Walau zaman kian berkembang, seringkali ditemukan kelompok yang menyeru kembali kepada dua rujukan otoritatif, yakni Al-Qur’an dan hadis. Kedua ini, bagi mereka, merupakan rujukan yang kebenarannya absolut, tidak terbantahkan. Mereka berasumsi, bahwa kebenaran selain keduanya tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga kebenarannya masih dipertanyakan.

Kelompok tersebut biasanya memegang cara berpikir tertutup dan bertindak ekstrem, karena mereka cenderung membaca nash secara tekstual. Tafsir tekstualis diyakini memiliki kebenaran yang murni sesuai dengan pesan yang disampaikan pengarang Al-Qur’an (Tuhan) dan hadis (Nabi Muhammad saw.).

Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan hadis itu sebenarnya masih ambigu. Mari renungkan pelan-pelan ajakan: “Ayo kembali kepada Al-Qur’an dan hadis!” Keambiguannya terasa saat direspons dengan pertanyaan: “Mau kembali kepada ayat Al-Qur’an yang mana? Demikian pula, kembali kepada buku hadis yang mana? Bahkan, Al-Qur’an punya tafsir, terus akan kembali ke tafsirnya siapa? Tafsir ath-Thabary-kah? Ibnu Katsir-kah? Atau Tafsir Al-Mishbah-kah? Begitu pula, hadis yang memiliki banyak kitab, lalu akan kembali kepada kitab hadis yang mana? Shahih Bukhari-kah? Shahih Muslim-kah? Atau Sunan Abu Dawud-kah?”

Al-Qur’an secara keseluruhan terdiri atas 114 surah, 30 juz, dan 6236 ayat menurut riwayat Hafsh, 6262 ayat menurut riwayat ad-Dur, atau 6214 ayat menurut riwayat Warsy. Di samping itu, Al-Qur’an ada yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah yang disebut dengan Surah Makkiyah dan pula setelah beliau berhijrah yang disebut Surah Madaniyah.

Disadari atau tidak, sekian banyak ayat Al-Qur’an yang terhidang dapat membingunkan pembaca yang tidak punya tujuan yang jelas dalam membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an tak ubahnya negara yang memiliki beragam provinsi dan di dalam provinsi itu terdapat sekian banyak kota, bahkan di bawah kota ada beberapa kecamatan. Siapa pun yang bepergian namun tujuannya hanya bertamu ke Indonesia dipastikan akan tersesat, pasti ia akan dianggap kurang waras karena tidak memiliki tujuan yang jelas dan pasti ditanya: Indonesia mana? Provinsi mana? Kota mana? Dan, kecamatan apa?

Dalam bidang tafsir pun, Al-Qur’an dapat ditafsirkan secara beragam. Tidak benar menuhankan—dengan kata lain: meng-Al-Qur’an-kan—satu tafsir seperti yang banyak ditemukan di pesantren-pesantren. Mayoritas pesantren dalam kajiannya bertumpu pada Tafsir al-Jalalain yang ditulis dua ulama terkemuka, yakni Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Al-Mahalli menulis karya tafsir ini pada tahun 1459 dan as-Suyuthi melanjutkannya pada tahun 1505. Petanyaannya: Masihkah tafsir yang ditulis beberapa tahun yang lalu relevan dan bisa berinteraksi dengan era kekinian, tahun 2019? Tentu, penulis menduga banyak tafsir yang kurang relevan ditawarkan pada masa kini. Maka, dengan demikian, pesantren hendaknya membuka ruang bagi tafsir kontemporer yang lebih relevan dan menjawab isu-isu kontemporer. Selain itu, ketidakrelevanan ini dapat diperkuat dengan riwayat penulisnya. Al-Mahalli dan as-Suyuthi adalah sosok ulama yang terlahir di Kairo, Mesir. Situasi dan kondisi di mana kedua tokoh ini lahir dan menulis tafsir memberikan pengaruh yang besar dalam karya tafsirnya. Bisa jadi tafsir ini kurang relevan berinteraksi di negara pluralistik Indonesia. Indonesia dan Mesir terbingkai dengan budaya yang berbeda.

BACA JUGA:  Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Maka, fanatis pada satu karya tafsir adalah cara bersikap yang kurang benar—untuk tidak mengatakan “salah”. Seharusnya pesantren memperkenalkan beragam karya tafsir, mulai karya tafsir era klasik hingga karya tafsir era kontemporer. Demikian pula, dipandang perlu ada karya tafsir yang memiliki spesifikasi, seperti karya tafsir lokal dan karya tafsir global. Pemetaan tafsir ini dapat menjadi tawaran positif untuk mengamputase sikap fanatis yang dapat menutup pikiran.

Dengan maraknya isu dari waktu ke waktu, tafsir tematik merupakan pilihan yang tepat untuk meresponsnya. Karenanya, tafsir akan terkesan lebih fokus merespons isu yang sedang berlangsung dan Al-Qur’an tampak hidup, kendatipun sudah berabad-abad silam diturunkan. Al-Qur’an seakan berinteraksi langsung kapan pun dan di mana pun. Sebenarnya perkembangan Al-Qur’an ada di tangan pembacanya. Bila pembacanya tertutup pikirannya, maka pesan Al-Qur’an akan terkesan kering, karena yang terhidang adalah pesan terdahulu dan sudah tidak relevan lagi.

Hadis pun demikian. Dari sejumlah hadis yang terkumpul dalam kitab Shahih Bukhari banyak ditemukan perbedaan redaksinya dengan kitab lain, seperti Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan seterusnya, sekalipun kandungannya sama. Terhidangnya kitab-kitab hadis yang berbeda mengisyaratkan bahwa kebenaran hadis bukan sesuatu yang absolut. Karena itu, dibutuhkan penelitian terhadap hadis yang diterima-disampaikan di mana ilmu yang berperan dalam bidang ini adalah Takhrijul Hadis, yakni upaya untuk mengetahui sumber kitab utama suatu hadis, menelusuri dan menilai rangkaian silsilah para periwayat hadis tersebut, menjelaskan tingkatannya serta mempertimbangkan apakah hadis tersebut dapat dijadikan suatu dalil.

Finally, seruan kembali kepada Al-Qur’an dan hadis menjadi positif selama disikapi dengan arif, yaitu menjadikan dua sumber otoritatif ini terus-menerus hidup, walaupun keduanya sudah disampaikan berabad-abad silam. Menghidupkan Al-Qur’an dan hadis membutuhkan cara berpikir yang terbuka dan moderat. Sebaliknya, kembali kepada Al-Qur’an dan hadis dinilai negatif bilamana sikap berinteraksi dengan kedua sumber ini tanpa dibarengi pemikiran yang terbuka, bahkan menjadikan keduanya terbelenggu sehingga beriring waktu pesan yang terkandung tak tersampaikan.[] Shallallah ala Muhammad!

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com