Tuhan menciptakan semista beragam. Ada sisi positif dan ada sisi negatif. Dua sisi yang berlawanan jelas memiliki pandangan yang berpeda, sekalipun semangatnya sama.

Perbedaan mencipta keindahan. Dua sisi yang berlawanan akan membingkai warna yang indah saat dipertemukan, dipersatukan, dan dikawinkan. Pria jelas berbeda dengan wanita. Mempertemukan pria dan wanita akan melahirkan cinta yang berbalut cahaya. Pelit pun dalam pemisalan yang lain disepakati berbeda dibandingkan dengan boros. Mempertemukan pelit dan boros menciptakan sikap kedermawanan. Begitu pula seterusnya.

Dalam persoalan keyakinan, manusia menganut agama yang berbeda. Ada yang mimilih Islam. Ada yang memeluk Nashrani. Ada juga yang menganut Yahudi. Dan seterusnya. Tiga agama ini konon disebut sebagai agama semitik, agama yang diturunkan dari langit. Tiga agama ini pula dibawa oleh seorang nabi Ibrahim. Pada sisi yang lain, agama ini memiliki syariat atau tatacara ibadah yang berbeda, walau semangat ketauhidannya sama tanpa terkecuali.

Perbedaan ini sering kali menyulut perseteruan antar sesama. Mereka cenderung fanatis dan gampang mengkafirkan kelompok lain, sehingga kesan perbedaan ini bukanlah menghadirkan rahmat, namun membawa petaka. Padahal, disebutkan dalam sebuah adagium: “Al-Ikhtilaf rahmah” (perbedaan itu menghadikan kasih sayang).

Tidak benar siapapun menolak perbedaan. Karena, dia pada hakikatnya terlahir dari pertemuan dua dimensi yang berbeda: sperma laki-laki dan ovum perempuan. Bahkan, penciptaan pria dan wanita adalah cara Tuhan mengajarkan perbedaan kepada makhluknya. Demikian pula pergantian malam dan siang, terbentangnya langit dan bumi, dan perbedaan barat dan timur.

Kilasan perbedaan tersebut membawa kesan positif bagi orang yang memegangnya dan menghias keindahan di mata orang yang melihatnya. Hanya orang yang tertutup pikirannya yang tidak terbuka menerima perbedaan. Perbedaan, baginya, adalah petaka yang dapat memporak-poranda anutan dan pemahamannya. Sejatinya, bila ditelusuri ada beberapa hal yang mengantarkan orang antipati pada perbedaan. Pertama, kurang membaca. Malas membaca, apalagi merasa tahu, adalah tanda bahwa dia itu bodoh atau tidak tahu. Orang gemar membaca atau yang disebut dengan “kutu buku” selalu menganggap dirinya bodoh dan belum tahu banyak hak, sehingga semangat “keingintahuannya” mampu mengalahkan semangat “merasa tahu”. Orang yang kurang baca akan dipenjara dengan kebodohan sehingga perbedaan sebagai kebenaran dan keniscayaan secara membuta ditolak, disingkirkan, dan disesatkan. Padahal, dia sendiri yang tersesat dalam kebodohannya.

BACA JUGA:  Menjaga Lisan Dari Hoak dan Dusta

Kedua, tekstulis dalam memahami teks. Teks adalah simbol tertulis yang dibuat setelah ide atau gagasan bertandang dalam pikiran. Disadari atau tidak, teks itu terbatas, sementara ide atau imajinasi memiliki cakupan yang luas. Keterbatasan teks sebenarnya tidak mampu memediasi gagasan atau ide yang luas. Maka, diperlukan untuk memahami keluasan ide dengan keterbukaan membaca makna di balik teks. Karena, makna itu memiliki medan yang luas dibanding teks itu sendiri.

Ketiga, selalu berprasangka negatif terhadap perbedaan. Seakan perbedaan itu kesalahan, sementara yang benar hanya apa yang diyakini sendiri. Padahal, kebenaran itu beragam, tidak hanya satu. Semisal, beragamnya penjumlahan “berapa” ditambah “berapa” untuk mencapai angka “sepuluh”. Bisa jadi disebutkan, lima ditambah lima. Bisa jadi juga enam ditambah empat. Dan seterusnya. ¬†Andai kita bisa memahami analog penjumlahan ini mungkin akan disadarkan bahwa kebenaran itu beragam.

Oleh sebab itu, perlu ditanamkan budaya membaca, keterbukaan pimikiran, dan cara berpikir positif. Sebab, tiga hal ini sangat menentukan masa depan seseorang: fanatiskah atau open mind-kah?[] Shallallah ala Muhammad!

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com