Dengan penuh jeritan nenek itu berpuisi:

“Jika Engkau tak menangkan kami ya Allah, kami khawatir tak akan ada lagi yang menyembah-Mu.”

Sebenarnya puisi “kurang ajar” Neno Warisman di acara munajat 212 semalam adalah contekan dari doa legendaris yang dimunajatkan Rasulullah di perang Badar.

Dalam momen dahsyat itu umat Islam yang hanya berjumlah 313 orang menghadapi 1300 pasukan kafir Quraisy, Nabi mengangkat tangannya sangat tinggi ke langit (sampai kain rida’-nya jatuh) sembari bermunajat:

“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.”

Lalu apa yang membuat Neno Warisman menjadi “kurang ajar” ketika mengumandangkan doa tersebut?

Doa tersebut dikumandangkan Nabi karena pasukan yang dipimpinnya adalah satu-satunya entitas umat Islam yang ada di muka bumi. Jika saat itu umat Islam kalah dan habis maka takkan tersisa umat Islam sekaligus Nabinya kecuali tinggal sejarah.

Itu adalah perang pertama umat Islam, jumlah mereka masih segelintir dan itupun harus membela diri melawan musuh yang jumlahnya 4 kali lipat, maka wajar Nabi berdoa “Allahumma intuhlik hadzihil ‘ishobah min ahlil islam la tu’bad fil ardh” >> Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.

Ingat! yang mengatakan ini adalah seorang Nabi yang maksum yang setiap apa yang dikatakannya adalah wahyu, dan doa ini sendiri bukan berisi “ancaman” pada Tuhan, melainkan permohonan pemenuhan janji Tuhan berupa kemenangan yang sangat dibutuhkan oleh umat islam di momen tersebut dengan munajat beliau “Allahumma anjizli ma wa’adtani” >> Ya Allah penuhilah janji-Mu kepadaku.

BACA JUGA:  Tasawuf Sebagai Solusi Radikalisme

Bisa dibilang ini adalah seorang Nabi yang sedang “menagih” janji Tuhan-Nya di momen perang krusial yang secara akal sehat tak mungkin dimenangkannya. Dan Allah terbukti benar-benar menepati janji-Nya.

Pertanyaannya sekarang adalah, Neno Warisman ini siapa? Ia bukan Nabi, tak menerima wahyu, tidak pula pernah dijanjikan sesuatu apapun oleh Allah, dan tidak pula kaum yang dipimpinnya adalah satu-satunya umat Islam yang tersisa di muka bumi.

Dan ingat baik-baik, golongan yang hobi sholat di Monas dan kampanye di Masjid ini bukan pula pasukan perang Badar, bahkan tak mendekati level sendal jepit mereka sekalipun. Dan lawan-lawan mereka pun bukan pula orang kafir seperti Abu Jahal, Syaibah bin Rabiah Utbah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, al-Ash bin Hisyam bin al-Mughirah yang dihadapi Nabi di perang Badar.

Jadi bu, bila anda tahu golongan anda tak sebaik pasukan Badar, dan musuh anda pun tak sejahat para kafir Quraisy, dan tak pula Allah pernah menjanjikan apapun pada kalian hingga kalian perlu “menagih-Nya”, apalagi kalian jelas-jelas bukan satu-satunya mu’min yang tersisa di muka bumi, lalu buat apa kalian kepedean “mengancam” Allah dengan kalimat “Kami khawatir tak akan ada lagi yang menyembah-Mu”.

Ingat bu, ini bukan perang Badar dimana jiwa & raga dipertaruhkan untuk mempertahankan agama. Ini hanya pilpres yang dihelat 5 tahun sekali, dan kedua calon pun sama-sama muslim.

Jadi setelah sibuk menakut-nakuti manusia dengan isu punah dan bubar, apa sekarang kalian hendak “menakuti” Allah padahal Allah tak sedikitpun butuh pada penyembahan kalian?

Berpikirlah.

Ahmed Zain Oul Mottaqin


Sumber : harakatuna.com