Umat muslim (di) Indonesia sedang berada dalam pertarungan definisi umat “muslim sejati”. Setiap orang saling bergegas menuju barisan terdepan untuk mengibarkan “Panji Illahi”. Kajian Islam dan ajakan “hijrah” di mana-mana. Yang tidak pernah mengaji tiba-tiba berdalil seolah sudah tau segalanya. Penjual hijab syar’i laris manis dan menjadi tren di semua kalangan. Panggilan ukhti dan akhi (yang dulu –hanya– saya temukan di Madrasah Aliyah Keagamaan) kini sudah tidak asing lagi saya dengar, walaupun sebenarnya semakin hari kok saya malah semakin geli mendengarnya.

Paparan tersebut merupakan sebagian kecil ciri khas dari fenomena hijrah yang sedang tren di kalangan artis, kaum milenial, serta masyarakat urban. Mirisnya, akan ada pengukuhan label sebagai muslim/ah sejati jika seorang pria (muslim) melakukan poligami dengan dalih “untuk memperbanyak umat Muslim”. Praktik poligami inilah yang mengakibatkan ketimpangan gender dalam masyarakat. Alih-alih sebanyak 86% penduduk Indonesia menentang praktik poligami, namun fenomena sekarang adalah, perempuan aktif berpartisipasi dalam berpoligami, bahkan ada saja istri yang sengaja datang ke acara konferensi poligami dengan tujuan ingin mencarikan istri kedua untuk suaminya.

Rizki Ramdani, seorang pria berkecukupan, yang merupakan “juru kampanye” poligami ini pernah melakukan konferensi poligami. Ia mengatakan bahwa ia bercita-cita memiliki empat istri. Dalam konferensinya, ia berdalih “Sebaik-baik manusia adalah yang istrinya empat, karena wanita adalah fitnah terbesar. Umat Islam sedikit, kita lawan dengan poligami.”

Bagi Rizki, tidak dituntut adil dalam perasaan, karena perasaan merupakan sebuah hal yang tidak bisa dihitung. Adil yang dipahami oleh Rizki dipersempit hanya sebatas pembagian jumlah malam serta nafkah saja. Padahal, adil dalam membagi perasaan terhadap empat istri merupakan hal yang wajib. Dalam hal perasaan, tidak ada manusia yang dapat berlaku adil. Tidak memperhitungkan rasa adil dalam hal berumahtangga atau poligami sesungguhnya merupakan sebuah kekerasan terhadap perempuan.

“Laki-laki ada potensi untuk mencintai lebih dari dua wanita. Menyalurkan nafsu kepada istrinya merupakan ibadah. Jika memiliki dua istri, maka ia memiliki dua lahan untuk memperoleh pahala.” Tutur Rizki. Pertanyaan penulis adalah, mengapa statement ini yang diangkat sebagai alasan untuk seseorang melakukan poligami? Apakah perempuan hanya dianggap sebagai industri seks? Apakah sedemikian rendah martabat seorang perempuan sehingga dijadikan sebagai lahan penyaluran nafsu dengan iming-iming “pahala”?

Jika berdalih bahwa poligami merupakan sunnah Rasul karena Rasuullah saw. memiliki sebelas istri, hal tersebut tidak boleh dipahami dengan nalar pendek. Rasulullah saw. melakukan poligami semata-mata untuk mengangkat derajat para wanita janda tuda yang suaminya gugur dalam jihad menegakkan agama Islam. Para janda tua tersebut masing-masing memiliki beberapa anak yang masih kecil-kecil. Lain halnya dengan praktik poligami bapak-bapak “muslim sejati atau lelaki sejati” sekarang yang mencari perawan ting-ting dengan argumen penguat “Umat muslim itu sedikit, jadi harus diperbanyak dengan poligami”.

BACA JUGA:  Ledakan Bom Pakistan Tewaskan 4 Tentara dan Sejumlah Warga Negara

Ketika tim Vice Indonesia mewawancarai istri pertama Rizki perihal poligami, sebagai istri yang solehah tentu ia membela suaminya dong. Begini ucapannya, “Kenapa saya melarang? Emang saya Tuhan? Saya tidak merasa terhina. Barangsiapa yang cemburu, maka akan ada pahala syahid baginya. Laki-laki kalau mau syahid harus berperang secara qital dulu. Kalau perempuan, mudah, hanya dengan cemburu. Yang seharusnya kita cintai itu bukan mahluk. Toh, kalau kita kembali, suami tidak akan mempertanggungjawabkan apa yang kita perbuat.”. Entah, penulis tidak tahu, dapat dari kitab mana argument seperti itu. Padahal ia pun mengakui bahwa sebenarnya sulit menerima, namun ia yakin betul bahwa cemburu merupakan pahala untuk istri. Ya, semoga husnudhonnya benar.

Poligami dianggap sebagai ibadah. Namun, mengapa ibadah harus dengan cara menyakiti wanita? Apa ia sudah tidak dapat menemukan ibadah dengan cara lain?

Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Jika memang benar poligami adalah ibadah, namun mengapa wanita mesti disakiti? Logika sederhananya, jika Allah Maha Pengasih, maka Allah tidak akan membuat sistem yang menyakitkan seperti itu.

Sebagian besar orang yang menggaungkan poligami, yang dikutip hanya sepenggal ayat saja. فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ. Padahal tidak demikian, kalimat selanjutnya adalah فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً, “jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka (nikahilah) seorang saja.”. Adil jangan diartikan dari sudut pandang nafkah lahir dan bathin saja. Adil yang dimaksud di sini mencakup banyak hal, seperti materi, berbagi peran di masyarakat atau dalam wilayah domestik, adil dalam membagi waktu, serta adil dalam menjaga perasaan. Poin terakhir menjadi penting karena selama ini banyak yang menganggap bahwa kecemburuan tidak dianggap sebagai kekerasan psikologis.

Konstruksi budaya patriarki yang terbangun dalam masyarakat seringkali menyudutkan perempuan. Barangsiapa yang poligami, maka ia akan masuk surga. Para istri berjuang dalam hatinya yang sakit, demi surga. Dalam Alquran, tidak satu ayat pun yang mengatakan bahwa ada jaminan surga bagi yang berpoligami. Allah tidak akan menurunkan ketidak-adilan. Dalam hal ini, bukan Alquran yang salah, tapi pembacanya yang salah memahami dan tidak dapat menangkap pesan yang terkandung dalam Alquran.

 

 


Sumber : harakatuna.com