Sudah beberapa hari Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden berlangsung. Sejatinya kasak-kusuk kampaye tidak lagi didengar. Masyarakat Indonesia hendaknya kembali beraktivitas tanpa ada beda. Tidak ada keakuan di antara sesama. Semuanya sama: sama-sama penduduk Indonesia berasaskan Pancasila dan menjunjung demokrasi, bahkan sama-sama saudara yang tercipta dari tiada menjadi ada dan dari unsur yang sama, nafsun wahidah, jiwa yang satu, pertemuan sperma dan ovum.

Sayang, itu semua hanyalah angan kosong. Indonesia belum kembali damai (peace) dan sejahtera (salam). Indonesia digoncang badai politik buta yang mendewakan hawa nafsu, bukan mencita-citakan kebenaran. Indonesia disandera arus politik yang tidak sehat, sehingga berpotensi merobohkan demokrasi, memecah persatuan, lebih-lebih memorak-porandakan tubuh negara.

Salah satu arus politik yang kurang sehat adalah digemakannya people power (kekuatan rakyat) oleh Amien Rais. People power ini merupakan bentuk gugatan sekte Prabowo-Sandi yang tidak legowo menerima kekalahan pada laga politik berdasarkan Quick Count. Sekte ini menolak hasil Quick Count seperti sekte Khawarij yang menolak tahkim (arbitrase) yang disepakati oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Secara tidak langsung sekte Prabowo-Sandi menolak kemenangan Jokowi-Makruf. Prabowo kemudian mendeklarasikan kemenangan berdasarkan kesepakatannya sendiri. Aneh, bukan? Seharusnya, kemenangan itu diputuskan nanti saat Real Count diluncurkan. Sungguh Khawarij era kontemporer!

People power Amien Rais benar-benar menarik perhatian publik pada laga perpolitikan tahun ini. Menarik untuk dianalis. Apakah people power ini menjadi solusi atas tegaknya kebenaran? Bukankah people power justru memperkeruh suasana, meresahkan psikis rakyat yang menghendaki demokrasi yang dibalut dengan kebebasan memilih, bukan memaksa rakyat memilih? Bila demikian, poeple power tak ubahnya terorisme yang meresahkan jiwa?

Masyarakat yang demokratis hendaknya mengikuti peraturan negara, bukan mendewakan ego. Negara dibangun bukan oleh satu orang atau satu kelompok, melainkan didirikan oleh beragam kelompok; ada yang dari penganut agama Islam dan ada juga yang dari pemeluk agama lain, seperti Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Tidak dibenarkan memaksakan kehendak demi kepentingan pribadi. Nabi Muhammad Saw. sendiri memutuskan sesuatu melalui musyawarah, sekalipun beliau sendiri sadar sedang dibimbing langsung oleh Allah dengan wahyu yang memiliki otoritas kebenaran. Selain itu, Ratu Balqis dikisahkan dalam surah Saba’ termasuk sosok pemimpin wanita yang tegas, bijaksana, dan demokratis. Setiap memutuskan suatu kebijakan selalu melibatkan musyawarah, lebih-lebih saat mendiskusikan surat yang dikirim oleh Nabi Sulaiman.

BACA JUGA:  Sumbar Sarang Teroris, Ini Kata Tokoh Agama dan Adat

Amien Rais adalah sosok negarawan. Seharusnya, dia berusaha merangkul perbedaan, mendinginkan suasana, dan mengajarkan sikap yang mulia dan tutur kata yang santun. Pada usia yang relatif menua Amien Rais sebaiknya mencari ketenangan batin seperti yang dilakukan Hujjatul Islam al-Ghazali. Bukan masanya lagi berbaur di tengah hiruk pikuk politik yang menjemukan. Karena, bukan ketenangan batin yang digapai, melainkan kegersangan jiwa.

People power bukanlah problem solver. Namun, ia adalah sempalan dari terorisme yang meresahkan jiwa masyarakat. Karena, kebebasan masyarakat telah dirampas secara paksa, tak ubahnya tindakan kolonial yang merebut kemerdekaan Indonesia tempo dulu. Sudah lama Indonesia bernafas dalam kemerdekaan. Dengan goncangan isu terorisme dan people power, kemerdekaan berada dalam cengkraman kolonialisme. Karenanya, people power akan menuai petaka karena masyarakat Indonesia akan chaos, kalang kabut. Hal itu bukan rasa syukur yang Tuhan kehendaki, melainkan kekufuran yang akan berujung pada malapetaka, sehingga Indonesia bukan lagi menjadi negara impian dengan cita-cita baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, negara yang subur dan makmur, adil dan aman.

Hal terbaik untuk menyikapi komplik politik adalah musyarawarah. Karena, musyawarah dapat mempertemukan dua sisi yang berseberangan dan mengurai benang yang kusut. Selain itu, mendahulukan kepentingan negera daripada kepentingan pribadi. Maka, dengannya sekte Prabowo-Sandi akan legowo dengan kekalahan pada laga politik. Sebab, kekalahan bukanlah akhir dari perjalanan. Kekalahan adalah jeda menuju kemenangan. Enyahkan ego dan ambisi karena negera adalah rumah bersama yang dibangun bersama-sama pula. Sungguh sangat menyayangkan rumah itu roboh karena ego pribadi.[] Shallallah ala Muhammad.


Sumber : harakatuna.com