menjadikan ceramahnya banyak ditonton dan dishare oleh warga net yang mana akhirnya dikenal oleh masyarakat dengan ke alimannya, kebaikannya, keluasan ilmunya, kemudian yang diajarkan yaitu ilmu-ilmunya Nabi Muhammad dan masyarakat tahu persis lalu disebutlah dia sebagai Ustadz, Kyai, atau Ulama. Mungkin proses yang serba ‘dadakan’ inilah yang menjadikan resah oleh sebagian kalangan atas keberadaan ustadz-ustadz model ini.

Padahal sebagaimana kita tahu bahwa, banyak kyai yang belajar agama bertahun-tahun di pesantren, mendalami agama, mempelajari kitab-kitab. Karena tidak populer di youtube, kurang digandrungi. Kyai Maman pengasuh Pesantren Al-Mizan menuturkan bahwa Prof. Qurash Shihab, KH. Mustofa Bisri, Mbah Maimoen Zubair, beliau-beliau yang belajar agama bertahun-tahun kurang laku. Jadi, ustadz yang berilmu agama dalam tidak populer, namun sebaliknya, ustadz yang kurang ilmu agama sangat terkenal dan menjadi idola masyarakat.

Lantas seperti apa seseorang dapat disebut sebagai ustadz, Kyai, atau Ulama? Apakah dia yang bersorban besar? Berjenggot Panjang bercelana cingkrang? Yang sering nampak di TV, Instagram, atau bahkan Youtube? Naas, begitulah di Indonesia. Seseorang yang karena ia pandai public speakingnya (ceramah) kemudian hafal satu dan dua hadis, satu dan dua ayat al-qur’an pun masyarakat Indonesia mudah mengatakan bahwa dia adalah seorang ustadz meski ilmunya tidak sebanding seberapa.

Salah satu ustadz Milenial yang saat ini sedang hits dan diikuti oleh banyak masyarakat yaitu Ustadz F*lix Siauw. F*lix Siauw merupakan seorang kristen yang hanya pengikut di gereja, seorang tokoh agama bukan, pendetapun juga bukan. Begitu ia masuk islam disuruh untuk pidato, akhirnya pidatonya tersebut berisi hanya sepotong pengetahuan yang ia ketahui dalam agama lamanya, akhirnya menjelekkan Kristen dan Katholik di mimbar orang islam, tutur Gus Muwafiq.

Termasuk ceramahnya tentang Rasulullah yang menulis kalimat Tauhid di benderanya. Menurut Gus Muw*fiq, itu adalah sebuah kebohongan karena kitapun tahu sejak kecil bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Ummi, yaitu seorang yang tidak pandai membaca dan menulis, tukasnya. Padahal hadits yang F*lix Siauw katakan tentang panji-panji Rasul itu bernilai sanad dhaif.

BACA JUGA:  Setetes Pencairan Kebekuan Islamophobia di Dunia

Pada zaman Rasul pun yang menulis ayat per ayat ketika wahyu turun sekretaris Nabi, yaitu Zaid bin Tsabit bukan Rasulullah sendiri sehingga  para Sahabat hanya disuruh menghafalkan saja, juga tidak diperkenankan untuk menulis Hadits karena ditakutkan akan tercampur dengan ke orisinilan ayat suci al-Qur’an pada saat itu. Begitulah jika seorang muallaf yang tidak pernah ngaji kemudian dianggap sebagai ustdaz hanya demi kepentingannya sendiri .

Hal ini mungkin untuk pembelaan dalam organisasinya yang saat ini telah dilarang oleh pemerintah yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mana bendera tersebut adalah lambang bendera dari HTI. F*lix Siauw ini termasuk dalam anggota HTI atau Ustadz Milenial Hizbut Tahrir Indonesia itu. Organisasi tersebut yang selalu berkoar-koar akan adanya  anti pancasila yaitu untuk mengusung ideologi khilafah di Indonesia. Mereka bersuara kita yang anti khilafah termasuk juga yang anti Islam.

Sebenarnya bukan itu, hanya saja kita sebagai warga negara yang cinta Tanah Air menghargai jasa para Ulama dan pahlawan yang sudah mati-matian berjuang untuk memerdekakan Indonesia, namun dengan begitu mudahnya mereka ingin mengganti ideologi Khilafah.

Tidak ada yang salah dengan khilafah, memang ada manfaatnya karena Indonesa menjadi lebih terlihat ke-islamiannya, namun lebih banyak mudhorotnya daripada manfaat idelogi khilafah tersebut. Sebab di Indonesia bukan hanya agama islam saja namun dari berbagai Agama sehingga kita lebih banyak melihat pada kemaslahatan dan persatuan umat bukan untuk kepentingan hal sendiri.

 

Maka, kita sebagai umat muslim Indonesia sebaiknya jangan mudah termakan terprovokasi oleh orang-orang yang berpakaian  putih-putih, mengatasnamakan ilmu, mengatasnamakan agama, ataupun mengatasnamakan lainnya tetapi memprovokasikan umat, sehingga menjadikan negeri yang terkenal dengan ke Bhineka Tunggal Ika-an nya ini hancur terpecah belah karena warga negaranya sendiri.

Sebab di Era Milenial ini banyak sekali orang yang ingin belajar agama tetapi karena tidak ada kyai yang mumpuni di desanya atau di daerahnya , mereka lebih senang belajar melalui media sosial yang bisa dengan mudah diakses secara cepat sesuai materi yang mereka dibutuhkan.

Oleh: Nia Azzizunnisa, mahasiswa IAIN Pekalongan.


Sumber : harakatuna.com