Adil adalah sifat Allah swt. Keadilan adalah sebuah istilah yang menyeluruh, termasuk segala sifat hati yang bersih dan jujur. “Manusia yang jujur adalah orang yang memiliki keteguhan hati dan mempertahankan kebaikan.” (George Washington).

Agama menuntut yang lebih hangat dan lebih manusiawi, meskipun tidak diharuskan secara ketat oleh keadilan, seperti membantu mereka yang tak mempunyai suatu tuntutan kepada kita. “Keadilan adalah kebenaran dalam perbuatan,” kata Disraeli.

Amanat ialah sesuatu yang dipercayakan kepada pihak lain untuk digunakan sesuai dengan keinginannya. Jabatan, harta milik, barang, rencana, ilmu pengetahuan, dan bakat, serta kesempatan adalah amanat Allah swt untuk kemanfaatan dan kemaslahatan sesama. Jabatan dan lain-lain menambah kemegahan, kekuasaan, dan pengaruh seseorang, tetapi juga godaan yang dapat menjadi sumber segala kemerosotan rohani.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran (ditulis maknanya), Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 4:58).

Kekuasaan adalah amanat, bukan kehormatan. Demikian pesan Umar bin Khathab. Kekuasaan dan jabatan apa pun tidak boleh disalahgunakan.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun terhadap dirimu sendiri, terhadap orangtuamu dan kaum kerabatmu. Jika orang yang terdakwa kaya atau miskin, Allah lebih tahu kemaslahatannya. Jangan ikuti hawa nafsu, karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan atau menyimpang dari keadilan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 4:135).

Bila seseorang dipercaya memutuskan perkara hendaklah berlaku adil dan bijaksana. “Kewajiban masyarakat yang utama adalah berbuat keadilan,” tutur Alexander Hamilton. Siapa yang mematuhi perintah Allah swt, niscaya Dia memberikan kekuatan untuk membedakan antara benar dan salah.

Allah swt memerintahkan memutus perkara dengan adil dan tidak membela pengkhianat. Untuk menegakkan keadilan orang harus menjadi saksi demi Allah, sekalipun itu akan mengganggu kepentingan kita atau mereka yang dekat kepada kita. “Keadilan harus berjalan sekalipun langit akan runtuh.” (Pepatah Latin).

Keadilan Islam lebih tinggi daripada keadilan formal yang mana pun yang dibuat manusia. Ia menembus sampai ke lubuk perasaan yang paling dalam, karena kita melakukannya seolah kita berada di hadapan Allah Yang Mengetahui segala benda, segala kerja dan gerak hati.

Ada sebagian orang yang cenderung mau mendukung pihak yang kaya, karena mengharapkan sesuatu dari pihaknya. Ada pula yang cenderung mau membantu pihak yang miskin, karena umumnya mereka orang yang tak berdaya. Sikap memihak ke mana pun tidak benar. Baik yang kaya atau yang miskin keduanya di bawah lindungan Allah.

BACA JUGA:  Pesan Allah Saat Menurunkan Nabi Adam Ke Bumi

Allah swt memerintahkan segenap hamba-Nya untuk berlaku adil, menghindari segala kemungkaran dan kefasikan terhadap hukum Allah swt atau terhadap kesadaran batin kita sendiri. J. Scheffer mengingatkan, “Manusia adalah makhluk paling menakjubkan, karena bisa memilih untuk menjadi ‘malaikat’ atau menjadi ‘setan’.”

Allah memerintahkan berlaku adil, mengerjakan kebajikan, bermurah hati kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, mungkar dan kekejaman. Dia mengajarkan kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS 16:90).

Orang yang dalam kebenaran dihadapkan pada segala macam cara tipu muslihat yang dilakukan dengan begitu halus. Orang jahat berusaha menarik simpati untuk menipunya dan merusak keadilan. Muslim harus selalu waspada dan berhati-hati dari segala tipu muslihat serta memberikan kekuatan batin dalam menjalankan keadilan.

Berlaku adil dan berbuat baik dalam suasana netral sungguh patut dipuji, namun kita akan benar-benar diuji untuk berlaku adil terhadap orang yang membenci kita atau orang yang tidak kita sukai. Kita dituntut mempunyai kesadaran moral yang lebih tinggi.

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak kebenaran dan keadilan, menjadi saksi karena Allah, dan janganlah kebencian orang kepadamu membuat kamu berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 5:8).

Sikap memihak ke mana pun tidak benar. Sekalipun orang tak beriman, ia harus diperlakukan dengan baik dan adil, seperti dicontohkan Rasulullah saw. Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berlaku adil. (QS 60:8).

Allah hanya melarang berbuat baik kepada mereka yang memerangi orang beriman karena agama. Jika terjadi pertikaian antara dua orang beriman, menjadi kewajiban orang beriman yang lain untuk melakukan islah antara mereka, agar hubungan harmonis tetap terjalin.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS 49:10).

Damaikanlah orang beriman dan berlaku adillah kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dalam segala urusan. “Marilah kita percaya bahwa keadilan menciptakan kekuatan, dan dengan kepercayaan itu marilah kita berani menjalankan kewajiban kita sampai akhir zaman.” (Abraham Lincoln).

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com