Harakatuna.com. Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Polisi Suhardi Alius mengimbau kepada direktur sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar meningkatkan kewaspadaannya terhadap paham radikal.

“Pemahaman utuh yang diberikan ini diharapkan dapat membantu direktur SDM bisa melakukan langkah strategis. Perlu dilakukan verifikasi dalam hal kompetensi dan ideologi. Dengan 2 juta pegawai BUMN, tentunya akan lebih baik apabila ada rasa kewaspadaan terhadap ancaman,” ujar Suhardi dikutip Tagar dari situs BNPT, Kamis 25 April 2019.

Menurut Suhardi, penyusupan paham radikalisme melalui SDM rentan terjadi di dalam perusahaan, sehingga sistem recruitment dan pengelolaan SDM sangat penting untuk dikembangkan.

“Pemahaman utuh yang diberikan ini diharapkan dapat membantu direktur SDM bisa melakukan langkah strategis. Perlu dilakukan verifikasi dalam hal kompetensi dan ideologi. Dengan 2 juta pegawai BUMN, tentunya akan lebih baik apabila ada rasa kewaspadaan terhadap ancaman,” ujar Suhardi dikutip dari situs BNPT.

Dalam hal ini, kata dia, wawasan kebangsaan amat vital untuk ditanamkan kepada setiap pegawai maupun calon pegawai. Kehadiran BUMN yang bergerak di berbagai sektor tentunya menjadi wadah untuk menyerap tenaga kerja.

Menurutnya, BUMN yang punya kepentingan untuk kemajuan negeri sendiri baiknya melakukan sinergi antar satu sama lain, utamanya dalam melawan isu-isu pelemah keutuhan negara seperti radikal terorisme.

“Penyerapan tenaga kerja dapat membawa kesejahteraan, karena paham radikalisme mudah diserap oleh siapa saja tanpa melihat status sosial maupun ekonomi,” terangnya.

Ia menjelaskan, hal-hal yang menjadi penyebab radikal terorisme berkembang salah satunya ialah resonansi kebangsaan, menipisnya nasionalisme masyarakat, serta ancaman terorisme terkini ialah yang memanfaatkan dunia maya.

“Infiltrasi bisa di mana saja dan kepada siapa saja. Jangan dianggap remeh, yang kita lawan ini ideologi. Kita dan lingkungan kita harus memiliki kemampuan filter dan verifikasi informasi. Jangan mudah percaya apalagi terhadap yang merugikan kesatuan NKRI,” kata Suhardi.

BACA JUGA:  Islam Agama Moderat, Bukan Radikal

Dalam catatan BNPT, saat ini terdapat sejumlah anak-anak dan perempuan yang terlibat dalam pelatihan militer di luar negeri.

Ideologi yang keras itu, menurut dia, sudah menyelinap ke masyarakat, ke lembaga pendidikan, termasuk ke BUMN.

“Kita berhadapan dengan ideologi yang sangat keras dan hal tersebut sudah terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu, peran Human Capital dalam perusahaan memegang andil yang besar agar paham-paham yang menyimpang tersebut tidak berkembang di lingkungan BUMN,” tegas Suhardi.

“Berbeda dengan swasta, BUMN ini berkepentingan untuk negara, harus bersatu dan bersinergi. Kalau BUMN kuat, kita juga jadi kuat dan maju. Peran pemimpin di sini, kalau untuk kepentingan NKRI harus berani ambil keputusan, miliki sense of crisis dan kepekaan terhadap perubahan dan kemampuan analisa,” tutup Kepala BNPT


Sumber : harakatuna.com