Baru-baru ini Gedung Putih mengeluarkan sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan dunia internasional, yaitu rencana Presiden Donald Trump memutuskan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai organisasi teroris. Dalam beberapa hari ini, keputusan Trump tersebut menimbulkan polemik perihal relevansi keputusan tersebut.

Semua tahu, bahwa keputusan tersebut sebagai tindak-lanjut pertemuan bilateral Presiden Mesir, Abdul Fattah el Sisi dengan Presiden Trump pada awal April lalu. El Sisi lebih dahulu menegaskan IM sebagai organisasi teroris di Mesir, sehingga seluruh aktivitasnya tidak diperbolehkan. Bahkan beberapa tokoh sentral masih mendekam di penjara akibat konflik politik setelah musim semi Arab lalu.

Rupanya El Sisi ingin agar IM tidak hanya dilarang di Mesir, tetapi juga di berbagai penjuru dunia, termasuk di AS, Eropa, dan beberapa negara di Timur-Tengah. Intinya, IM tidak boleh beraktivitas baik dalam kegiatan politik maupun kegiatan sosial lainnya.

Meskipun demikian, langkah El Sisi tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Di samping karena proses di dalam negeri AS masih berliku dan panjang, gagasan untuk memasukkan IM dalam kelompok teroris juga masih menimbulkan polemik.

Sebagai organisasi, IM merupakan gerakan yang terus mengalami transformasi dan reformasi internal perihal partisipasi dalam politik dan akseptabilitas pada demokrasi. Setelah musim semi Arab, IM terlibat langsung dalam pesta demokrasi di Mesir dan memenangkan kontestasi, baik di parlemen dan eksekutif. IM menjadi wajah baru demokrasi di Timur-Tengah, khususnya di Mesir.

Prestasi yang diraih IM tersebut bukan isapan jempol, karena mereka menjadi satu-satunya organisasi yang mempunyai basis massa, manajemen, dan aktivitas yang rapi dan massif hingga ke akar rumput. Di Mesir, organisasi yang bisa menandingi IM hanya al-Azhar. Karena itu, demokrasi menjadi berkah bagi IM karena mereka secara otomatis akan memenangkan kompetisi dalam demokrasi.

Masalah muncul tatkala IM mulai memaksakan kehendak dalam hal penyusunan konstitusi baru Mesir pasca-revolusi, yang menyebabkan hilangnya kepercayaan warga Mesir terhadap IM. Ketidakmauan IM melakukan kompromi menyebabkan mereka kehilangan kekuasaan yang berakhir pada kudeta militer dan pelarangan IM secara kaffah dalam seluruh aktivitasnya di Mesir. Sejumlah elite IM masih berurusan dengan hukum, yang menyebabkan aktivitas IM di Mesir mati total.

Kini, nasib IM di berbagai belahan dunia akan menghadapi masalah serius. Pasalnya mereka mempunyai cabang yang tidak sedikit di berbagai belahan dunia, bahkan sebagai partai politik mereka mempunyai kursi di Kuwait, Jordania, dan beberapa negara Teluk lainnya.

Tidak hanya itu saja, sikap Trump tersebut akan menimbulkan goncangan yang lebih besar, karena IM mempunyai jaringan global yang sangat luas di mana mereka membangun bisnis dan kegiatan sosial yang sangat masif. Stempel teroris terhadap IM akan mempunyai dampak yang tidak sederhana. IM akan benar-benar lumpuh.

BACA JUGA:  Iran tak akan Menyerah Ditekan AS

Meskipun demikian, langkah yang akan diambil Trump tidak mudah juga, karena prosesnya masih panjang di dalam negeri AS. Di samping itu, banyak pihak menganggap langkap Trump tersebut terlihat mengakomodasi kepentingan Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang selama ini menganggap IM sebagai ancaman politik di dalam negeri mereka.

Adapun untuk menyatakan IM sebagai organisasi teroris tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat. Pasalnya IM di Mesir dan beberapa negara lainnya tidak secara langsung terlibat dalam organisasi teroris. Bahkan mereka berpartisipasi dalam pesta demokrasi, yang menyebabkan mereka kadang menang dan kadang kalah.

Karenanya, IM sebenarnya sudah melakukan langkah besar untuk menerima demokrasi dan tunduk pada proses politik yang transparan. Hanya saja memang masalahnya beberapa organisasi yang dinyatakan sebagai organisasi teroris, seperti Hamas ditengarai mempunyai hubungan dekat dengan IM. Di samping beberapa tokoh seperti Ayman al-Zawahiri dan beberapa tokoh penting lainnya merupakan aktivis IM di Mesir. Belum lagi, Hizbut Tahrir sejarahnya merupakan pecahan dari IM.

Langkah yang akan diambil Trump untuk memasukkan IM sebagai organisasi teroris akan terus menimbulkan polemik. Namun meskipun demikian, masalah ini tidak mudah bagi IM karena mereka sudah kadung mendapatkan stigma negatif pada ranah global. Setelah IM di Mesir dilarang beraktivitas, maka IM di berbagai dunia akan mendapatkan perlakukan serupa.

Itu artinya IM harus mampu menegaskan dirinya kembali ke dunia internasional sebagai organisasi yang modern, mendukung demokrasi dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Sejak polemik ini muncul, belum ada sikap resmi dari IM perihal rencana Trump tersebut.

IM tidak bisa lagi berdiam diri di tengah tekanan global. IM harus membuka diri menjelaskan kepada publik perihal visi dan kegiatannya selama ini. Sebab jika IM diam, hal tersebut akan memuluskan langkah Trump untuk memasukkannya sebagai organisasi teroris.

Di samping itu, ada dampak serius yang tidak sederhana jika langkah-langkah Trump tersebut disepakati, yaitu marahnya sayap-sayap ekstrem di dalam IM sendiri yang ditengarai akan berdampak bagi keamanan global. Karenanya, apa yang terjadi sekarang tidaklah mudah dan sederhana. Langkah Trump tersebut akan mempunyai dampak yang besar bagi stabilitas global.

Zuhairi Misrawi intelektual Muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di Middle East Institute, Jakarta


Sumber : harakatuna.com