Ditengah kondisi tahun politik seperti sekarang, kita semakin mudah menemukan berbagai macam nuansa yang setiap masuk tahun politik berkumandang. Perihal demi merebut suara konstituen atau masyarakat yang diharapkan bisa mewakilkan dari kubu yang saling berkampanye. Kondisi yang bising dengan kegaduhan yang senantiasa terjadi di dalam hidup kita belakangan ini, suara perselisihan lebih kuat dibandingkan dengan suara pemihakan kepada hak rakyat. Sibuk dengan saling lempar narasi yang terkadang terjebak pada hal yang nir substansi.

Kita kemanakan watak santun negara kita ? Kuasa dalam hal mengendalikan jemari tak terkontrol lagi, melihat begitu mudahnya setiap pribadi memuaskan nafsu amarah dalam perselihan pandangan politik. Dahulu, mulutmu merupakan harimaumu, sekarang ditambah dengan setiap arah gerak tulisan dari jemari kita bisa menjadi harimau yang setiap saat bisa menimpa siapa saja.

Seperti itulah kondisi berbeda kita yang tak ramah, mungkin kita menginginkan sikap berbeda yang dicontohkan para pendiri kita hadir ditengah elite kita hari ini. Namun, kini kita mengalami degradasi moral meluncur bebas, menggerus setiap lini bukan hanya lapisan masyarakat, juga para elite kita itu sendiri. Diperlukan sebuah langkah yang pelan tapi pasti, menindaklanjuti bagaimana sekarang banyak yang di-bui karena ulah jemari sendiri. Menghina, mencaci, memberikan label buruk kepada lawan politik, awal mula kita mempertentangkan semua yang berbeda.

Padahal, sejatinya berbeda itu sebuah investasi yang mungkin akan memperdalam sengkarut setiap permasalahan hingga menjadi sebuah gagasan emas kemudian harinya. Kesadaran dari nikmat inilah yang sejatinya kita pupuk bersama, mungkin tak sekarang akan kita rasakan manfaat dari menghargai berbeda itu, namun lihat mungkin sepuluh, duapuluh atau ratusan tahun lagi akan menjadi ide dan gagasan besar dalam merangkai bangunan perbedaan dalam wadah kebangsaan kita.

Radhar Panca Dahana dalam sebuah esai Politik Bisik yang BerisikĀ (2015) dengan indah menghimbau kepada kita dalam ranah budaya yang menjadi bagian dari fokus bergelutnya. Ketika sebuah momen perpolitikan yang hanya bersumber dalam kebisingan, akan merusak nalar budaya politik bangsa kita. Moda komunikasi dengan saluran informasi (fb/twitter/Wa) yang mungkin sudah menggurita, akan membebalkan kritisme sebagian dari diskursus penting dalam menghadirkan sosok yang dibutuhkan. Bukan hanya politik yang berisik dengan kicauan menangkis wacana, tapi juga bisa memperkuat dari bangunan yang sudah ada dalam adab bernegara.

Pada simbolik-abstrak, moda komunikasi sekarang menjadi alat persebaran dari arus informasi yang begitu sumir. Ketika suatu percakapan publik di jadikan perdagangan politik, bukan tidak mungkin siapa yang berkuasa akan melucuti yang tak berkuasa. Begitulah pentingnya kita untuk mempunyai manajemen baik lidah, jari, ucapan dan sebagainya. Bukan hanya para politisi, pendakwah, masyarakat biasa bisa menjadi korban dari persetiran perbedaan pendapat ini.

BACA JUGA:  FPI, Habib Rizieq dan Mimpi Konyol NKRI Bersyariah

Kita menghendaki bukan hanya dalam konsensus hidup berdemokrasi, menjunjung suara atas pendapat yang dipandang dilindungi negara juga harus sesuai dengan etika universal dari hukum positif bangsa kita. Suara untuk berpendapat tanpa menjatuhkan dan memberikan ujaran kebencian seharusnya menjadi suatu laku kesadaran, yang bukan hanya ada dalam ranah akademik. Sistematika berbicara dalam berpendapat yang menghargai nilai kemanusiaan harus menjadi unsur terdepan dalam kehidupan kita sekarang ini. Berdemokrasi tanpa mencaci-maki, itulah keinginan dari para pendiri bangsa kita ini.

Reduksi Moral Berbangsa

Kita lihat fenomena belakangan ini, keterikatan suatu regulasi untuk menata segala kebaharuan berkaitan dengan transaksi dan berkomunikasi di media daring (UU ITE), muncul sebuah fenomena saling lapor. Satu pihak memberikan argumen telah terjadi ketertindasan akibat lempar kritik, dibalas dengan laporan mencemarkan nama baik. Kondisi inilah yang setiap hari kita lihat dalam ruang publik kita, sejatinya kehidupan berdemokrasi diberikan dalam kebebasan berpendapat. Memberikan kritik dan argumentasi terhadap tubuh publik setiap jabatan, ketika nalar tersebut dibebankan untuk saling lapor suatu hal yang tak berdasar kita hanya tumpul pada pemahaman hukum berdemokrasi untuk mementingkan individu maupun kelompok.

Kejadian saling lapor ini membuktikan kita menghadapi krisis dalam reduksi moral berbangsa kita. Hukum yang dibuat untuk melindungi tatanan bernegara dicari celah untuk menghakimi orang dengan prespektif hukum menghabisi yang berbeda. Pendidikan berdemokrasi yang diajarkan dalam bangku akademik juga harus dipertontonkan oleh elite. Perbedaan pandangan politik bukan menjadi sebuah ancaman untuk diberangus atau dicari akar kekuranganya, sehingga hal itu akan menjadikan transeden buruk untuk laku demokrasi kita.

Kemajuan dalam saluran informasi harus berbanding seimbang dengan adab dalam bernegara yang baik. Moda informasi yang ada menjadi alat permudah untuk persebaran informasi ke berbagai pihak. Bukan menjadi sebuah laku buruk untuk memanfaatkan keadaan demi meraih kekuasaan. Perbuatan dari ujaran kebencian dan perilaku buruk lain harus segera dihentikan, selain mengganggu hajat publik juga menjadi keadaan buruk bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan berkesantunan.

Nur Azis Hidayatulloh, Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan

 


Sumber : harakatuna.com