Beberapa tahun terakhir ini, disadari atau tidak tren Ulama itu meningkat. Siapa saja dengan gampangnya bisa disebut Ulama. Mau yang paham Qur’an atau tidak, bisa kaidah bahasa Arab atau tidak, yang penting berjubah, maka bisa dilabeli Ulama. Makanya, saya ngga mau pakai jubah, takut dipanggil Ulama. Gubraakk !!!

Nah, mari kita mulai. Sebenernya siapakah itu Ulama? Umumnya kita tahunya “al Ulama Warotsatul Anbiya” atau Ulama adalah pewaris para Nabi. Penjelasan makna ulama yang seperti itu, sama ketika menjawab pertanyaan, “ketika ditanya apa itu sholat?”, terus kalian jawab “sholat adalah rukun Islam yang kedua.” Apakah itu menyelesaikan masalah dan orang-orang itu paham apa itu sholat? Ngga, karena itu hanya penjeleasan tentang kedudukan sholat.  Sama dengan penjelasan tentang makna Ulama (yang berkedudukan) sebagai pewarisnya para Nabi. Sampai disini faham? Oke kita lanjut.

Lha terus Ulama itu siapa? Pertama, kita harus tahu makna lughawinya dulu. “Ulama” adalah jamak taktsir dari kata “‘Alim” yang berarti orang-orang yang mengetahui, orang-orang yang berilmu. Kalau begitu apakah Albert Einsten, Isaac Newton, dan Stephen Hawking itu bisa disebut Ulama? Ada dua pendapat. Pertama, yang menggenalisir makna Ulama, mau itu yang Islam atau bukan, menguasai ilmu keislaman atau tidak tapi mereka ahli dalam suatu bidang keilmuan maka disebut sebagai Ulama. Tapi kalau menurut pendapat Kiai Ahmad Shiddiq (1926-1991), kalau untuk mereka sebutannya Zu’ama atau dibahasa Indonesiakan jadi Cendekiawan.

Jadi menurutnya, sebutan Ulama hanya untuk mereka yang alim dalam keilmuan Islam. Itu perbedaan pendapat, tapi ga usah dipermasalahkan. Titik temunya saja, Ulama itu kumpulan orang-orang pinter. Alias orang-orang yang berilmu. Hehehehe…

Nah, menurut Abu Zahrah, yang disebut Ulama itu mereka yang memiliki beberapa syarat atau lebih tepatnya kriteria. Apa saja itu? Pertama, memiliki kemampuan untuk menggali hukum dari al-Qur’an termasuk di dalamnya harus mengetahui asbab al-nuzul, nasikh mansukh, mujmal-mubayyan, al-‘am wa al-khash, dan muhkam-mutashabih. Itu baru kriteria pertama menyoal kemampuannya terhadap al-Qur’an. Jadi kalau yang bacanya masih maju mundur, tajwidnya masih grothal-grathul, baca surat al-Kafiruun ngga selesai-selesai karena ketemunya a’bud lagi a’bud lagi, jangan mengaku atau merasa jadi Ulama. Hehehehe…

BACA JUGA:  Korupsi dalam Perspektif Islam

Kedua, yang disebut Ulama itu harus faham tentang seluk beluk hadis Nabi termasuk asbab al-wurud dan rijal al-hadits. Habis itu, juga menguasai bab-bab yang disepakati oleh Ulama atau disebut dengan Ijma’ dan paham masalah Qiyas dan bisa menggunakannya dalam istinbath hukum. Nah, kalau modalnya bolak-balik cuma hadits “kullu bidh’atin dholalah wa kullu dholalah fi an nar” berarti masih jauh dari kategori Ulama. Belum lagi kalau ditanya itu haditsnya kualitasnya seperti apa, sanad perawinya bagaimana, apakah semua perwainya dhabit dan tsiqqoh. Wis mbuh, mending ngga usah ngaku-ngaku jadi Ulama.

Yang penting banget, keempat. Kriteria Ulama itu harus menguasai Bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam termasuk kaidah-kaidah Ushul al-Fiqh. Kenapa begitu? Karena mereka harus paham sumber hukumnya, paham tujuan utama pemberlakuan hukum Islam yang terpusat pada usaha untuk menjaga perkara dharuriyyat, hajiyyat dan tahsiniyyat. Paham kan? Jadi kalau nashrifnya masih kebolak-balik, ngga tahu bedanya ‘kafir’ dan ‘kuffar’ mending ngaji lagi dari Jurumiyah dan Amtsilah at-Tashrifiyyah. Hehe….

Ada lagi? Ada. yang terakhir adalah yang disebut Ulama itu mereka yang sudah memenuhi kriteria di atas dan punya niat dan akidah yang benar. Tujuan penetapan hukum/keputusannya  bukan karena mengejar duniawi, apalagi nyari pangkat dan jabatan. Tapi untuk masalahat lil ‘ammah, bukan maslhahat lil kandidat. Hehe…. Itu kata Muhammad Abu Zahrah.

Kesimpulanya apa? Ulama itu semua kriterianya menyoal kemampuan, bukan penampilan. Maka, sepanjang apapun surbannya, seberat apapun jubahnya, tapi ga memenuhi kriteria itu berarti bukan Ulama. Bisa jadi, Zuama atau malah bukan juga. Ulama bukan, Zuama bukan, ya ngga tahu apa. Hehehe… Kenapa? Lha kalau cuma jubahan, Abu Lahab dan Abu Jahal juga berjubah Gaes. Hehe.. Nah sebaliknya, meski ga pakai jubah, ga pakai sorban, tapi kalau keilmuannya sudah seperti yang di atas, maka mereka termasuk Ulama, maka ikutilah. Sekali lagi, Ulama itu sesuai namanya ya disandarkan pada keilmuan, bukan penampilan.

Lho kok susah ternyata jadi Ulama? Ya iyalah, kalau jadi Ulama gampang mah semua orang nanti bisa jadi Ulama. Hehe…. ”

Slamet Tuharie NG

 


Sumber : harakatuna.com