Uzlah menempuh jalan langit
Uzlah

Konon seseorang bisa mencapai jalan langit dengan Uzlah. Mengasingkan diri dari keramain adalah satu-satunya resolusi bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dimana mendekatkan diri kepada Tuhan adalah jaminan untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Memusnahkan seluruh idealisme, kebergantungan terhadap dunia adalah salah satu berlian yang menjadi idaman seluruh umat Islam. Benarkah?

Kalau saya sendiri lebih sepakat untuk membenarkan statement yang demikian. kenapa? Paling tidak, saya melihat catatan sejarah yang mengatakan bahwa terdapat puluhan dan bahkan ratusan hamba yang menjalani ‘ritualnya’ dengan mengasingkan diri dari hal-hal yang berbau duniawi menempuh jalan langit. Sebut saja Robiah al-Adawiyah yang dengan konsep Mahabbahnya menanggalkan kepentingan duniawi dan selalu bersetubuh dengan sang robbul Izzati begitu pula dengan Jalaluddin Rumi, sang sufi pecandu music dan tarian sufistik.

Menyitir Pendapat Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam Manhaj al-Abidin menegaskan bahwa dengan kita memilih jalan langit, segala prihal duniawi akan terpenuhi tanpa harus direncanakan sedang mereka yang selalu menyibukkan diri dengan dunia maka ia akan diperbudak oleh dunia itu sendiri (man haddama ad-dunya fahdamihi, waman haddamani fastahdamihi. Ujar al-Ghazali ini bukan konsep kosong tanpa arti.

Cerita sedikit, ketika saya menghadiri undangan resepsi bersama serombongan undangan santri Annuqayah, saya ‘dimabukkan’ dengan sebatang rokok 76. Lalu naluri berbisik “betapa komplitnya nikmat Tuhan yang diberikan kepada hambanya”. Di tengah tengah lantunan muzaik shalawatan sond sistem penganten, ditambah lagi dengan suguhan kue pelangi, masih ada karunia-Nya yang lebih nikmat. Sebatang rokok 76 yang dapat mengantarkan hati kepada kefanaan jiwa menyambut kehadiran ilahi robbi. Lalu, tanpa disadari setelah saya terbangun dari halusinasi asap 76, berbagai hidangan berjajar rapi di sekeliling tempat yang sedari tadi saya duduk. Padahal saya tidak mengharapkan itu. Mungkin, ungkapan yang ada dibenak kalian, ini adalah kebiasaan, kalau bertamu pasti disambut dengan suguhan.

Dua Wajah Kehidupan Dunia

Pada kali itu saya tidak merasa mengasingkan diri dari keramian, Uzlah. Tapi seperti itulah secara gamblang pandangan awal mengenai kelana batin sang sufi. Batinnya tidak lagi berada di tempat ia duduk, berdiri dan tidur. Segala apa yang terjadi disekitanya tak ia hiraukan, lantaran ia telah menikmati perjamuannya dengan sang Tuhan. Uzlah yang biasa dijalani oleh kalangan sufi, Ia berkelana, melanglang buana ke-mana saja yang ia suka. Di mana ia mendapatkan ketenangan, di sana ia berada.

Sebelum saya berbicara panjang lebar tentang konsep Uzlah dalam hal menempuh jalan langit yang saya tawarkan disini. Terlebih dahulu saya akan memberi klarifikasi dua wajah kehidupan dunia yang mau tidak mau mesti kita harus jalani, relasi vertical dan horizontal. Jika kita perioritaskan penyatuan diri dengan Tuhan maka relasi horizontal akan terbelengkalai. Bila demikian, kita akan terpental dari perguliran zaman yang senantiasa terus berkembang. Namun apabila kita periorotaskan relasi horizontal penyatuan diri kepada Tuhan akan semakin jarang kita dapati. Dan apabila demikian kita akan semakin jarang mengingat Tuhan. Walau mengingat Tuhan tidak hanya bisa dilakoni dengan Uzlah.

Dari itu, kepada saya dan kalian pembaca Kabar Muslim yang budiman ada catatan penting yang harus dicamkan, pandai-pandailah membuat keseimbangan, tentu dengan membagi waktu dan kesempatan. Di mana dan kapan kita akan menyatukan diri dengan Tuhan. Di mana dan pada situasi bagaimana kita harus bersosial. Sebab jika kita ternina bobok dengan peyatuan diri dengan Tuhan lebih-lebih melakukan ritual uzlah seperti yang dijalani para sufi, maka sebagai implikasi logis kita akan selalu diinjak-injak oleh mereka yang paham dan bergelut dengan hal-hal duniawi.

Uzlah sebagai Saddu ad-Dariah

Jika demikian, kapan kita akan mewarnai dunia. Mengubah sistem serta pola dunia yang semakin bertebaran kemungkaran dan kelaparan. Bagaimana kita bisa menguasai pergulatan zaman. Padahal tanggungjawab kita sebagai mahasiswa adalah melakukan perubahan dengan gerakan-gerakan pembaharuan. Sampai kapan mahasiswa pesantren akan duduk di meja parlementer yang memiliki kesempatan besar untuk mengangkis nasib rakyat, Mengibarkan bendera Islam menggemakan perubahan memperkokoh prisai pertahanan Islam dari himpitan erosintrisme kolonialisme barat.

BACA JUGA:  Masa Depan Indonesia di Tengah Gempuran Khilafah

Namun disisi lain, jika kita tidak pernah mengingat Tuhan sama sekali kita tidak akan pula diingat Tuhan (al-Ayah). Dan kita tahu kita lahir dari Tuhan dan akan kembali lagi kepanggkuan-Nya (al-Ayat). Ketika kita sudah tidak pernah kembali kepadaNya dan bahkan sampai-sampai menangalkan ibadah (Naudzubillah) karena terlalu menyibukkan diri dengan prihal duniawi maka bisa dipastikan ancaman neraka sudah nampak di depan mata. Tuhan telah gagal menciptakan manusia sebagai hamba-Nya. Wama Khalaqtu al-Jinna Wa al-Insa Illa Liya’budun gagal ditengah jalan. Dan saya berharap semoga kita tidak termasuk golongan ini.

Para politikus yang haus jabatan, para pembesar aparatur negara yang kerjaannya hanyalah mengelabuhi rakyat kecil dengan mengambil segala hak-haknya serta orang-orang terpandang yang gila hormat adalah salah satu contoh dari insan yang tidak pernah ingat Tuhan. mereka jauh memikirkan penyatuannya dengan Tuhan. Dan kepentingan duniawi adalah tujuan utamanya. Uzlah dan pencarian ridla Tuhan sama sekali tidak tergambar dalam diri merka. Inilah selah satu efect dari ketidak terasingan diri dari hal-hal duniawi.

Lalu bagaimana sikap yang harus kita ambil? Haruskah kita memusuhi hal diniawi dan selalu Uzlah sebagai Saddu ad-Dariah dari jebakan duniawi? Atau kah kita tidak boleh Uzlah dan selalu bergelut dengan hal-hal duniawi agar supaya tidak seperti kisahnya ulama’ salaf yang dibodohi dengan permainan manusia tak bertanggung jawab di sekitar kita? Dari dua hal delematis inilah saya ingin menawarkan suatu solusi. Bersikap moderat dan mencoba menafsirkan ulang konsep Uzlah yang digandrungi para sahabat dan tabiin terdahulu.

Kontruksi Baru Uzlah

Benar dogma Islam, seorang hamba dituntut untuk selalu mngingat Tuhan agar Tuhan juga mengingat hambanya. Dan inilah visi utama Tuhan menciptakan manusia. Sehingga para pendahulu kita yang merespon positif dogma ini memilih jalan Sufi, bergelut dengna Uzlah guna mendapatkan ridla-Nya. Namun bagaimana dengan modus situasi terkini, di mana ‘semua’ manusia terperangkap pada pergulatan politik taktik dan serba kepentingan kebendaan sehinga satu dengan yang lain saling menghimpit demi kepentingannya masing. Jika kita kita tidak bisa mengimbanginya maka kita lah yang akan menjadi tumbalnya.

Dari itu saya kira konsep Uzlah  klasik kita tafsirkan ulang. Uzlah pada hari ini kita tidak lagi mengartikan mengasingkan diri dari hal-hal duniawi, ‘keramaian’. Tapi kita artikan Uzlah adalah mengasingkan diri dari sisi negatif duniawi. Kita harus bisa bertahan dan selalu mengikuti tuntutan perubahan duniawi tapi kita harus bisa mawas diri agar tidak sampai terperangkap pada halusinasi duniawi. Karena kepentingan dunia adalah kepentingan sesat yang akan menutup jalan langit.

Segala aspek dan perubahan modus dunia modern kita harus terus lalui sambil lalu mengambil menfat dari hal duniawi itu sendiri. Kita harus penuhi sarat duniawi demi kepentingan ukhrawi.  Jabatan yang kita miliki digunakan untuk mengangkis nasib rakyat yang sudah diambil hak-haknya. Setelah kekayaan kita menumpuk kita manfaatkan untuk membantu yang lemah, membutuhkan. Dengan begitu ridla Tuhan akan kita raih sekalipun tidak dengan mendekatkan diri melalui Uzlah. Kita bisa bersetubuh dengan Tuhan setelah kita mensyukuri nikmatnya dengan memanfatkan kesempatan jabatan serta kekayaan yang ada.

Kesimpulan Akhir

Terahir ujar saya kepada seluruh para mahasiswa Instika, mulai saat ini mari kita berlomba-lomba menjadi orang pertama dalam menduduki jabatan strategis dalam—sebutlah—negara, bermain politik seulet mungkin, menumpuk kekayaan yang tiada terhingga tapi jangan lupa gunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tentunya dengan menggunakan kesampatan itu dengan baik.

Kita tidak boleh sekali-kali terjebak pada dogma yang sudah tidak berbanding lurus dengan realita yang ada. kepada kyai klasik, santri salaf yang anti modernisme saya pinta untuk membuka mata lebar-lebar, melakukan ijtihad kembali, melihat permainan yang semakin tragis. Menutup diri dari perubahan zaman akan membuat kita terasing dari zaman, tidak selamat. (Ali Karramallahu Wajhah, Aw Kama Qala)

Oleh Ahmad Fairozi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.