Al-Quran adalah petunjuk dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Salah satu karakter Al-Quran ialah cocok untuk segala ruang dan waktu. Al-Quran memiliki fleksibilitas menembus sekat-sekat geografis, sosiologis, antropologis, dan kultural umat manusia. Salah satu kekuatan Islam yang tak tersangkal terletak pada familiaritasnya dengan segala budaya yang ma’ruf dari setiap agama dan bangsa-bangsa di dunia.

Fleksibel mengandung makna luwes, supel, dan adaptif. Perjalanan Islam sepanjang sejarah menyebar dari jazirah Arab ke seluruh penjuru dunia membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. Islam datang memperbarui peradaban dan membawa peradaban yang berkemajuan. Dengan demikian setiap muslim niscaya luwes, supel, dan adaptif di setiap ruang dan waktu dalam segala aspek kehidupan dalam arti yang sebenarnya.

Islam mengajarkan sikap hidup menengah dan berimbang, yakni tidak condong dan ekstrem ke kanan maupun ke kiri. Allah swt pun memberikan predikat kepada umat Islam sebagai umat pertengahan dalam firman-Nya (ditulis artinya),

Demikianlah Kami jadikan kamu suatu umat yang berimbang supaya kamu menjadi saksi atas segenap bangsa, dan Rasul pun menjadi saksi atas kamu. Kami jadikan Kiblat yang sekarang hanyalah untuk menguji siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Sungguh pemindahan kiblat itu suatu soal yang berat kecuali bagi mereka yang telah mendapat petunjuk Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Lembut lagi Maha Penyayang kepada manusia.(Al-Baqarah/2:143)

Inti ajaran Islam sebagai agama yang wajar, natural, dan praktis ialah menghindari segala yang berlebihan dalam kehidupan. Islam mengajarkan tentang keseimbangan hidup antara orientasi dunia-akhirat, menengah dalam makan-minum, dan wajar dalam membelanjakan harta. Allah swt berfirman dalam Al-Quran,

Bahwa Qarun adalah salah seorang dari kaum Musa, tetapi ia bertindak sewenang-wenang terhadap mereka, dan Kami berikan kepadanya sebagian perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya membuat bungkuk orang yang kuat-kuat. Perhatikan ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu pongah, sungguh Allah tidak menyukai orang yang pongah karena kekayaan.” Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kehidupan akhirat, dan janganlah lupa bagianmu di dunia ini; dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu mencari kesempatan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”(Al-Qashash/28:76-77)

BACA JUGA:  Mahfud Sebut Para Penyebar Hoaks Bagian dari Iblis

Muslim menafkahkan harta untuk sedekah dan amal kebaikan di jalan Allah. Sungguhpun demikian ia tidak melupakan keperluan yang sah dalam hidupnya.

Berikanlah kepada kerabat haknya, juga orang miskin dan orang dalam perjalanan, tetapi jangan boroskan hartamu dengan berlebihan. Sungguh, para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.(Al-Isra`/17:26-27)

Muslim tidak kikir dan tidak pula terlalu boros dalam membelanjakan harta. Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu ke lehermu dan janganlah kamu ulurkan lepas sehingga kamu duduk terdiam, menjadi tercela, dan menyesal. (Al-Isra`/17:29)

Dalam berpakaian, makan dan minum pun muslim tidak berlebih-lebihan.

Hai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada waktu memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan. (Al-A’faf/7:31)

Pakaian yang bagus menambah keanggunan, kerapihan, dan kebersihan, lebih-lebih ketika hendak menghadap Allah swt dalam shalat. Laki-laki tidak mengenakan kain sutera atau perhiasan yang hanya pantas untuk perempuan. Rasulullah saw bersabda, “Di antara penghuni neraka ialah wanita-wanita yang berpakaian [tetapi pada hakikatnya] mereka telanjang, gemar menggiurkan, dan memikat [lelaki]. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Wanita muslimah tidak memperlihatkan hiasan dan/atau kecantikannya, kecuali yang biasa tampak sehari-hari, yaitu wajah dan dua telapak tangan. Allah swt bukan menyulitkan muslim, tetapi hendak membuat muslim bersih dan menyempurnakan karunia-Nya kepadanya. (Al-Maidah/5:6).

Dari segi bentuk, pakaian perempuan tidak menyamai atau menyerupai pakaian laki-laki. Tidak ketat tetapi juga tidak terlalu longgar sehingga mengganggu pergerakan, misalnya mengenakan kerudung hingga menutup seluruh tubuh. Berpakaian wajar sebagaimana ketika muslimah melaksanakan thawaf. Laki-laki dianjurkan mengenakan sarung atau celana panjang sedikit di atas mata kaki dan tidak terlalu tinggi hingga mendekati lutut.

Muslim niscaya berperikehidupan yang terhormat dan mulia. Berserah diri hanya kepada Allah swt, membedakan antara yang hak dan batil, menjadi contoh dalam melakukan kebaikan dan menjauhi kebatilan serta menghindari sikap merasa paling saleh dan paling syar’i dalam berperikehidupan.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com