Aksi terorisme memang sangat sulit untuk dimusnahkan. Betapa tidak. Sampai deti ini, teroris belum benar-benar ditumpas sampai ke akar-akarnya. Justru yang terjadi adalah, bibit-bibit terorisme terus lahir dan mengancam kehidupan kita. Memberi ketakutan, sehingga hidup tak aman dan tenang.

Seolah tak mau ketinggalan zaman, kini peredaran paham radikal sudah merambah pada sisi yang canggih dan cepat, yakni media sosial atau internet. Langkah ini tentu sebagai ditempuh karena menyesuaikan kebiasan masyarakat yang  saat ini banyak menggunakan media sosial dan internet dalam setiap aktivitas sehari-hari.

Jelaslah bahwa terorisme memang tujuannya adalah memberi ketakutan bagi masyarakat, sebagaimana ditilik dari sisi bahasa, kata “terorisme” berasal dari kata “to terror” dalam bahasa Inggris.

Dalam bahasa latin, kata ini disebut Terrere, yang berarti “gemetar” atau “menggetarkan”. Kata terrere adalah bentuk kata kerja (verb) dari kata terrorem, yang berarti rasa takut luar biasa, sehingga secara kasar dapat dikatakan bahwa terorisme adalah segala sesuatu yang bertujuan untuk menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada masyarakat.

Ketakutan itu harus kita cegah atau tangkal dengan peran bersama menyelamatkan anak bangsa dari hasutan dan ajakan dari oknum teroris, terutama di media sosial. Masyarakat, pemerintah, ulama dan ormas perlu bersatu padu mencegah ketakutan terus menerus yang menghantui kita dengan aksi-aksi yang semakin ganas.

Peran Tokoh Agama dan Ormas

Belum lama ini, pasukan Demokratik Suriah (SDF) telah mengumumkan kehancuran total jaringan kelompok teroris, Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) beberapa waktu lalu. Meski begitu, kita tak pantas bereuforia terlalu berlebihan dan menganggap bahwa terorisme di seluruh dunia sudah lenyap.

Teroris tak dapat terdeteksi oleh siapapun. Kapan dan dimana saja aksi teroris dapat mengancam kehidupan kita. Jadi, perlu waspada, apalagi di Indonesia. Mengapa? Jelas bahwa berbagai temuan mengkonfrmasi bahwa banyak WNI yang telah bergabung dengan ISIS, bahkan beberapa komunitas atau kelompok diduga kuat berafiliasi dengan ISIS. Sebut saja JAD.

Maka, wajib kita semua pihak ikut menangkal paham radikal merasuki anak bangsa agar tidak banyak teroris lahir di Indonesia. Karena itu, peran ormas dan tokoh agama diperlukan. Mengapa harus melibatkan ormas? Alasan mendasarnya adalah bahwa ormas adalah suatu komunitas yang punya basis konstituen nyata dan jelas. Kondisi ini akan efektif untuk terlibat dalam gerakan menangkal paham radikal.

Dengan demikian, ormas-ormas harus terlibat secara aktif, baik di level hulu dalam artian ikut terlibat dalam merumuskan kebijakan termasuk untuk membendung di berbagai level. Sebagai contoh di level eksekutif atau legeslatif, bisa berbentuk undang-undang maupun peraturan. Selain itu, dalam program atau platform setiap ormas perlu memasukkan prioritas bahwa pencegahan untuk melarang organisasi radikal seperti ISIS (mediaindonesia.com, 4/4/2019).

BACA JUGA:  Islam Buku dan Islam Kehidupan

Selanjutnya, peran tokoh agama juga sangat penting. Kita ketahui bahwa tokoh agama tentu memiliki umat yang begitu banyak. Sering bertemu dengan umat maupun muridnya belajar agama, maupun tampil di mimbar rumah ibadah seperti Masjid, Gereja maupun rumah ibadah lainnya untuk berceramah atau berkhutbah.

Saat itulah diajarkan dan diajak umatnya untuk mau dan mampu menolak paham radikal yang kapan saja datang. Penguatan nilai-nilai agama itu penting. Ajaran agama diperkuat agar lebih mengenal Tuhan lebih dekat sebagai sumber kehidupan, pelindung dan pemberi nafas kehidupan.

Ajaran agama menolak kekerasan dan juga terorisme karena memang tidak sesuai dengan ajaran Tuhan yang mengajak kita berbuat kebajikan di bumi ini, membantu sesama dan hidup berdampingan tanpa ada rasa takut.

Tokoh agama harus terus mengingatkan bahaya terorisme yang mengancam kita. Mengingatkan untuk menolak segala bujuk rayu atau hasutan oknum teroris yang datang biasanya melalui media sosial. Itu penting! Tokoh agama harus mengajarkan sebuah kebaikan karena akan lebih memberi kenikmatan bagi kehidupan.

Jangan sampai tokoh agama juga ikut menanamkan benih-benih intoleransi yang merupakan titik pangkal dari aksi terorisme itu dan mengajarkan ajaran agama yang salah demi menciptakan umat beragama yang iri, dengki dan dendam.

Perpaduan antara peran ormas dan tokoh agama rasanya mampu menjadi benteng kokoh mencegah masuknya paham radikalisme ke pikiran masyarakat. Ajaran kebaikan yang ditanamkan mampu mengalahkan kejahatan.

Maka dari itu, saatnya kita ajak dan dorong ormas dan tokoh agama bersinergi dan segera melakukan peran tersebut. Berikan pemahaman pada masyarakat bahwa tujuan sebuah ormas berdiri begitu baik bagi kehidupan kita. Ormas dicintai oleh masyarakat. Kesan buruk terhadap ormas pun dapat terkikis habis.

Kalau bukan kita yang bertindak jadi siapa lagi? Apakah kita harus terus menerus merasakan sakit, pahit dan ketakutan karena ancaman terorisme yang mematikan raga kita? Maka, mari bersinergi untuk menangkal radikalisme demi kehidupan yang aman, nyaman dan tenteram. Perlu kita memfokuskan peran ormas dan tokoh agama diperkuat memutus benih-benih terorisme baru.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com