Craig Considine, seorang warga Amerika beragama Katolik Roma, melalui buku ini menuangkan kisah, pengalaman, dan pemahamannya dalam mempelajari sejarah Nabi Muhammad dan Islam. Setelah belasan tahun belajar, Craig menyadari banyak hal betapa selama ini apa yang ia tau tentang Islam begitu berbeda dengan kenyataannya.

Kandidat Ph.D di Jurusan Sosiologi Trinity College Dublin ini mulai mempelajari Islam sejak bertemu Profesor Akbar Ahmed dari American University di Washington DC. “Pada 2008 dan 2009, saya bepergian dengannya ke seluruh Amerika Serikat, lebih dari 100 masjid dan 75 kota, untuk memahami identitas warga Amerika melalui lensa umat Islam,” jelasnya, saat berpidato dalam acara Jalan Perdamaian Tahunan ke-4 di Islamic Centreal-Mustafa Irlandia di Blanchardstown, Dublin, pada 26 Januari 2014.

Craig mengaku, sebelum bertemu Profesor Akbar Ahmed pada 2004, ia tak tahu apa-apa tentang Islam. Ia hidup di kota Needham, yang sebagian besar terdiri atas penganut Protestan Inggris, Katolik Irlandia, dan Yahudi. Sebagai remaja, saat itu Craig mengerti Islam melalui peristiwa-peristiwa 11 September. Ketika itu, dalam bayangan banyak orang, Islam berarti Bin Laden, Al-Qaeda, dan kekerasan, seperti digambarkan media-media di Barat.

Persepsinya mengenai Islam, sontak berubah ketika bertemu Profesor Ahmed. Di hari pertama mengajar tentang “Dunia Islam”, Profesor Ahmed membacakan sebuah hadis, “Tinta sarjana lebih keramat daripada darah syuhada”. Dari sana, Craig menemukan bahwa dalam Islam, penguasaan ilmu pengetahuan dan pembelajaran lebih suci daripada menghunus pedang dan menggunakan kekerasan untuk menyerang lawan. “Pernyataan ini tidak saja mengubah cara saya berpikir tentang Islam, tetapi juga mengubah cara saya berpikir mengenai tujuan hidup,” jelasnya.

Sejak saat itu, Craig mencurahkan banyak waktu dan tenaga mempelajari dan mendalami Islam. Di tengah segala bentuk kecurigaan dan pandangan negatif terhadap Islam di Amerika dan Barat, Craig berkeinginan menggambarkan Islam dengan cara yang segar dan baru. Semua itu, jelasnya, demi membangun jembatan antara umat Islam sedunia dengan warga Amerika.

Upaya tersebut membuat Craig mendapatkan berbagai sebutan yang dialamatkan padanya. Mulai dari “kiri”, progresif, hingga liberal. Namun, sebagai seorang sarjana dan orang Kristen, namun banyak mempelajari dan menyuarakan ajaran cinta dan perdamaian Islam, Craig kerap mendapat sebutan “apologis Islam”. Bagi Craig, di tengah dunia Barat yang memandang keliru tentang Islam, jelas perlu upaya untuk mengembalikan pandangan yang sebenarnya mengenai Islam. Ketakutan, kecurigaan, dan segala bentuk Islamofobia yang berkembang di Barat harus dilawan dan diluruskan.

Oleh karena itu, Craig konsisten mempelajari dan meneliti tentang Islam, terutama mengenai kehidupan Nabi Muhammad. Berdasarkan bacaan dan pengalamannya selama belasan tahun, ia mendapati bahwa Nabi Muhammad memiliki pandangan-pandangan penting mengenai bagaimana memperlakukan warga non-Muslim. Craig menulis, gagasan-gagasan Nabi Muhammad mengenai kebebasan beragama membuat beliau menjadi juara dalam hal hak asasi manusia, terutama mengenai kebebasan beribadah dan hak minoritas untuk dilindungi pada waktu-waktu sulit (hlm 60).

BACA JUGA:  Densus 88 Amankan Seorang Pria di Pasar Sayur Caruban Madiun

Berdasarkan penelitiannya, Craig menemukan bahwa Nabi Muhammad menganut prinsip-prinsip menghargai keragaman dan mensyukurinya. Hal ini, membuatnya memiliki pandangan—dalam perspektif sebagai warga Amerika—bahwa Nabi Muhammad dan para pendiri bangsa Amerika Serikat menganut prinsip-prinsip yang sama, yakni menghargai keragaman dan menjunjung tinggi persamaan. “Lebih spesifik lagi, Nabi Muhammad dan presiden pertama Amerika Serikat George Washington memiliki semangat sama, khususnya terkait perlakuan terhadap kaum minoritas keagamaan,” jelas Craig.

Di salah satu pembahasan, Craig bahkan mengkritisi Presiden Amerika Serikat saat ini dan memaparkan hal-hal yang bisa dipelajari Donald Trump dan para pendukungnya dari pemimpin Islam. Di tengah berbagai pernyataan Trump yang menyudutkan Muslim seperti melarang imigrasi Muslim, menutup masjid-masjid, memata-matai orang Islam, dan berbagai hal yang menguatkan Islamofobia di Amerika Serikat, Craig menunjukkan hal sebaliknya. “Umat Islam memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada Amerika serikat. Peradaban Islam, memiliki sejarah keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan yang kaya,” tegasnya (hlm 126).

Craig menggambarkannya lewat berbagai catatan sejarah. Mulai Piagam Madinah, yang menjadi dokumen hukum pertama dalam sejarah untuk melindungi hak asasi manusia, khotbah terakhir Nabi Muhammad di Gunung Arafah pada 632 M yang menegaskan pentingnya kesetaraan manusia tanpa memandang perbedaan warna kulit, etnis, dan suku, juga ucapan para pemimpin Muslim seperti Khalifah Umar yang mencerminkan ajaran cinta Nabi. Craig menilai, Nabi Muhammad merupakan sosok anti-rasis yang mempromosikan egalitarianisme. Dan ini berbeda sekali dengan apa yang ditunjukkan pemimpin Amerika saat ini.

Apa yang dituangkan Craig Considine dalam buku ini menjadi hal penting untuk dihadirkan, terlebih di dunia Barat. Sebagai seorang Katolik, penelaahannya tentang Islam dan Nabi Muhammad, serta ajaran kasih sayang, keadilan, kesetaraan, dan perdamaian yang didapatkannya dari penelitiannya tersebut menjadi sangat berharga di tengah masyarakat yang dipenuhi provokasi, kecurigaan, dan kebencian. Jika itu semua adalah racun yang merusak perdamaian dan persaudaraan antar manusia, maka tulisan-tulisan Craig ini ibarat obat penawarnya.

Judul               : Muhammad Nabi Cinta

Penulis             : Craig Considine

Penerbit           : Noura Books

Tahun              : Cetakan 1, 2018

Tebal               : 184 halaman

ISBN               : 978-602-385-538-4

*Peresensi    : Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati.


Sumber : harakatuna.com