Tak bisa dipungkiri bahwa dekadensi generasi ke generasi adalah sebuah keniscayaan, terlebih generasi milenial sekarang ini. Karakteristik mereka sungguh berbeda jauh dengan generasi zaman kolonial. Keras dan tidaknya tuntutan zamannampaknya memberikan efek pada pembentukan karakter tiap generasinya.  Generasi sebelum milenial dikenal sebagai generasi berkarakter kuat dan tahan banting. Sementara generasi milenial saat ini sangat mengalami krisis karakter dan identitas semenjak kanak-kanak.

Masa kanak-kanak merupakan fase meniru. Tingkah laku yang mereka lakukan banyak dipengaruhi oleh orang-orang sekitar. Anak-anak tak pernah mempedulikan baik buruk yang mereka tiru karena mereka belum paham, mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Ketika anak bersalah, sebenarnya mereka tidak melakukan kesalahan karena apa yang mereka lihat adalah apa yang mereka tiru. Menyalahkan anak tanpa memberi tuntunan yang baik kepada mereka adalah suatu hal yang kurang bijak.

 Dekadensi moral yang terjadi pada anak-anak di zaman milenial ini bukanlah kesalahan mereka. Realita di lapangan cukup memberikan gambaran kepada generasi tua, betapa berbedanya generasi milenial dengan generasi sebelumnya. Memang diakui jika generasi milenial sekarang ini lumayan susah diatur, krisis sopan santun kepada yang lebih tua, dan yang paling memprihatinkan adalah krisis adat dan budaya sendiri. Banyak anak yang berasal dari keturunan Jawa, hari ini mereka asing dengan bahasa rumah sendiri. Lagi-lagi, anak tidak bersalah dalam kasus seperti ini. Tuntunan orang tualah yang perlu dikoreksi lagi.

Krisis identitas yang terjadi pada anak menjadi tanggung jawab bersama bukan personal. Orang tua dan guru harus kompak bekerjasama dalam mengentaskan masalah ini. Ketika di lapangan dijumpai banyak anak tidak nurut sama orang tua, sering membantah nasehat guru, memperlakukan guru layaknya teman, ini bukanlah anak yang tidak tau sopan santun tapi memang tuntunan yang mereka kantongi kurang. Menghakimi anak secara sepihak memang mudah apalagi menyalahkan. Lantas untuk memperbaiki sikap anak yang demikian apakah teori saja cukup? Tidak, karena yang paling penting adalah action.

Sebagai keturunan Jawa asli, saya sungguh prihatin menyaksikan anak-anak Jawa sekarang tidak bisa berbicara dengan Bahasa Jawa Krama (Bahasa Jawa halus) dengan baik. Padahal Bahasa Jawa Krama menjadi kunci unggah-ungguh orang Jawa dalam berinteraksi dengan yang lebih tua. Wajar saja jika anak zaman sekarang terkesan kurang sopan karena budaya yang menjadi identitas sedikit demi sedikit luntur dengan sendirinya. Usut punya usut, ternyata tidak sedikit orang tua yang menanamkan dialog berbahasa Indonesia kepada anak semenjak dini. Tidaklah patut orang tua menuntut anak harus bisa Bahasa Jawa sementara tidak ada tuntunan sama sekali untuk itu.

BACA JUGA:  Ma’ruf Amin dan Masyarakat Madura yang Lupa Gurunya

Anak tidak butuh banyak teori. Yang mereka butuhkan adalah teori yang disertai action. Percuma saja melarang anak ini dan itu, menyalahkan anak ketika berbuat keliru, jika action yang mereka terima adalah nol. Teori akan mudah mereka terima jika actoin yang mereka dapat pun setara karena pada dasarnya mereka pasti berontak jika apa yang mereka terima tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat. Sekali lagi karena fase mereka adalah fase meniru. Untuk itu, sudah seharusnya berhati-hati ketika berhadapan dengan anak-anak. Statement yang dikasihkan kepada mereka bisa saja berbalik menjadi bomerang jika saja bertindak gegabah di depan mereka.

Di antara wasiat Abah Guru Sekumpul, ulama kharismatik dari Kalimantan, disebutkan bahwa anak kecil itu seperti wali (tidak pernah berbuat dosa). Apapun yang anak kecil lakukan tidaklah salah. Peran orang tua dalam memberikan tuntunan yang baik bisa jadi kurang maksimal sehingga pesan yang tersampaikan ke anak pun tidak tersalurkan dengan baik. Wasiat selanjutnya Abah Guru Sekumpul adalah larangan memuji anak dengan pujian yang berlebihan, karena yang demikian itu bisamengantarkan anak menjadi pribadi yang sombong.

Bersikap tengah-tengah kepada anak mungkin adalah cara bijak untuk menanamkan karakter positiif pada mereka. Terlalu memanjakan anak berimbas pada munculnya sikap manja. Terlalu keras pada anak juga memberikan efek negatif pada mereka. Mental anak jadi ciut, gampang tersinggung dan menjadi pribadi yang tertutup. Maka dari itu, setiap orang tua hendaknya paham betul porsi dalam bersikap kepada anak. Paham kapan harus memanjakan anak dan kapan harus bersikap tegas kepada anak. Tidak stagnan pada satu sikap.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com