Inna Rahmat Allah Qariib min al muhsinin (Qs 7:56)

“Sesungguhnya Kasih Sayang Allah sangatlah dekat dengan orang-orang yang (berbuat) baik.”

Masih saja dalam konteks kebaikan, saking universalnya “kebaikan” maka berlaku bagi siapapun untuk memahami kemudian mengerjakan ke(baik)an. Di dalam al Quran terdapat beberapa kalimat yang mengiterpretasikan kebaikan secara global. Khair, ma’ruf, Khasan, shalih atau ihsan, secara terminology kebahasaan. Dengan patokan makna yang sama namun memiliki ruang yang berbeda. Pemilihan kata untuk menunjukkan satu kondisi adalah alasannya.

Dengan demikian peranan setiap kalimat atau ayat memiliki ruang masing-masing, walaupun memiliki makna yang sama atau hampir sama. Sehingga penggunaan ayat atau kalimat akan tepat pada tempatnya. Tidak sembrono asal ada kata baik kemudian dicampur aduk. Kalau berpegang teguh terhadap konteks tafsir al ahkam sepatutnya menyesuaikan. Tetapi kalau pertimbangannya adalah konteks makna maka akan berbeda pula.

Hal inilah yang kemudian menjadikan tafsir memihak kepada aspek kebaikan bersama. Musyawarah kalau dalam konteks sosial, hasilnya adalah mufakat. Hal ini yang kemudian disebut dengan sublimasi hukum. Kehidupan ini memiliki sisi kausalitas, di mana manusia memiliki keeratan terhadap apa-apa yang ada di sekelilingnya. Disadari atau tidak, memang begitu adanya. Sehingga benar kalau rahmat atau kasih sayang Tuhan sangatlah dekat kepada mereka yang berbuat baik. Objeknya bermacam-macam, yang jelas aktivitasnya adalah kebaikan.

Tuhan memberi warning yang ketat sebenarnya, maka jangan berbuat kerusakan (akibat kebodohannya) di atas bumi, apalagi setelah Aku memperbaiki segala keadaannya. Kalau konteks kerusakan ini adalah aktifitas fisik, maka mengapa Tuhan meminta Nabi untuk membaca? Padahal pengetahuan dan proses membaca sangatlah erat. Karena konteks kerusakan sendiri sangatlah beragam, maka perlu adanya respon terhadap sumber kerusakaannya. Kalau tolak ukurnya adalah kepintaran maka kurang pintar bagaimana mereka para koruptor? Kurang cerdas seperti apalagi mereka para penguras sumber daya alam? Semakin dikejar maka kebodohan ini dalam konteks apa? Serta pengetahuan yang dimaksud seperti apa?

BACA JUGA:  NKRI Menolak Radikalisme, Titik!

Jika merujuk kepada proses di mana hati Rasulullah dikeluarkan kemudian dibasuh dari kecenderungan bermaksiat, kemudian diberi pengetahuan akan kecenderungan kepada Tuhan (iman) dan kemudian ditaruh di dalam dadanya kembali (tafsir surat Assarh ayat:1) Tafsir Fahrurazi Mafatihul Ghaib. Maka ada proses perincian pengetahuan, pengetahuan paling purna, yakni meta-etika sciens atau pengetahuan luhur yakni akal budi. Boleh memiliki pengetahuan tetapi tidak melupakan perihal keimanan. Keimanan yang dimaksud adalah proses pendayagunaan kebaikan. Karena barang siapa baik kepada siapapun maka begitu juga Tuhan kepadaNya.

Dengan demikian kebodohan dan pengetahuan akan memiliki ruang yang luas ketika dipahami satu persatu dengan sangat perinci. Orang dikatakan merusak ketika ia tidak mampu mendayagunakan akal budinya. Orang dikatakan berpengetahuan luhur ketika ia memiliki meta-etika dalam komunikasi dan menjalani proses kehidupannya. Dalam hal ini rahmat atau kebaikan akan pula mendekati kebaikannya pula. Simbol kausalitasnya adalah ia akan menikmati harumnya bunga yang ia tanam saat ia memahami dan menikmati proses perawatannya. Pun begitu jika ia menanam padi dan merawatnya dengan baik maka ia akan menikmati panen raya, dan tidak segan memberikan sedikit hasil panennya kepada para fakir sebagai bentuk rasa syukurnya.

Oleh: Ahmad Dahri

Pojok Rukmah, 2018


Sumber : harakatuna.com