Kerap kali ada ustaz lantang mengharamkan hampir semua aspek kegiatan masyarakat di sekitar kita. Tidak cukup hanya dengan ucapan, bahkan kerap terjadi juga dibarengi dengan tindakan yang mengarah pada tindakan kasar. Dalam contoh kecilnya, mereka melakukan pembubaran tradisi perayaan sedekah laut dengan alasan perbuatan syirik, pelarangan perayaan peringatan maulid Nabi Muhammad karena bidah, pelarangan mengucapkan selamat hari raya Natal dibarengi dengan sweeping atribut Natal, dan lebih ironis menghakimi kafir kepada orang atau kelompok yang tidak sepaham dengannya. Mereka beranggapan semua itu mengganggu akidah, mengusik iman, dan hal itu dikategorikan penodaan agama.

Rentetan kejadian heboh akhir-akhir ini yang terjadi terlihat lucu namun ironis sekali, khususnya menyangkut agama. Ruang publik menjadi sempit, beraktivitas menjadi terbatas karena khawatir disalahkan oleh golongan mereka yang mudah kagetan. Sebentar-sebentar haram, tidak boleh. Sedikit-sedikit, penistaan, harus diadili karena itu kemudian demo berjilid-jilid atas nama membela Islam. Agama kemudian terlihat menegangkan, mencekam, dan gersang.

Islam Santai merupakan buku yang dihadirkan Acep Zamzam Noor sebagai pelepas dahaga di tengah pemahaman dan penghayatan keagamaan yang terlalu ngoyo dan menegangkan itu. Dia menawarkan pada pembaca bagaimana seharusnya orang-orang Islam mengamalkan keislaman dengan santai, tanpa harus menunjukkan amarah, emosi, mencaci, menjelek-jelekkan atau sikap suka memantik ketegangan. Misal dalam esai bertajuk Sunda Santai Islam Santai, dia menuturkan bagaimana orang Sunda menyerap ajaran Islam melalui pendekatan tradisi yang sudah lama terbentuk di Sunda. Bahkan tradisi yang sudah ada sebelum Islam datang ke sana.

Melalui wawacan atau guritan, ajaran Islam tersampaikan dengan efektif, karena karya sastra yang umumnya ditembangkan sangat digemari oleh masyarakat (hlm. 49). Di tangan pengarang Sunda, tema-tema agama Islam sering tampil dengan santai dan terkesan kadang main-main (hlm.52), sehingga masyarakat tidak jenuh, telebih tegang.

Dalam mengenalkan kesantaian Islam, Acep misalnya menguraikan kisah mengikuti workshop dalam rangka rekonsiliasi antara eks tapol dengan kalangan agama untuk kemudian diekslporasi bagaimana Islam santai itu. Esainya bertajuk Sejarah dan Rekonsiliasi Kultural mengangkat bagaimana rekonsiliasi kultural sebagai bentuk kesantaian mencapai damai.

BACA JUGA:  Kisah-Kisah Gus Nadir di Australia: Dari Ukhuwah hingga Etika

Saat aktif mengikuti workshop, Acep menawarkan konsep rekonsiliasi kultural yang secara gamblang dicontohkan oleh H. Suparman, orang yang pernah dizalimi selama belasan tahun. Suparman yang mantan wartawan itu tidak memelihara perasaan sentimental, karena selain tidak realistis dan tidak produktif, juga hanya buang-buang waktu. Dia tidak memelihara dan mengembangkan dendam, bahkan kepada lawannya dulu (hlm. 137).

Modal utama yang dimilikinya adalah silaturrahmi, yang oleh Acep disebut rekonsiliasi kultural, membangun persaudaraan. Melalui silaturrahmi, baik Suparman atau Acep menemukan keindahan persaudaraan, suatu nilai yang diutamakan dalam ajaran Islam. Begitulah seharusnya berislam, tidak tegang tapi santai dengan cara bersaudara dengan siapapun.

Dalam menyampaikan gagasannya, Acep mampu menguraikan tema-tema rumit menjadi lebih mudah dipahami seperti halnya membaca cerita-cerita pendek. Ini kelebihan yang dimilikinya dibanding penulis lain pada umumnya. Latar belakang sebagai penyair, seniman, budayawan sekaligus santri memberikan variasi warna yang indah pada tulisan-tuliasannya. Esai-esainya semua dikemas dengan baik dalam menyoroti kearifan lokal, keberagaman, keberagamaan dan kebudayaan.

Selain itu, dalam buku ini Acep menyoroti perilaku paradoks orang-orang dalam beragama yang mulai materialistis dalam segala aspek. Dia juga mengupas bagaimana Islam dijadikan komoditas oleh orang atau kelompok tertentu, khususnya di tahun politik. Banyak hal unik yang dijadikan pendekatan untuk memaparkan tema-tema dalam tulisannya. Misal dia menggunakan kisah Kabayan, dangdut, atau tokoh-tokoh adat Sunda. Pada setiap bagian, esai-esai Acep dalam buku ini menggugah nalar, isinya bermutu, sehingga buku ini wajib Anda baca.

Judul buku: Islam Santai
Penulis: Acep Zamzam Noor
Cetakan: Pertama, Oktober 2018
Penerbit: IRCISoD
Tebal Buku: 324 hlm; 14 x 20 cm

Peresensi: Muktir Rahman, Pegiat Literasi dan mengabdi di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah

Sumenep.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com