Serang pemuda terngiang nasihat orangtuanya, “Bagaimanapun juga, orangtua adalah prioritas utama dari apapun prioritas yang kamu punya!”

Tersebutlah seorang Pemuda X sukses dikehidupan yang serba matrialistik ini; ia berhasil menjadi kaya raya. Ia serba berkecukupan. Ingin makan tinggal bilang. Ingin berkendara tinggal pakai. Ingin mandi sudah ada yang menyiapkan. Ingin apapun tinggal bilang. Benar-benar suatu pandangan yang kontras dari kehidupan orang-orang miskin.

Kehidupan orang miskin adalah kehidupan yang (sama-sama) ‘tinggal bilang’ tapi perlu membilang-bilangkan kerja keras (memeras keringat). Pemuda X yang setiap harinya dielu-elukan. Kini hanya bisa mengeluh dan ngeluh. Dulu, ia memang kaya raya. Kini, tak sedikitpun orang meliriknya. Ia meringkuk sendirian. Tanpa teman. Tanpa ucapan. Dan, ‘tanpa kebohongan’.

Setelah ditelusuri lebih mendalam. Pemuda X itu, ternyata, seorang yang sangat memprioritaskan orangtuanya. Ia pernah berjanji, sampai akhir hayatnya, ia akan bersikekeh untuk tak melakukan ‘kebohongan besar’. Dan, orangtuanya sudah mewanti-wanti itu semua.

Filsafat Korupsi

Ternyata, budaya untuk tak melakukan kebohongan itu ditanamkan oleh orangtuanya sendiri. Orangtuanya, dengan kedalaman ilmu (pengalaman) menyarankan supaya ‘lebih baik jujur, daripada ajur’.

Lalu sebenarnya, apa yang disembunyikan pemuda X itu?

Benar sekali, sesuai dengan apa yang dibayangkan; ia melakukan korupsi secara terang-terangan bin besar-besaran. Mungkin semacam korupsi yang ‘betulan’ itu, yang ‘kebetulan’ ketahuan.

Mungkin Pemuda X itu memakai diktum filsafat korupsi yang terkenal ampuhnya, sehingga ia sulit untuk ditangkap. Filsafat korupsi yang dipakainya yaitu, ‘Jika mau melakukan korupsi, jangan kecil-kecilan. Itu justru merugikan negara’. Selain itu, ada juga, ‘Jika hendak korupsi, jangan sendirian. Harus berjamaah. Harus rapatkan shaf (barisan)’.

Waktu itu, ketika ditanya oleh koleganya yang bermoral tinggi, ia mengatakan bahwa ‘uang nguntitnya’ selama bekerja di salah satu dinas adalah tidak haram, alias halal.

“Bagaimanpun juga, uang itu adalah halal,” ucap pemuda itu.

BACA JUGA:  Moderasi Islam di Era Kontemporer, Pentingkah?

Awalnya, koleganya yang bermoral itu bagai disambar petir di siang bolong. Namun, akhirnya, koleganya itu diberi arahan oleh Pemuda X. Setelah diberi arahan, akhirnya ia mengamini juga ‘hukum kehalalan korupsi’ yang dirumuskan oleh Pemuda X itu.

Orangtua Pemuda X itu sangat bergembira ketika nasihatnya didengar anaknya.

Pemuda X itu mengatakan, “Seperti kata ayah dan ibu, bahwa orangtua adalah prioritas. Makannya, uang ini aku kasihkan ke ayah ibu terlebih dahulu. Baru nanti kolega-kolegaku”.

Angin yang semerimbit menyisir-nyisir rambut tiba-tiba berhenti begitu saja tanpa komando. Udara begitu pengap. Isi otak bergerak-gerak terasa ingin muntah. Tapi mulut serasa terkunci. Hendak mengatakan ‘kebenaran’, namun mengatakan ‘kebenaran’ yang mana?

Karena proses itu ‘korupsi’ adalah sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘memprioritaskan orang tua’ juga sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘jujur’ juga sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘berbagi’ juga sebuah ‘kebenaran’. Sungguh, hanya keambiguan yang ada.

Sungguh tak disangka. Takdir seseorang memang tak ada yang tahu. Tak ada yang memberitahu. Dan kalau ada yang tahu, pasti hanya ‘sok tahu’.

Anak yang dilahirkan susah payah ini bertumbuh besar (Pemuda X). Sangat besar. Kebesarannya tak tertandingi. Banyak orang berdecak kagum karena perilakunya yang ‘sangat jujur’ kepada siapapun. Temasuk jujur kepada kepolisian yang kebetulan menangani kasusnya. Kepada KPK yang ikut ambil bagian dalam kasusnya. Dan, kepada kejaksaan yang wajib ambil bagian dalam kasusnya.

Memang, orang harus saling jujur. Apalagi saling tolong menolong dalam ‘kebiakan untuk kebersamaan’.

Akhirnya, di suatu malam yang dingin. Pemuda X itu menuliskan mantra-mantranya. Mantra yang dipercayainya selama ini. Mantra yang membuat ia sadar. Mantra yang membuat ia menguasai segalanya. Mantra yang juga membuat dirinya jatuh dalam kubungan keambiguan. Ia sadar, semakin hari ingatannya semakin tak baik saja.

Di balik jeruji besi, ia menuliskan kata itu dengan penuh perasaan; ‘Urip iku sawang sinawang’.


Sumber : harakatuna.com