Jika melihat pada hadist Jibril yang diriwayatkan oleh sahabat Umar Bin Khotob bahwasanya inti dari ajaran Islam itu ada tiga yaitu Iman, Islam (fikih) dan Ihsan (tasawuf). Hadist ini bercerita ketika Nabi ditanyai oleh seorang badui [malaikat Jibril yang menjelma jadi seorang badui] kemudian seorang badui tersebut membenarkan apa yang ditanyakan setelah dijawab oleh nabi. Tiga pertanyaan tersebut adalah apa itu Islam, apa itu Iman dan apa itu Ihsan. Tiga pertanyaan ini berhasil dijawab oleh nabi dan dibenarkan oleh badui tersebut.

Konsep ketiga ajaran tersebut kalau dijabarkan sangat komplek dan mencakup segala bidang dan sendi kehidupan umat manusia. Ketiga ajaran tersebut akan mengatur semua aktifitas manusia. Bahkan tak ada perilaku manusia sekecil apapun itu kecuali ajaran Islam telah mengatur dan menetapkan ketentuannya. Ajaran Islam mengatur semua aktifitas manusia dari mulai tidur sampai tidur kembali.

Namun demikian bila dicermati lebih jauh ajaran Islam yang begitu kompleksnya sesungguhnya, di bidang apapun, semuanya tidak lepas dan hanya terangkum dalam dua hal. Kedua hal itu adalah mengagungkan Allah dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Simpulan ini banyak disampaikan oleh para ulama semisal Syekh Muhammad Nawawi Banten. Di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd ulama asli Indonsia yang bergelar Sayid Ulama Hijaz ini menuturkan:

فان جميع أوامر الله تعالى ترجع الى خصلتين التعظيم لله تعالى والشفقة لخلقه

Artinya, “Sesungguhnya semua perintah-perintah Allah kembali kepada dua hal; mengagungkan Allah ta’âlâ dan berkasih sayang terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta, Darul Kutul Al-Islamiyah: 2010], halaman 9).

Sementara di dalam kitabnya yang lain, Tafsir Marâh Labîd, Syekh Nawawi mengungkapkan hal yang sama dengan redaksi yang berbeda:

الطاعات محصورة في أمرين: التعظيم لأمر الله، والشفقة على خلق الله

Artinya, “Ketaatan-ketaatan itu terangkum pada dua hal, yakni mengagungkan Allah dan berbuat kasih sayang (syafaqah) terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut, Darul Fikr: 2007], juz I, halaman 117).

Oleh karenanya ajaran Islam yang komplek dan luas itu berpangkal dari mengagungkan Allah dan sifat kasih sayang. Sedangkan ajaran yang fundamental (yang radikal dan kaku) apapun itu merupakan reduksi dari ajaran Islam. Pereduksian ini adalah tercermin dari menipisnya kasih sayang yang merupakan pangkal dari ajaran Islam dan digantikan dengan kekakuan dan kekerasan. Karena kelompok fundamental akan menyalahkan atau bahkan mengkafirkan kelompok yang berbeda dengan tafsiranya.

Dengan demikian mereka yang hanya takzhîm memuliakan Allah saja [maksudnya berusaha menyebarkan Islam dengan slogan jihadnya dan menghalalkan segala cara, menyalahkan kelompok yang berbeda pemahaman bahkan menggunakan cara kekerasan dalam menyebarkan Islam] akan tetapi tanpa dibarengi dengan perilaku kasih sayang terhadap sesama makhluk belum dikatakan taat dengan sebenar-benarnya taat, malah perilaku tersebut bisa melunturkan ajaran Islam itu sendiri.

Lebih jauh lagi terpenuhinya dua hal yang menjadi rangkuman dari ajaran Islam itu erat kaitannya dengan kebahagiaan sejati yang dapat diraih oleh manusia. Menurut Imam Abu Hayan Al-Andalusi di dalam kitab tafsirnya Al-Bahrul Muhîth bahwa kebahagiaan itu terikat dengan dua hal, yakni mengagungkan Allah SWT dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Dalam tafsir tersebut Abu Hayan menegaskan:

بِأَنَّ السَّعَادَةَ مَرْبُوطَةٌ بِأَمْرَيْنِ التَّعْظِيمِ لِلَّهِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِهِ

Artinya, “Bahwa seseungguhnya kebahagiaan itu terikat pada dua hal, yakni mengagungkan Allah dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, [Beirut, Darul Fikr: 2005], juz IX, halaman 286).

Lebih lanjut Abu Hayan juga menuturkan bahwa kecelakaan, kebinasaan dan kesedihan mengenai orang-orang musyrik karena mereka tidak mau mengagungkan Allah dengan menauhidkan-Nya dan menafikan sekutu bagi-Nya serta mereka tidak mau berkasih sayang terhadap makhluk-Nya dengan memberikan kebaikan bagi mereka. (Lihat Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, [Beirut, Darul Fikr: 2005], juz IX, halaman 286).

Dari penjelasan para ulama di atas kiranya dapat diambil satu pemahaman bahwa seseorang akan dapat meraih kebahagiaan yang sesungguhnya baik di dunia maupun di akhirat kelak bila ia mau melakukan dua hal yang menjadi ajaran inti agama Islam, yakni mengagungkan Allah dan mengasihi sesama makhluk-Nya.

Berbaik-baik kepada Allah saja tidak cukup. Bagaimana mungkin Allah merasa senang dengan seseorang yang berperilaku baik kepada-Nya, namun sementara itu Allah melihat makhluk ciptaan-Nya diperlakukan tidak semestinya. Dalam keadaan seperti ini tentunya bukan kebahagiaan yang akan diperoleh dari Allah, namun bisa jadi kemurkaan-Nya.

Bisa digambarkan pada diri kita, akankah kita merasa senang ketika kita begitu dihormati oleh seseorang namun di sisi lain kita melihat anak kita diperlakukan tidak baik oleh orang itu? Tentunya yang akan kita berikan kepada orang itu bukanlah rasa simpatik dan hormat, tapi justru kemarahan dan kebencian. Bukan begitu? Wallâhu a’lam.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com

BACA JUGA:  Mualaf dan Rukun-Rukun Syahadat