Melawan kelompok radikal di era sekarang merupakan sebuah pekerjaan yang amat mulia. Betapa tidak. Radikalisme, selain menyalahkan agama, mereka juga kerap mengancam keamanan dan ketentraman suatu bangsa atau tatanan sosial.

Meminjam pandangan Suaib Tahir, dkk dalam sebuah karya penelitian berjudul (ISIS Bukan Islam, Cet ke-2: 2016), menegaskan bahwa, “dalam Islam orang kafir pun tidak bisa diperangi selama meraka tidak memerangi Islam. Islam hanya mengizinkan memerangi kaum kafir jika mereka memerangi umat Islam”.

Artinya, Islam hadir mempunyai misi tranformatif terhadap simbol-simbol keagamaan yang bersifat inklusif. Idealnya, agama Islam mendambakan umatnya untuk membangun persaudaraan yang penuh cinta kasih sayang antar sesama umat manusia (ukhwah Insaniyah). Hidup tidak hanya sekedar berislam, tetapi kita perlu mengamalkannya.

Menjaga Keutuhn NKRI

Dan Indonesia negara memiliki keistimewaan terhadap masa depan bangsa dan negara. Yakni, nilai kemajemukan sebagai salah satu alat yang dapat menjaga keutuhan NKRI dari serangan-serangan radikalisme, karena paham radikal hampir sebagian besar dapat memecah belah persatuan umat Islam yang ada di negeri ini.

Tak heran, jika gerakan radikalisme tidak hanya berangkat mengatasnamakan agama, tetapi juga kian masif meliputi gerakan ekonomi (kapitalisasi). Sebagai contoh besarnya ISIS sebagai gerakan yang mengatasnamanakan Islam tetapi basisnya melakukan kekerasan yang itu adalah kejahatan kemanusiaan.

Berlangsungnya serangan kelompok radikal ISIS telah mengotori kesucian Islam itu sendiri. Padahal Islam agama yang penuh kedamaian dan ketentraman serta menolak keras terhadap paham radikal. Sebagaimana dipaparkan sedemikian rupa, sebab tindakan barbar yang dilakukan oleh ISIS (Islamic State of Iraq Syria) telah merisaukan seluruh masyarakat di setiap penjuru negeri.

ISIS Bukan Cerminan Islam

Bahkan yang sangat memperihatinkan untuk meraih destinasinya merintis negara Islam, ISIS kerap kali melakukannya dengan berbagai macam tindakan keji dan tidak memiliki sikap berprikemanusiaan. Namun saja, apakah tindakan ISIS mendeklamasikan doktrin Islam yang sebenarnya?

Jawabannya, sebab dominasi tindakan ISIS telah mengotori Islam sebagai agama yang damai dan penuh ketentraman. Oleh sebab itu juga, ditegaskan kembali bagi umat Islam sendiri dilarang keras untuk menganut ajaran yang paham radikalisme terkini. Agar konsekuensinya tidak semakin besar terhadap umat Islam ini.

Dengan macam alasan, tentu gebrakan orang-orang yang hanya mengatas namakan Islam tetapi jauh beda dengan perbuatan sadisnya. Sehingga perbuatannya mengindikasikan bahwa cara yang harus digunakan agama Islam itu semestinya halus dan sopan santun, bukan malah tambah parah hingga menjadikan sikapnya kebablasan dan berbuat aksi kekerasan.

Tentu dengan hal ini, kita semua setuju bahwa tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan radikalisme. Paham radikal yang dibawa oleh sekelompok ISIS jelas adalah sikap yang tidak dibenarkan oleh semua agama termasuk Islam. Sebagai agama yang sangat toleran, Islam memerintahkan untuk damai dan menyebarkan sikap saling menentrami dan toleransi antar sesama.

Perbuatan teror dan membunuh yang dilancarkan oleh ISIS sangat kejam dengan misi suci Islam yang penuh dengan kelembutan dan kedamaian. Sebagaimana juga dikatakan oleh Ali Masykur Musa dalam bukunya, (Membumikan Islam Nusantara: 2014) menegaskan kembali, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk berbuat kekerasan, anarkisme, radikalisme, dan terorisme, bahkan Islam mengutuk semua tindakan hal-hal yang negatif tersebut.

BACA JUGA:  Penista Agama Para Pemarah

Bahaya Radikalisme

Lebih parahnya lagi, peneliti gerakan terorisme dari Universitas Nanyang Singapura, Prof. Dr. Rohan Gunaratna menjelaskan, saat ini sudah ada 18 kelompok ekstrim dari Indonesia yang bergabung dengan kelompok milisi Negara Islam Irak dan Syria (ISIS), dan 15 kelompok sudah dibai’at oleh Presidium ISIS Abu Bakar Al-Bagdadi dan tiga diantaranya sebatas mendukung, mengamati dari penelitian tersebut semakin meresahkan masyarakat yang ada pada setiap penjuru negeri. ini menunjukkan bahwa masyarakat terancam oleh adanya sekelompok paham radikal, dan apalagi Islam, sangat menolak keras oleh paham radikal tersebut.

Namun, sebenarnya ISIS merupakan kelompok yang dibuat oleh non-muslim dan orang yang benci terhadap Islam dengan mengotori Islam sehingga sebaliknya, Islam itu dibenci oleh setiap agama maupun oleh umat Islam sendiri. Kejadian ini menunjukkan bahwa perbuatan ini hanya perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin mengotori kesucian Islam.

Di masa kini ISIS telah menjadi ancaman global yang sangat meresahkan banyak negara termasuk Indonesia. Bahkan, yang sangat menghawatirkan terdapat sejumlah kelompok ekstrem dari negara ASEAN yang bergabung dengan ISIS. Yaitu 5 kelompok ekstrem dari Malasyia dan tiga kelompok dari Filpina.

Demikian dia juga menambahkan, kelompok teroris asal Indonesia yang bergabung dengan ISIS mayoritas belajar Islam di Timur Tengah. Karena Indonesia pasti sangat moderat ajarannya artinya ideologi ISIS sudah merajalela di republik ini dan yang menjadi target perekrutan adalah kalangan anak muda. tuntunan radikal ISIS harus dibendung secepat mungkin agar tidak banyak memakan nyawa korban.

Menghentikan Paham Radikal

Kemudian bagaimana strategi mengantisipasi radikalisme ISIS? Menurut hemat penulis ada beberapa langkah yang mesti diambil. Pertama, meluruskan Islamic doktrin. Upaya membantai terhadap paham radikal ISIS harus dilakukan meliputi langkah-langkah realita dengan mengoreksi paham yang menjadi sumber doktrin para radikalis ISIS.

Kedua, menghentikan dana yang didistribusikan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Tindak Pidana Pendistribusian Dana, sangat posibilitas bagi pemerintah untuk melakukan penyitaan dan merampas modal yang berkaitan dengan terorisme.

Ketiga, lembaga-lembaga negara sendiri harus aktif untuk menjaga stabilitas segenap kehidupan warganya, terutama Indonesia sebagai Negara hukum. Dibutuhkan ketegasan dari pemerintah terhadap mereka yang diyakini terlibat dengan ISIS baik langsung maupun tidak. Selain itu, pemerintah harus lebih ketat dalam pembuatan paspor terutama bagi mereka yang cendrung ingin pergi ke Timur Tengah.

Keempat, dan paling penting peran BNPT-RI (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), peran strategisnya adalah melakukan sosialisasi maksimal ke pelbagai kampus-kampus, dan pesantren-pesantren yang ada di seluruh Indonesia. Karena itu, target hasilnya setidaknya membetengi generasi muda dari radikalisme yang kian merajalela di negeri ini.

Kelima, semua agama harus menjalin kerjasama agar terlibat aktif dalam pembentukan deklarasi “Negara Melawan Paham Radikal”, sebab dengan soliditas bilateral ini dapat diprediksi ajaran radikal itu tidak akan mudah memasuki kawasan, dan tidak gampang melakukan perekrutan jika ada upaya pengawasan kolektif.

Oleh: Hasin Abdullah, peneliti Muda Bidang Hukum UIN Jakarta, sekaligus Alumni SMA-Tahfidz Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com