Pangkat atau kedudukan yang mulia adalah sesuatu yang pasti didampakan manusia. Setiap manusia berjuang untuk mendapatkan pangkat atau kedudukan mulia di masyarakat. Dalam kategori sosial pangkat mulia bisa ditentukan oleh faktor keturunan, kepandaian ataupun kekayaan. Siapa yang yang mempunyai garis keturunan raja maka akan mendapatkan pangkat mulia dan siapa saja yang mempunyai harta berlimpah akan lebih mudah dihormati. Akan tetapi ketika Islam datang ternyata kemuliaan itu tidak berdasarkan jabatan ataupun keturunan, akan tetapi pangkat kemuliaan itu bergantung pada ketaqwaan.

Sebenarnya ada dua kemuliaan yang selalu diharapkan oleh manusia, namun demikian apabila tidak berhasil mendapatkan keduanya, satu kemuliaanpun bisa dianggap cukup. Kemuliaan pertama adalah kemuliaan dihadapan Allah dan kedua adalah kemulian dihadapan manusia. apabila seseorang telah mendapatkan dua kemuliaan tersebut berarti ia telah mendapatkan puncak kemuliaan, akan tetapi ketika harus memilih satu kemuliaan pilihlah kemuliaan dihadapan Allah, jangan kemuliaan dihadapan manusia, karena pada hakekatnya mendapatkan kemulian dihadapan Allah adalah Tujuan hakiki setiap muslim.

Setiap orang mendambakan kemuliaan di dunia hingga di akhirat, namun kebanyakan dari mereka hanya berkhayal saja. Untuk mendapatkannya diperlukan usaha yang maksimal serta perjuangan yang tak ada akhirnya. sebagaimana contoh cara mendapatkan pangkat kemulian sesuai ajaran Al-Quran ialah bahwa seseorang harus mampu menahan kantuknya untuk bisa melakukan tahajud dimalam hari ketika yang lain sedang menikmati tidurnya. Hal ini sesuai Al-Quran surat  Al-Isro’ ayat 79 yang artinya “Dan pada sebagian malam, sholat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke pangkat yang mulia”

Perlu diketahui juga bahwa salah satu misi Islam adalah untuk mengangkat derajat manusia dari kegelapan jahiliah menuju zaman kegemilangan yang bersumber dari ilmu pengetahuan sehingga derajat manusia betul-betul mulia dibandingkan makhluk yang lainnya.

BACA JUGA:  Maksiat Yang Wajib Segera Ditobati

Abu Abdurrahman as-Sulami dalam Tabaqat As-Sufiyah mengutip perkataan Imam As-Sirri as-Siqthi:

ﺃﺭﺑﻊ ﺧﺼﺎﻝ ﺗﺮﻓﻊ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﻌﻠﻢ ﻭاﻷﺩﺏ ﻭاﻷﻣﺎﻧﺔ ﻭاﻟﻌﻔﺔ

Ada empat hal yang mampu mengangkat derajat manusia. Pertama, Ilmu. Kedua, Adab atau sopan santun. Ketiga, Amanah. Keempat, menjaga diri dari hal yang terlarang.

Dari penjelasan ini, manusia bila memiliki ilmu dan berupaya mengamalkannya niscaya akan mulia hidupnya, lebih-lebih apabila perilakunya dihiasi dengan akhlak yang baik yang akan menambah wibawa dirinya dihadapan makhluk yang lainnya.

Yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah kemampuan diri dalam memegang amanah yang diberikan kepadanya, karena salah satu ciri orang yang beriman adalah mampu menjaga amanat, terutama dengan menjaga diri agar tak terjatuh kedalam lubang kehinaan yang menyengsarakan nasibnya kelak. Keempat hal di atas merupakan dasar-dasar  bagi seseorang untuk mendapatkankan Kemuliaan di dunia dan akhirat, seyogyanya untuk selalu diamalkan dalam kehidupan.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com