Mata batin menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI)  adalah bagian batin yang paling dalam, perasaan dalam hati. Ini menunjukan bahwa penglihatan batin ini berkaitan dengan hati dan perasaan mendalam. Artinya melihat sesuatu bukan dengan mata akan tetapi dengan hati. Dalam bahasa yang lebih mudah adalah tersingkapnya hati dari hal gaib yang menutupinya

Namun demikian dalam artian secara umum biasanya mata batin diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang bisa melihat dan merasakan alam adikodrati, alam yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan istilah indra keenam. Lalu adakah mata batin dalam Islam dan bagaimana cara membukanya dalam Islam..?

Memang masalah mata batin ini masih menjadi perkara yang debatable. Sebagian masyarakat menerima dan sebagian masyarakat menolaknya. Dalam pandangan barat epistemologi atau pengetahuan yang dihasilkan dari mata batin ini tidak bisa diterima. Hal ini karena pengetahuan tersebut tidak bisa diverifikasi dan dibuktikan oleh orang banyak.

Sedangkan dalam pandangan dunia timur (Islam Umumnya) epistemologi atau pengetahuan yang dihasilkan dari mata batin ini bisa diterima. Dalam bahasa Prof. Abid Jabiri hal ini dinamakan dengan Epitemologi Irfani. Namun demikian pengetahuan yang dihasilkan Epitemologi Irfani ini harus dikeluarkan oleh seseorang yang terpercaya dan telah menjalani laku spiritual. Karena pengetahuan jenis ini tidak serta merta bisa dilakukan oleh orang umum.

Dalam Islam, tersingkap batin ini sangat erat kaitannya dengan ilmu tasawuf, karena mata batin ini berkaitan dengan hati. Dan untuk membersihkan hati dari hal-hal yang menutupi dan merusak hati maka  ilmu tasawuflah ahlinya.

Seseorang yang sudah terbuka batinnya atau tersingkap hatinya bisa melihat sesuatu diluar panca indranya seperti melihat hal gaib, melihat apa yang terjadi dimasa depan. Dalam hal ini Islam sebagai agama kaffah mengakui adanya mata batin atau tersingkapnya hati, namun biasanya yang memiliki pandangan mata batin ini adalah para wali dan kekasih Allah.

BACA JUGA:  Kafir Rahmatan Lil’alamin dan Muslim Jajahan Lil’alamain

Yang perlu diketahui bahwa tersingkapnya hati ini didapatan oleh para orang yang telah menjalani laku spiritual bukanlah menjadi tujuannya. Terbukanya hati adalah buah dari laku spritual yang dijalani dan bukan menjadi tujuannya. Sedangkan tujuan utumanya adalah bertaqorrub kepada tuhan semesta alam.

Membuka Mata Batin Dalam Islam

Karena mata batin ini erat kaitanya dengan hati maka hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan membersihkan hati terlebih dahulu dari segala macam penyakit hati seperi iri, dengki dan dosa.

Karena dosa ini akan menutupi hati dari ketersingkapannya kepada Allah, semakin banyak melakukan dosa semakin tertutup hatinya dan semakin susah untuk membuka hatinnya. Sebagaimana sabda nabi yang artinya

Sesungguhnya seorang hamba, ketika berbuat dosa, ada titik hitam di hatinya, ketika meninggalkan dosanya, memohon ampun dan bertobat hatinya kembali bersih. Dan jika ia berbuat dosa kembali, titik hitam terus bertambah di hati sampai menggunung dan itulah yag menyelubungi hati.

Maka untuk membersihkan hati agar hatinya tersingkap, seseorang harus bertaubat dari segala macam maksiat. Imam Sya’roni menyatakan bahwa taubat mempuyai awalan dan akhiran.

Awalannya adalah taubat dari dosa besar, dosa kecil, dan dari segala sesuatu yang dibenci oleh Allah serta dari sesuatu bisikan yang menjauhkan dari ridho Allah, sedangkan akhhiranya adalah menyaksikan tuhan dengan penglihatan yang nyata.

Ketika seseorang bisa menyaksikan tuhan ini adalah salah satu tanda bahwa hatinya mulai terbuka. Karena telah menyaksikan Allah maka Allah akan menganugerahkan dengan terbuka mata batinnya.

Dengan demikian cara untuk membuka mata batin yaitu dengan bertaubat kepada Allah dari segala maksiat. Kemudian melaknakan perintah Allah dengan taat. Setelah hal ini dilaksanakan insya Allah mata batinnya akan terbuka.

 

 

 


Sumber : harakatuna.com