Jum’at kemarin membuat saya badmood. Kronologisnya sederhana: sandal saya raip habis melaksanakan shalat Jum’at di sebuah masjid. Sengaja disensor identitas masjidnya agar terhindar dari kecaman sebagian pihak. Saya tidak mempersoalkan masjid, namun menyayangkan manusianya yang shalat di sana sementara shalatnya belum memberikan dampak positif terhadap prilakunya.

Kasus ghashab (mengambil hak milik orang lain tanpa bermaksud mencuri) diketahui sebagai perbuatan yang amoral. Namun, secara praktis ghasab belum diperhatikan sehingga banyak orang yang gemar mengghasab milik orang lain. Mungkin, kasus ini sepele, tapi hal ini akan berakibat fatal terhadap kesalehan seseorang, sehingga ibadah yang dilakukan tidak memberikan manfaat sedikitpun dan ibadahnya dapat diterjemahkan dengan kalimat: Wujuduhu ka adamihi. Adanya seperti tidak adanya.

Tepat hari Jum’at pula, ada sebuah peristiwa yang membuat hati terluka, lebih-lebih umat Islam. Ditemukan—seperti yang diberitakan dalam detiknews—empat puluh sembilan orang Islam yang ditembak secara brutal di dua masjid, yaitu Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, Christchurch, Selandia Baru (New Zealand).

Penembakan brutal ini merupakan tindakan teroris dengan gaya lain. Karena, teroris biasanya menggunakan bom dalam menjalankan misinya, lebih-lebih sampai bertindak bom bunuh diri. Tentunya, tindakan ini tidak manusiawi, tidak menyejukkan, dan tidak menyelamatkan. Selain itu, terorisme bukan ajaran Islam, sekalipun pelaku mengatasnamakan Islam.

Islam secara literal seakar dengan kata salamah yang dipahami dengan arti keselamatan. Secara sederhana, Islam menghendaki, bahkan mencita-citakan, terciptanya keselamatan atau perdamaian di muka bumi. Siapa pun yang belum menyelamatkan yang lain, baik manusia maupun benda, adalah bukan muslim, orang yang memeluk agama Islam dengan kaffah, sejati. Mereka yang suka berbuat kerusakan adalah orang munafik yang mengaku muslim, padahal pesan Islam belum tercermin di hati dan perilakunya.

Sikap kemunafikan disinggung pada permulaan surah al-Baqarah ayat 11: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Kaum munafik berdalih dengan lisannya. Dalih ini disanggah pada ayat berikutnya: Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. Memang begitu sikap orang munafik. Makanya, sikap kemunafikan kemudian dijelaskan secara terperinci dalam dua ayat berikutnya lagi: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!” Mereka menjawab: “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata: “Kami telah beriman.” Tetapi, apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”

Pada tempat lain, kesejukan berislam dirasakan saat bertamu ke tempat ibadah, masjid. Serasa tenang berteduh di sana sampai dirumuskannya ibadah beriktikaf (berdiam diri di masjid) dengan iming-iming pahala yang berlipat ganda. Ketenangan beribadah di masjid memberikan dampak positif terhadap kekhusukan beribadah, sehingga ibadah yang dilaksanakan membuahkan hasil, baik di dunia maupun di akhirat.

BACA JUGA:  Jangan Suriahkan Indonesia

Namun, tindakan terorisme yang dilakukan di dua masjid Selandia Baru sungguh meresahkan psikologi umat Islam yang bermaksud beribadah. Umat Islam dibuat ketakutan dan jiwanya tergoncang, sehingga tidak ada rasa kekhusukan dalam beribadah. Bahkan, masjid seakan penjara yang horor,menyeramkan, dan menakutkan. Karena itu, masjid menjadi kuburan yang sepi dari pengunjung. Umat Islam akan lebih memilih beribadah di rumah sendiri karena menenangkan dibandingkan di masjid yang menyeramkan. Semua ini karena terorisme yang biadab, tidak manusiawi, dan amoral.

Bila “Islam” adalah kata yang memiliki antonim “kafir”, maka yang kafir itu adalah terorisme itu sendiri. Karena, terorisme menutup (kafir) hatinya membenarkan dan mengaplikasikan pesan-pesan Islam yang menghendaki perdamaian, kesejahteraan, dan persatuan. Kafir bukan orang yang memeluk agama selain Islam. Siapa pun yang sikap dan hatinya mempercayai pesan-pesan Islam yang moderat (wasathiyyah) kemudian mengaplikannya dalam kehidupan sehari-hari, maka ia adalah muslim sejati, anti-radikalisme, anti-terorisme. Islam moderat adalah agama yang diajarkan dan diamalkan (dijadikan sunnah) oleh Nabi Muhmmad saw. Semasa hidup beliau menghindari tindakan radikal dan ekstrem. Sungguh tidak dapat dibenarkan sebuah asumsi bahwa perang (qital) yang dilakukan beliau adalah tindakan ekstrem yang kemudian dapat dijadikan alasan bertindak ekstrem, karena beliau sejatinya tidak menghendaki perang, terus peperangan terjadi antara kaum muslimin dan kaum musyrikin karena adanya serangan dari pihak lawan, sementara kaum muslimin melindungi diri, bukan menyuarakan cita-cita perang sebagai solusi mengatasi masalah.

So, pesan moderat merupakan semangat Islam. Karena, Islam mengkafirkan (menutup diri) dari tindakan terorisme dan radikalisme yang kedua-duanya bukan ajaran Islam, sekalipun terorisme mengatasnamakan Islam. Islam punya masjid yang dijadikan tempat berteduh menenangkan jiwa yang kalut, menghibur hati yang sakit, dan menjamin keselamatan dari tindakan teroris. Bila tidak demikian, Islam yang akan tercoreng sebab tindakan pemeluknya sendiri yang tidak manusiawi dan masjid akan menjadi penjara yang menakutkan, horrible.[] Shallallah ala Muhammad!

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com