Seringkali saya mendengar dan membaca argumentasi yang menyudutkan Quraish Shihab. Diklaim, Quraish menafsirkan sendiri teks Al-Quran yang sakral dan seterusnya. Sekian tanya membersit dalam benak: Apa yang melatarbelakangi persepsi ini?

Belum terjawab pertanyaan, saya mengalihkan perhatian membaca baris demi baris tulisan Quraish Shihab. Mungkin membaca dapat menghapus rasa jemu mendengar persepsi yang tak kunjung pudar. Selain Tafsir Al-Mishbah, dibacalah Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? yang menghadirkan argumentasi yang berusaha mempertemukan dua sisi yang berseberangan, sehingga dengannya dapat dipahami bahwa Sunni dan Syiah adalah dua sekte yang berbeda dan memiliki pandangan yang berbeda pula, namun keduanya memiliki titik temu.

Buku tersebut kemudian dijawab oleh santri Pesantren Sidogiri dengan judul Mungkinkah Sunnah-Syiah Dalam Ukhuwah? Sayang, buku ini tidak menghadirkan argumentasi yang memuaskan, sehingga Quraish Shihab merasa kecewa. Ketidakpuasaan ini, salah satunya, karena buku ini tidak menelaah secara langsung literatur yang dibaca Quraish Shihab. Selain itu, buku ini tidak melihat motivasi Quraish Shihab menulis buku tentang Syiah dan Sunnah.

Hal sederhana yang melatarbelakangi buku ini adalah mengurai benang kusut yang tak berkesudahan antara Sunnah dan Syiah, sehingga dicarikanlah titik temu yang dapat menyatukan dua sisi yang berbeda. Karena itu, perbedaan bukanlah biang timbulnya petaka, melainkan hadirnya rahmat. Perbedaan menjadi petaka bila dibalut dengan syak wasangka dan sikap fanatis. Sedangkan, perbedaan membuahkan rahmat bila dicari titik temunya dan dibarengi sikap pluralistik.

Setelah membaca, saya belum menemukan kepuasan. Ternyata, teks  belum seutuhnya menghadirkan pesan yang dimaksud penulisnya, sehingga pembaca diajak untuk menafsir teks yang dibaca. Biasanya teks menghadirkan penafsiran yang beragam, karena tafsir itu adalah asumsi subjektif pembaca yang boleh jadi sama dan boleh jadi berbeda dengan maksud pengarangnya.

Al-Qur’an sebagai teks dipahami dan ditafsirkan secara beragam. Ada yang membawa teks pada medan maksud pengarang dan pembaca hendaknya menafsirkan teks sesuai dengan apa yang dimaksud pengarang. Ada yang melepaskan teks dari pengarang sehingga pembaca diberi kebebasan menafsirkan. Maka, jangan merasa kaku, apalagi mengklaim salah (bila enggan berkata “sesat”) saat dihadapkan dengan penafsiran yang berbeda.

Saya mulai terdorong bertemu atau mendengarkan langsung gagasan Quraish Shihab. Apakah yang dipersepsikan banyak orang tentang Quraish Shihab itu sama dengan apa yang Quraish Shihab sampaikan langsung? Kata mereka, “Quraish Shihab Syiah,” apakah Quraish Shihab mengajak menganut Syiah? Apakah Quraish Shihab mengampanyekan buka Jilbab? Dan seterusnya.

BACA JUGA:  Dampak Positif Kritik Sarjana non-Muslim terhadap Kajian Al-Qur’an

Maka, saat pertemuan berlangsung, saya belum pernah mendengar Quraish Shihab mengajak aundiens menganut Syiah dan tidak pernah meminta para audiens perempuan menanggalkan jilbabnya. Quraish Shihab termasuk kelompok yang terbuka dengan perkembangan, sehingga dengannya sulit terdengar gagasan Quraish Shihab yang tekstualis, memandang pesan sebatas teks, namun selalu membaca konteks di mana teks itu berinteraksi. Selain itu, Quraish Shihab tidak menghendaki gagasan provokatif yang dapat menghilangkan kesan di hati pendengar. Quraish Shihab selalu berusaha mendamaikan, menyejahterakan, lebih-lebih mempertemukan dua sisi yang berbeda. Karena, manusia, apapun agamanya, sukunya, dan bahasanya, tetap memiliki hak dan kewajiban yang harus dihormati.

Sebenarnya, timbulnya syak wasangka di benak sebagian orang tentang Quraish Shihab karena dua hal: Pertama, tidak membaca gagasan Quraish Shihab yang dituangkan dalam bentuk tulisan atau buku. Bagi yang mempersoalkan tentang jilbab, disarankan membaca bukunya, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Demikian pula, bagi yang mempersoalkan tentang Syiah, sebaiknya baca pula bukunya, Islam yang Saya Anut. Buku Jilbab menghidangkan tentang aneka pendapat ulama melihat jilbab. Ada yang mewajibkan. Ada yang memperbolehkan buka jilbab. Pada buku Islam yang Saya Anut, Quraish Shihab menegaskan bahwa dia menganut pendapat dua imam yang dianggap moderat, yakni Imam Syafi’i dan Imam Al-Ghazali. Bukankah kedua tokoh ini dianut kelompok Sunni pula?

Kedua, bertemu dan berdiskusi langsung dengan Quraish Shihab. Pertemuan seringkali memberi kesan yang berbeda dibandingkan dengan cinta tanpa pernah bertemu. Pertemuan akan menjadi jawaban atas rasa benci karena tidak bertemu. Saat pertemuan berlangsung, kesan berbeda seringkali dirasakan: pada mulanya mereka menyesatkan Quraish Shihab, pada akhirnya mereka menyanjungnya. Pada pertemuan itu pula, Quraish Shihab dapat meluruskan sekian “persepsi” (tanda petik mengisyaratkan penekanan bahwa persepsi itu tidak didasarkan pada data yang valid dan tidak dapat dipertanggung jawabkan atau bisa dibilang “bohong”).

Sebagai penutup, kalau Anda bertemu dengan persepsi yang menyudutkan Quraish Shihab, jawablah dengan pertanyaan: “Sudahkah membaca bukunya? Atau pernahkah bertemu langsung dengan orangnya?”[] Shallallah ala Muhammad.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com