Perhelatan akbar, yakni Pemilihan Umum 2019 sudah terlaksana. Kini, tinggal menunggu hasil akhirnya yang akan dipublikasikan secara resmi oleh KPU. Di tengah hiruk pikuk Pemilu 2019, isu Pancasila menjadi sorotan atau fokus utama pelaku atau konstestan Pemilu, terutama kedua capres dan cawapres.

Hal ini terbukti, dalam setiap orasi kapanye, Pancasila tak pernah tidak disinggung. Namun demikian, ternyata masih ada banyak pekerjaan rumah bagi segenap pemimpin bangsa ini. Betapa tidak. Pancasila agaknya sudah tidak semelekat pada diri masyarakat (generasi) terdahulu. Masyarakat kini, atau lebih sering disebut sebagai generasi millenial, belum begitu menjaga, membumikan dan mengimplementasikan butir-butir Pancasila.

Padahal kita semua mengetahui bahwa Pancasila merupakan hadiah terbesar dari Founding Father untuk Bangsa Indonesia. Sebuah falsafah dan ideologi yang sangat ideal untuk diterapkan dalam menyatukan dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang notabene memiliki berbagai macam ras, suku serta budaya. Maka, seluruh warga negara, khususnya generasi millenial memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga dan membumikan ideologi tersebut.

Notonegoro menafsirkan Pancasila sebagai falsafah Negara Indonesia yang mampu menjadi cara pandang hidup masyarakat Indonesia sebagai pemersatu dan penjaga NKRI. Bangsa Indonesia patut bersyukur, karena dengan adanya Pancasila, sebuah perbedaan tidak menjadi soal dalam berkehidupan di Indonesia, tetapi coba lihat berbagai negara yang belum bisa selesai dengan adanya perbedaan, mereka masih diambang kegelisahan dalam menjalani hidup di negaranya sendiri.

Dalam Pancasila, terdapat nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, persaudaraan, kebersamaan (gotong royong), dan keadilan. Nilai nilai inilah yang mampu menghimpun keberagaman bumi pertiwi. Jika nilai-nilai ini goyah dan tergerus oleh zaman seperti hoaks, pertengkaran dan pertikaian, maka generasi millenial harus tampil di garda terdepan untuk menjadi motor penggerak dalam menjaga Pancasila. Sebab generasi millenial yang nantinya akan memegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

Seiring bekembangnya zaman, tantangan kekuatan pancasila terus diuji. Sebut saja berita hoaks, hate speech dan provokativ yang tersebar di berbagai media masa, hal ini disebabkan tidak bisanya menerima perbedaan dan keberagaman. Dalam teori propaganda, sesuatu yang diulang secara terus menerus setiap hari, pasti akan mempengaruhi orang lain, baik itu kegiatan positif maupun negatif. Begitu pula jika berita hoaks menyebar di mana-mana secara terus menerus tanpa adanya klarifikasi terlebih dahulu, maka akan mengancam stabilitas negara.

Implikasi dari tidak bisanya menerima perbedaan tersebut, tidak hanya di dunia maya melainkan merambah di dunia nyata. Sebut saja peristiwa  pada bulan Mei 2018 lalu, yaitu penyerangan yang dilakukan oleh terduga teroris ke Mapolda Riau, pengeboman tiga gereja dan bom yang melanda di Surabaya.

BACA JUGA:  STOP Menjual Isu SARA di Dunia Maya!

Maka, pemerintah sebagai representasi dari negara, jika ada tindakan-tindakan oknum baik di dunia maya maupun dunia nyata, yang menyeleweng dari pancasila harus segara ditindak lanjuti. Sebab, ada adagium : “mencegah lebih baik, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi”.

Millenial dan Pancasila

Jika berbicara tentang generasi millenial tentu sangat menarik, karena millenial menjadi kaum yang mendominasi bumi pertiwi saat ini. Hal demikian diperkuat oleh data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang mengatakan, bahwa 90 juta jiwa atau sepertiga dari penduduk Indonesia merupakan generasi millenial. Maka generasi millenial menjadi faktor penentu maju­-mundur bangsa ini.

Akan tetapi, tidak sedikit dari para pemuda yang masih belum faham dan tidak mengerti pentingnya penerapan Panasila dalam bekehidupan. Hal demikian bisa dilihat dari masih banyaknya berita hoaks dan yang bernuansa provokatif masih berkeliaran di dunia maya. Lebih lagi, mereka terninabobokkan oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih. Maka, generasi harus berkomitmen teguh untuk meminimalisir kegiatan tersebut.

Jika kita merenungkan sejarah Indonesia, peran pemuda dalam merebut dan menjaga Indonesia sangatlah getol. Sebut saja peristiwa sumpah pemuda, revormasi dan lain sebagainya, peristiwa tersebut memiliki implikasi yang sangat besar bagi kelangsungan NKRI ini. Maka menjadi PR besar bagi generasi millenial untuk menjaga dan menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai role model kehidupan.

Untuk melahirkan generasi millenial yang mampu menjadikan Pancasila role model kehidupan, tentu harus dibutuhkan kerjasama dari berbagai elemen masyrakat. Terutama penanaman nilai-nilai pancasila sejak dini, yakni dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah secara konsisten. Dengan demikian akan mempermudah melahirkan generasi yang memiliki karakter pancasila, yakni menghormati perbedaan, menjunjung tinggi kemanusiaan, kasih sayang, kedilan, persatuan, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, Indonesia akan tetap optimis dalam mengarungi berbagai problematika kehidupan bangsa yang dibarengi dengan perkembangan teknologi. Sebab, Indonesia yang dianugerahi banyak perbedaan tentu dalam mengelolanya membutuhkan rumusan yang sangat bagus, maka pancasila akan tetap eksis sepanjang kehidupan.

Maka dari itu, generasi millenial harus benar-benar menjadikan Pancasila sebagai role model kehidupan, dalam berbagai aspek baik di dunia maya maupun dunia nyata. Sudah saatnya generasi millenial menunjukan eksistensinnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif, agar tidak terpengaruh oleh nilai-nilai yang akan menggerus karakter bangsa.


Sumber : harakatuna.com