Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur merupakan salah seorang teman sekaligus guru bagi seorang KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus. Bagi Gus Mus, Gus Dur merupakan guru sekaligus kiblat dalam hal kemanusiaan dan pluralism. Menurut penuturan Gus Mus pula, Gus Dur merupakan salah satu orang yang menceburkannya kedunia sastra kepenyairan. Pada mulanya, dalam sebuah kesempatan sebuah pembacaan puisi untuk Palestina, Gus Dur memaksa Gus Mus untuk menjadi salah seorang yang ikut meramaikan pembacaan puisi pada acara tersebut. Dan sejak itulah Gus Mus melejit dikenal sebagai seorang penyair, hingga menciptakan sastra pesantren.

Pada 26 November 1973, Gus Dur pernah menulis satu esai berjudul “Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia”. Dalam esai itu Gus Dur menyayangkan minimnya dunia pesantren, sebagai objek sastra, tampil di dalam karya para sastrawan. Pesantren absen di dalam karya-karya garapan para sastrawan. Padahal, menurut Gus Dur tak sedikit para sastrawan yang telah mengenyam kehidupan di dalam pesantren. Kalaupun ada penggambaran pesantren, menurut Gus Dur hal itu masih sebatas nostalgia si pengarang.

“Gus Jakfar” adalah cerpen yang paling populer bagi publik luas. Istimewanya, cerpen tersebut merupakan cerpen debutan Gus Mus dan langsung menorehkan beragam penghargaan: terpilih cerpen terbaik Kompas 2004 dan penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara. Cepen tersebut digerakkan oleh renungan spiritual melalui sosok seperti Gus Jakfar dan Kiai Tawakal. Kiai Tawakal dalam cerita itu menggebrak kesadaran Gus Jakfar. Bahwa pencapaian spiritual tidak dapat diukur dengan kesaktian atau kemampuan linuwih yang dimilki oleh Gus Jakfar.

Konsistensi Gus Mus dalam menggambarkan dunia pesantren di dalam cerpennya membuatnya digelari sastrawan pesantren. Bukan karena Gus Mus sebagai sastrawan yang kebetulan jebolan dan pengasuh pesantren. Melainkan karena dimensi lahiriah dan batiniah pesantren tampil di dalam cerpen-cerpennya. Dalam beberapa kesempatan Gus Mus menegaskan hal ini. Ia juga mencontohkan banyak penulis lain di luar dirinya yang juga menulis tentang pesantren. Namun, kebanyakan hanya menjadikan pesantren sebagai latar cerita. Sehingga menurut Gus Mus dengan mudah cerita tetap dapat berjalan dengan hanya mengganti latarnya saja.

BACA JUGA:  Beragama dalam Politik

Konsistensi ini pula yang dapat dengan mudah kita temukan dalam kumpulan cerpennya yang baru, terbit November 2018, berjudul Konvensi. Tema seputar pesantren mendominasi, 8 cerita dari total 15 cerita. Cerpen-cerpen ini disuguhkan Gus Mus dalam beragam variasi. Ada yang realis. Ada yang surealis. Ada yang satire. Ada yang ending-nya dibiarkan menggantung atau open ending. Dan ada juga yang sengaja dialognya diperpanjang mirip khutbah di atas mimbar. Singkatnya, meski tema pesantren mendominasi, penyajiannya tidak monoton.

Dalam cerpen berjudul “Konvensi” misalnya, kita akan mendapati dunia politik yang dapat menipu siapa saja.

ermasuk kiai dan putranya: Kiai Sahil dan Gus Maghrur. Dalam konstalasi politik, kiai dan putranya tersebut digambarkan tak lebih sebagai alat pendulang suara. Gus Maghrur yang dijanjikan jadi wabup ternyata ditelikung. Bahkan ia kalah dalam satu pemilihan ketua partai.

Dan ia yang “selamat” digambarkan sebagaimana ucapan tokoh aku yang biasa dipanggil Mbah atau Eyang: “Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku – dan kamu ikut mendorong-dorongku – untuk ikutan maju sebagai cawabup” (hal. 49).

Gus Mus dikaruniai kecakapan berceramah dan menulis yang sama bagusnya. Tidak mengherankan banyak kalangan yang rela mengantre dan menunggu berbulan-bulan kehadiran beliau untuk mendengarkan ceramahnya. Albertine Minderop dalam Psikologi Sastra menerangkan bahwa karya sastra sangat mungkin memantulkan latar belakang pengarangnya. Gus Mus sebagai penceramah dapat dengan mudah kita temukan jejaknya dalam cerpen-cerpennya (sastra pesantren).

Dalam antologi ini kita juga akan menemukan kritik yang mengena atas fenomena ulama atau ustadz seleb yang hari ini cukup menyesaki kehidupan berbangsa dan beragama kita. Gus Mus meramu paradoks dalam cerpen berjudul “Primadona”. Seorang tokoh “karbitan” yang satu sisi berusaha mematut-matut diri di hadapan khalayak dan di sisi lain menyembunyikan kebopengan hidupnya.

Judul : Konvensi

Penulisq : A. Mustofa Bisri

Penerbit : DIVA Press

Tahun Terbit : November 2018

Tebal : 132 halaman

ISBN : 9786023916344

Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur merupakan salah seorang Memahami Sastra Pesantren

Email


Sumber : harakatuna.com