Sebagai negara yang mengakui keberadaan agama dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa yang dituangkan dalam Pancasila, menjamurnya keberadaan rumah ibadah tentu menjadi hal umum dan bukti bahwa masyarakat kita adalah benar-benar masyarakat religius. Hal ini mengingat fungsi rumah ibadah merupakan basis aktivitas keagamaan dan mempersatukan umat. Hanya saja, seringkali terjadi kelalaian dalam pengelolaan masjid. Karena kepentingan tertentu, rumah ibadah kerap dijadikan ruang kontestasi untuk saling berebut pengaruh. Imbasnya, narasi yang muncul di masjid adalah bukan narasi mencerdaskan umat, tetapi memecah belah bahkan tidak jarang provokasi dan narasi kebencian. Tak heran, kalau sumbu gerakan radikal bisa saja tersulut dari masjid.

Ironinya, ada orang-orang yang suka memperjualbelikan ayat dan menafsirkan ajaran agama secara tendensius dan sempit yang diberi wewenang untuk naik ke mimbar di dalam masjid guna menyampaikan khutbah keagamaan. Bukan menyampaikan pemahan beragama sejuk dan damai justru memotivasi dan mengadu domba jamaah untuk melakukan perpecahan. 

Penyebab

Agung S.S. Widodo (2018), seorang peneliti Pusat Studi Pancasila UGM mengungkapkan dua hal yang menjadi penyebab penyalahgunaan fungsi masjid sebagai ruang untuk menyampaikan pesan politis yang mengarah pada nada kebencian, sikap radikal dan kepentingan primordial. 

Pertama, terdapat politisasi agama di tempat ibadah yang secara sosiologis menunjukkan adanya upaya kelompok masyarakat bahkan elite politik untuk menggunakan ayat-ayat suci maupun tempat ibadah sebagai komoditas politik demi keuntungan pribadinya dan menyerang pihak lain. Kedua, mengenai literasi politik para pemuka agama. Pada konteks ini harus diakui, tidak semua pemuka agama memiliki kapasitas yang memadai untuk berbicara politik, dalam pengertian pendidikan politik. Keterbatasan kapasitas inilah yang kemudian justru membawa sisi kontraproduktif, alih-alih ingin memberikan pemahaman yang terjadi justru penggiringan (framing) opini yang mengarah pada kebencian pada kelompok tertentu. Dan inilah yang saat ini sedang terjadi di tengah semakin memanasnya iklim kontestasi perpolitikan negara.

Mengenai ini, kita bisa belajar kepada dua organisasi gajah NU dan Muhammadiyyah yang selalu menggaungkan di masjid-masjid agar beragama secara toleran, tidak mengumbar narasi-narasi ujaran kebencian kepada sesama umat beragama ataupun beda agama, baik yang memiliki kesamaan pilihan politik ataupun yang berbeda pilihan politik. Ini penting dalam merawat fitrah kebhinnekaan NKRI.

Fungsi Masjid

Nabi Muhammad Saw. telah memberikan contoh nyata bahwa masjid merupakan basis dakwah dan pembangunan masyarakat beradab. Ia memberikan potret nyata bahwa masjid bukan hanya untuk membangun relasi yang baik dengan Tuhan (hablun minallah), tetapi juga mempersatukan umat, mengatur negara, dan memberdayakan ekonomi umat (baca: hablun minannas). 

Beberapa hal yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad terkait masjid.

Pertama, sebagai tempat menjalankan fungsi keagamaan. Masjid, sesuai dengan namanya, berarti tempat bersujud kepada Allah. Masjid adalah tempat bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya orang-orang yang sedang berserah diri dalam keta’atan kepada Allah. Dari sini, Rasulullah bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri (HR. Bukhori dan Muslim).

Kedua, masjid menjadi pusat pemerintahan. Di masa Nabi, masjid adalah gedung parlemen masyarakat Islam. Persoalan kebangsaan dan kenegaraan diselesaikan di masjid. Rapat-rapat penting negara diselenggarakan di masjid. Koordinasi, evaluasi, dan strategi bernegara dijalankan di masjid (Muhammadun, 2016).

Ketiga, masjid sebagai pusat pendidikan. Masjid Nabawi menjadi tempat Nabi mengajari umatnya. Bukan saja belajar ajaran agama, tetapi juga belajar apapun. Di sebelah barat masjid Nabawi, dibuat ruangan untuk mereka yang belajar kepada Nabi. Namanya al-suffah. Penghuninya dikenal ashab al-suffah. Para penghuninya setia belajar kepada Nabi dan para sahabat lainnya tentang berbagai hal dalam kehidupan.

Keempat, masjid sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat. Masjid dijadikan Nabi Muhammad sebagai sentral pemberdayaan masyarakat yang masih terpinggirkan dengan didirikannya baitul mal (gudang harta). Mereka yang kaya diajak Nabi untuk rajin zakat dan sedekah, wujud membangun keseimbangan ekonomi dalam masyarakat.

Dakwah Bil Ukhuwah

Berdasarkan narasi di atas, jelas bahwa masjid bukanlah tempat untuk tema-tema politisasi agama ataupun narasi ujaran kebencian atas suatu pilihan politik. Maka, tak berlebihan apabila penulis menyebut masjid sebagai sarang di mana digaungakan dakwah dengan narasi ukhuwah. Lagipula, Nabi Muhammad Saw. juga pernah bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama daripada puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu mendamaikan perselisihan diantara kamu, karena rusaknya perdamaian diantara kamu adalah pencukur (perusak agama).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Nabi Muhammad Saw. juga memberikan teladan baik tentang konsep dakwah bil ukhuwah yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad Ra bahwa penduduk Quba’ telah bertikai hingga saling lempar batu, lalu Nabi Muhammad SAW dikabarkan tentang peristiwa itu, maka beliau bersabda, “Mari kita pergi untuk mendamaikan mereka.” (HR. Bukhari).

Dari sini, jelas bahwa dakwah di rumah ibadah harus didasarkan pada narasi ukhuwah. Aktor-aktor khatib, penceramah, kyai, dan ustadz harus mengedepankan narasi tersebut agar rumah ibadah tidak hanya berdiri dan berpihak untuk sebagian golongan umat beragama, tapi semua umat beragama. M Fikri di dalam Konflik Agama dan Konstruksi New Media pernah menuliskan, munculnya konflik kekerasan demikian bukan karena ajaran agama, karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan perdamaian, tetapi justru karena adanya aktor, agamawan maupun individu beragama yang menafsirkan ajaran agama yang diyakininya secara sempit bahkan tendensius. 

Akhirnya, marilah kita jadikan masjid sebagai basis dakwah narasi ukhuwah islamiyyah, ukhuwah basyariyyah, dan ukhuwah wathaniyyah dengan memberikan pemahaman beragama yang sejuk, suka berdamai dan tidak menyukai fitnah dan kebencian. Hal ini karena masjid bukan tempat yang tepat untuk menyebarkan narasi kebencian, provokasi, dan adu domba dengan mengatasnamakan agama. masjid adalah ruang basis dimana sumbu-sumbu hasrat melakukan perbuatan baik dinyalakan. Jadi, jangan salahgunakan masjid untuk mendeligitimasi fungsi agama sebagai ajaran yang penuh dengan kasih sayang!. Wallahu a’lam bish-shawaab.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com

BACA JUGA:  Terbesar Kedua dalam Sejarah Saudi, 37 Orang Terkait Teroris Dipenggal Sehari