Kata “santri” dalam masyarakat sering merujuk pada orang yang sedang mengkaji kitab suci dan memperdalam agama di sebuah tempat yang benama pondok pesantren dengan bimbingan seorang Kyai. Pakaian yang dikenakan santri sehari-hari, lazimnya, yaitu peci dan sarung. Kedua hal ini seakan-akan menjadi ciri khas tersendiri yang menunjukan seorang santri.

Pada era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi sekarang ini santri mendapat tantangan yang sangat luar biasa. Karena kegiatan ekonomi industri akan terjadi secara besar-besaran. Jika santri tidak mampu mengikuti revolusi yang terjadi maka eksistensi santri akan terpinggirkan oleh orang yang punya harta.

Bukanlah sebuah  alasan ketika seorang santri tidak bisa memenuhi secara finansial karena kegiatan sehari-hari sibuk mengaji dengan dalih orang yang berharta akan masuk syurga 40 tahun setelah orang miskin (HR Muslim). Hal ini yang kemudian mereka anggap bahwa orang miskin lebih mulia dari pada orang kaya dan konsep zuhud yang menganggap ketidakbutuhan duniawi.

Jika hipotesis penulis tersebut benar terjadi di masyarakat khusunya santri, maka terjadi kesalahan enterpretasi hadist tsb. Karena konteks orang miskin pada hadist ini adalah kaum muhajirin (kaum Mekkah yang hijrah ke Madinah) yang rela meninggalkan harta-harta mereka demi hijrah bersama nabi. tentu mereka adalah orang-orang yang lebih kaya dari siapapun karena harta yang sudah mereka miliki berani mereka tinggal hingga membuat mereka hidup miskin. Jadi, mereka membuktikan kehidupan dunia yang telah mereka genggam berani mereka tinggalkan demi agama. Hal inilah konsepsi zuhud yang sebanarnya.

Selain hal itu agama islam juga memerintahkan agar umat islam kaya. Terbukti dari hadist yang berbunyi ”Tangan di atas lebih baik dari pada tangan dibawah, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan oleh orang yang tidak membutuhkannya. Barang siapa yang menjaga kehormatanya maka Allah akan menjaganya dan barang siapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.”(H.R Muttafaq Alaih). Pada hadist ini jelas bahwa seorang yang meberi itu lebih baik daripada yang menerima dan sebaik-baik pemberi adalah orang yang tidak butuh. Jadi jelas dua hal ini tidak dimiliki orang miskin. Karena bagaimana mungkin seorang miskin akan memberi ketika untuk diri sendiri tidak punya dan bagaimanamau berbagi ketika diri sendiri masih membutuhkan.   

Salah satu tugas seorang santri ketika lulus dari pondok pesantren adalah menyebarkan agama islam dan berdakwah. Inilah sabilillah pada negeri Indonesia sekarang bukan dengan senjata. Dalam tugas dakwah janganlah dirasa tak perlu uang atau modal. Karena di lapangan permasalahan tak melulu tentang agama tapi juga ekonomi. jadi ketika santri sudah mandiri dan mampu ekonomi maka akan tahu cara menghadapi problematika ekonomi umat Bukan malah menjadi beban umat. Wallahu ‘alan bi al-showab.

Oleh: Moch Rosyad AR, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo


Sumber : harakatuna.com

BACA JUGA:  Puasa Ramadhan sebagai Metodologi dan Manajemen Diri