Indonesia negeri yang penuh dengan berkah dari Allah SWT, kelimpahan yang ada dari alam, adat istiadat, bahasa, suku, maupun kearifan lokal di setiap daerahnya. Tapi, belakangan kita kurang mensyukuri atas anugerah yang ada, terlihat bagaimana kita masih mengkotak-kotakkan sesuatu perbedaan yang selama ini ada. Pertengkaran yang terjadi mengindikasikan bahwa kita kurang beryukur atas keragaman yang ada di bangsa kita.

Perdebatan yang tak pernah ada habisnya, walaupun hal seperti itu sangat lumrah. Akan tetapi, arah dari perdebatan tersebut mengganggu kebersamaan kita yang terkadang mengarah ke berbagai hal yang berifat SARA. Sikap saling mencaci maki, ujaran kebencian dan prasangka masih tertimbun di keseharian kita. Di tambah dengan berbagai persebaran arus informasi yang semakin liar telah merusak nalar kritis kita sebagai manusia yang berfikir, hal ini sangat tidak sehat bagi iklim demokrasi kita yang dikenal beragam.

Jika selalu berseteru, negara kita akan sulit untuk maju dan berkembang. Kita hanya berkutat pada permasalahan perbedaan yang sejatinya sudah final ketika pendiri bangsa ini seperti Bung Karno katakan bahwa “Bangsa ini didirkan bukan untuk individu, kelompok tertentu. bukan milik agama tertentu, bukan juga milik adat tertentu, akan tetapi milik semua buat kita semua !. Dari Sabang sampai Merauke dari pulau Miangas hingga pulau Rote. 

Kita masih kurang dalam menghayati perjuangan pahlawan yang rela bersimbah darah untuk memperjuangkan kemerdekaan. Kenikmatan dan kenyamaan telah melenakan kita akan penghayatan terhadap segala perjuangan yang lalu.. Seperti budaya gotong royong, kita semakin pudar dari wajah keseharian kita. Lalu, bagaimana kita bangsa kita bisa bersatu maju bersama, kalau budaya gotong royong kita hilang ?

Apa kita harus selalu ribut adu caci maki tanpa solusi, adu argumen tanpa penyelesaian bersama. Sejatinya kekuatan kita berasal dari budaya gotong royong yang memunculkan segala segmen yang dibutuhkan untuk mempererat antar sesama. Soekarno secara gamblang dalam pidatonya mengatakan bahwa kekuatan terbesar bangsa kita melalui asas gotong royong, “pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu membantu bersama, amal semua buat kepentingan semua” (Adams, 1965).

Merawat keragaman tak hanya dalam level ketika dewasa, sejatinya proses pengenalan yang melekat lebih lama ada ketika sejak dini anak diperkenalkan dengan lingkungan yang beragam disekitar. Sekolah sebagai lembaga yang seharusnya selain digunakan untuk belajar teks-konteks juga sebagai penguatan jatidiri negara kita dalam mengedepankan keragaman. 

Ruang-ruang pembelajaran menjadi wahana pembiasaan dalam memberikan dasar dalam pengenalan keberagaman. Dialog menjadi kunci dasar dalam proses pembiasaan dalam pemecahan masalah, pembiasaan dalam dialog dengan yang berbeda antar siswa akan terbiasa dalam menerima perbedaan pandangan, ide, pikiran, sifat dan gagasan. Selain itu wahana dialog juga sebagai suatu proses dalam pendidikan untuk melumerkan segala asas prasangka yang ada dalam masyarakat (Banks, 1993). 

Dalam proses dialog, akan tercipta suasana antar siswa untuk saling menghargai dan memiliki dari perbedaan argumentasi setiap siswa. Selain itu, melalui dialog antar siswa tadi akan memunculkan sebuah gagasan baru yang terbuka dan diterima oleh kalangan lain. Karena sudah menjadi kumpulan dari berbagai pikiran yang tergabung dalam satu ide dan gagasan. Perlakuan dalam laku contoh seperti ini merupakan salah satu pengenalan sejak dini tentang pentingnya menghagai suatu perbedaan.

Secara alami, perbedaan itu bukan suatu peristiwa yang harus  kita lunturkan dalam satu dimensi kesamaan, hal ini tidak akan terjadi. Apalagi sampai mengharuskan untuk setiap isi otak manusia harus sama dengan apa yang ada dalam isi otak kita. Melalui pembelajaran seperti dialoglah, siswa akan terbiasa dengan keberagaman dan bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Membiasakan berdialog dengan yang berbeda dengan kita sangat bagus untuk proses dari demokratisasi itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui bersama, bangsa kita terbentuk sebagai bangsa yang mempunyai demokrasi tinggi. Sehingga, sentimen-sentimen agama, suku dan perbedaan politik ini akan menjadi batu penghalang dari proses pemersatuan kita selama ini.

Selain itu, pembiasaan berbaur dengan komunitas berbeda akan memperkaya perspektif dalam memadang kehidupan. Dengan saling mengenal lebih dekat, orang akan menghapus rasa curiga. Kita bisa secara cepat mengonfirmasi mengenai streotif dan prasangka. Komunikasi yang terjalin antara pihak berbeda akan mengikis prasangka buruk yang selama ini dirawat.

Membaur dan menjadikan jaringan komunikasi dengan kalangan yang berbeda dalam agama, budaya dan sosial-ekonomi sejak dini bukan suatu hal yang sulit di keseharian kita. Akan tetapi efek yang timbul terhadap masa depan kita sebagai bangsa Indonesia begitu luar biasa. Di sini kita harus memahami bersama bahwa kita terlahir berbeda antar sesama tapi kita dilahirkan di Indonesia bangsa yang sama, tanah yang sama, air yang sama dan hidup di negeri yang sama. Sudah seharusnya juga kita merawat secara bersama keberkahan yang telah diberikan kepada kita oleh Allah swt..

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com

BACA JUGA:  Keadilan Sosial Bagi Perempuan Menuju Pembangunan Negara