Santri adalah seseorang yang menuntut ilmu di pondok pesantren dimana tak lepas dari pelajaran ilmu agama. Santri dapat dikategorikan menjadi dua bagian, pertama, ada yang disebut dengan istilah santri mukim, yaitu santri yang tinggal menetap di pondok pesantren.

Kedua, disebut sebagai santri kalong. Ia tetap belajar di pesantren akan tetapi tidak menetap (bermukim), biasanya santri tersebut rumahnya tidak jauh atau di sekitar lokasi pesantren.

Seiring berkembangnya zaman perlu diketahui santri diera sekarang semakin berkembang dimana tak hanya bergelut dibidang agama akan tetapi santri juga banyak menguasai berbagai bidang keilmuan sesuai yang diminatinya. Hal ini dikarenakan kurikulum di pesantren tak hanya fokus dibidang agama saja, tetapi sudah banyak jurusan umum yang dibuka sesuai minat santri, seperti bidang sosial, kedokteran, teknologi dan sebagainya

Santri di pesantren lebih banyak mendapatkan porsi belajar dari pada siswa pada umumnya , bahkan kegiatannya dimulai dari subuh; bangun untuk berjamaah subuh kemudian setelah itu pengajian kitab lalu setelah selesai para santri bergegas untuk mandi dan berangkat ke kelas untuk belajar sebagaimana siswa pada umumnya.

Akan tetapi, pada malam hari para santri tetap ada kegiatan biasanya kajian kitab atau kegiatan hafalan materi kitab kuning atau al-Qur’an,

Maka sudah seharusnya para santri mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia pendidikan sehingga mampu menghasilkan karya yang bisa dijamah oleh bangsa utamanya dalam lingkup literasi. Hal ini dimaksudkan sebagai cara untuk mencontoh para ulama-ulama terdahulu yang sangat produktif dalam berkarya,  terutama bagi santri di era millenial sekarang ini dimana perkembangan teknologi semakin pesat dan seseorang cenderung aktif bersosial media, maka santri bisa memanfaatkan teknologi internet dengan memberikan edukasi kepada publik dan juga mampu memproteksi dari hoax yang banyak tersebar

BACA JUGA:  Belajar Literasi dari Rocky Gerung

Dalam salah satu riwayat,  Nabi bersaba قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَاب “ ikatlah ilmu mu dengan tulisan” dimana salah satu untuk menjaga eksistensi ilmu yang kita telah pelajari adalah menuliskannya, sehingga jika ditarik kekonteks sekarang maka bisa diabadikan dalam bentuk buku yang nantinya bisa dijadikan rujukan yang membantu memberikan pemahaman kepada para pembaca bagi masyarakat khususnya kalangan penuntut ilmu (pelajar). Seseorang akan tetap eksis dan menjadi bagian dari sejarah ketika ia mempunyai kontribusi berupa karya, ia akan tetap akan dikenang sekalipun telah tiada.

Sudah saatnya santri melek terhadap literasi; banyak belajar, rajin membaca, dan mengembangkan keilmuannya dengan mengabadikan melalui karya yang bisa dinikmati para pembaca dan juga memanfaatkan media sosial dengan memberikan wawasan keilmuan yang akurat sehingga mampu menepis serangan-serangan hoax yang banyak beredar dengan memberikan pemahaman melalui media sosial didunia maya kepada orang-orang agar tak asal percaya pada postingan-postingan yang menyebar dan yang belum tentu benar.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com