Kita tentu sepakat bahwa materi pendidikan toleransi, tidak cukup diajarkan kepada anak-anak Indonesia hanya melalui sekolah, pesantren, ataupun sejenis lembaga pendidikan formal lainnya. Jauh dari itu adalah pendidikan informal, seperti pendidikan di rumah melalui orang-orang terdekat (orang tua).

Orang tua merupakan panutan bagi tumbuh kembang anak. Di zaman modern seperti sekarang ini, mengajarkan pendidikan toleransi kepada anak bisa melalui banyak hal. Contohnya adalah melakukan wisata berbasis toleransi. Program ini bisa dikemas dalam bentuk jalan-jalan damai dengan mengunjungi rumah ibadah agama-agama.

Indonesia dikenal sebagai qiblatnya perbedaan keyakinan. Masyarakat diberikan hak dalam melakukan ibadah kepada Tuhan. Terlepas apapun agamanya, yang paling penting bahwa masyarakat Indonesia adalah manusia ber-Tuhan.

Terdapat 6 agama yang telah diakui oleh negara, Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katholik, dan Khong Hu Chu. Tidak ayal apabila banyak ditemui rumah ibadah di setiap tempat. Mengutip data yang diberikan Kementrian Agama bahwa terdapat 239,497 jumlah masjid, gereja kristen 60.170, gereja katholik 11.021, vihara 2354, pura 24.837, dan 552 klenteng.

Kekayaan dan keberadaan rumah ibadah umat beragama bisa memberikan nilai positif bagi orang tua untuk melakukan study tour religi. Sebab, pada usia dini, anak lebih cenderung menangkap pembelajaran dengan metode bermain dari pada berbentuk materi (monoton).

Saat perjalanan wisata berlangsung, orang tua bisa mengajarkan sekaligus mengenalkan indahnya perbedaan kepada anak. Misalnya, mengajarkan anak tentang makna kerukunan umat beragama. Tujuannya, agar terpatri pada jiwa anak tentang keagaman sekaligus memahamkan bahwa selain agama yang diyakini ada agama yang lain.

Anak-anak harus mengetahui bahwa tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan, meski agama-agama memiliki perbedaan dalam beberapa hal. Namun, secara garis besar semua agama mengajarkan kebajikan, kebaikan, dan persatuan demi terwujudnya perdamaian.

Selain itu, anak adalah harapan orang tua, agama, bangsa dan negara, karenanya mereka perlu dibekali dengan pengetahuan yang baik sedini mungkin. Karakter dan kepribadian yang terbentuk pada anak adalah fundamental education yang berperan memberikan warna pada seluruh sifat dan gaya hidup anak sebelum dapat dipengaruhi oleh factor-faktor lain dari teman, lingkungan dan kondisi dimana anak berada. Semakin dewasa usia anak, akan semakin komplek pula faktor yang mempengaruhi anak.

BACA JUGA:  Khutbah Jumat dan Narasi Anti-Korupsi

Oleh sebab itu, nilai kesadaran dan nilai kejujuran, saling menghormati, saling menghargai, setia kawan, saling memberi dan tolong menolong pada sesama tanpa memandang status dan warna bajunya sebagai manifestasi nilai-nilai pendidikan toleransi yang layak diperkokoh dan ditanamkan pada Anak usia dini. Sebab, pada usia dini, anak-anak sudah menyadari perbedaan pada orang lain (Anne Stonehouse:Riset-anak).

Mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan semesta alam. Wajib disyukuri dan dijaga bentuk keberagamannya. Memberikan pencerahan bahwa perbedaan adalah warna yang indah. Seperti halnya mengenalkan bahwa Indonesia adalah bangsa besar. Kekayaan budaya, bahasa, ras, suku, dan agama turut memeberikan warna identitas Indonesia.

Indonesia memiliki wahana wisata yang memiliki potensi dengan basis nilai toleransi. Seperti masjid, gereja, vihara, pura, klenteng sebagai tempat tujuan rekreasi. Masjid Istiqlal contohnya. Kita tahu bahwa Istiqlal berarti kemerdekaan, dan kontruksinya merupakan bagian dari bukti perjuangan bangsa untuk kebebasan. Selain itu, rumah ibadah bagi ribuan muslim tersebut dirancang oleh arsitek kristen. Dalam pembuatannya saja, sudah dikenalkan perbedaan itu indah apalagi ajarannya. (Barack Obama; 2010)

Gereja sebagai rumah ibadah umat Kristiani akan memberikan pelajaran tentang cinta. Ajaran hukum kasih, yakni kasih kepada Tuhan dan kasih sesama manusia. Maka tidak ayal tatkala kita masuk gereja pasti disambut petugas dengan ramah dan mengenal pemeluknya sebagai umat yang baik. Gereja Katedral misalnya, yang searah dengan Masjid Istiqlal dijadikan simbol kerukunan warga Jakarta. Vihara sebagai rumah ibada umat Budha juga menarik untuk dikunjungi.

Banyak icon wisata lainnya yang memiliki basis nilai toleransi yang mencerminkan kerukunan, persaudaraan, dan persatuan. Dan tentunya juga masih banyak cara yang bisa diterapkan dalam menanamkan nilai toleransi pada si Anak. Jangan pernah menganggap bahwa pendidikan toleransi sejak dini adalah hal yang sulit.

Tapi, menanamkan tolerasi adalah hal yang mudah bagi orang tua. Tentunya dengan konsisten dan sabar dalam mendidik sang buah hati. Dan percayalah, anak yang pada tumbuh kembangnya tidak miliki jiwa toleransi jauh lebih sulit dan berdampak buruk bagi si anak di masa mendatang.


Sumber : harakatuna.com