Harakatuna.com.  London- Sufyan Mustafa (24), salah satu putra dari ulama radikal Abu Hamza dikabarkan ingin kembali ke Inggris, setelah lima tahun bertempur di Suriah.

Mustafa adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Mantan mahasiswa ilmu komputer itu meninggalkan keluarganya di West London dan pindah ke Suriah pada 2013. Saat itu dia masih berusia 19 tahun.

Dia mengaku pertempur bersama kelompok pemberontak yang menentang rezim Bashar al-Assad, namun Pemerintah Inggris memutuskan untuk mencabut kewarganegaraannya karena dituduh terlibat dengan jaringan teroris.

Sang ayah, Abu Hamza, adalah seorang ulama yang dikenal radikal karena mendukung serangan teror terhadap WTC di AS pada 11 September 2001.

Dia telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh AS pada 2014 setelah didakwa terlibat dengan 11 aksi teror.

Namun, alih-alih kasus yang menjerat sang ayah, Mustafa menegaskan dirinya tidak seperti ayahnya dan bakal mengajukan banding atas pencabutan kewarganegaraannya oleh pemerintah Inggris.

Dilansir The Sun, salah satu sumber yang mengaku teman dekat Mustafa mengatakan, putra sang ulama telah dicegah saat hendak terbang ke Inggris melalui Turki pada akhir tahun lalu.

“Dia ingin mengajukan banding atas keputusan yang mencabut kewarganegaraan Inggris miliknya,” kata sumber itu.

“Mustafa diberitahu bahwa dia dapat terbang dari Turki ke Maroko, namun dia tidak mau.”

“Dia memang bukan tidak memiliki kewarganegaraan karena bisa pergi ke Maroko. Tidak ada kewajiban bagi Inggris untuk menerimanya kembali,” lanjut pernyataan sumber kepada The Sun.

Disampaikan rekan Mustafa, dia pernah mencoba memasuki Turki bersama anggota kelompok pemberontak lainnya pada tahun lalu untuk mencari perlindungan.

“Dia telah ditahan di pusat penahanan karena orang-orang Turki tidak menginginkannya, begitu juga dengan Inggris.”

BACA JUGA:  Kemerdekaan Palestina Ada di Tangan OKI

“Tetapi Sufyan tidak ingin pergi ke Maroko dan dia sangat ingin kembali ke sini (Inggris),” ujarnya.

Kasus Mustafa ini kembali mengingatkan pada cerita Shamima Begum, perempuan asal Inggris yang ingin kembali setelah sempat bergabung dengan ISIS.

Baik Mustafa maupun Shamima, sama-sama telah dicabut kewarganegaraannya oleh Inggris.

Namun berbeda dengan Shamima yang terancam tidak memiliki kewarganegaraan, Mustafa memiliki kewarganegaraan Maroko dari ibunya, Najat, yang juga istri kedua Abu Hamza.

Pada 2017, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar, Mustafa sempat mengatakan bahwa Inggris adalah Tanah Air-nya.

“Saya tidak pernah menjadi ancaman bagi keamanan nasional Inggris dan tidak akan melancarkan agresi terhadap penduduknya karena agama saya tidak memperbolehkan penyerang orang tak berdosa yang tidak bersenjata.”

“Abu Hamza adalah ayah saya, dia memiliki opininya sendiri dan saya juga memiliki opini saya sendiri.” “Mencabut kewarganegaraan saya hanya karena saya memiliki hubungan dengan Abu Hamza tidak bisa disebut sebagai sebuah keadilan,” ujarnya saat itu.


Sumber : harakatuna.com