Harakatuna.com. Yogyakarta-Organisasi politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang telah dilarang oleh pemerintah. Namun riset menunjukkan aktivis dan sayap organisasi HTI  masih eksis di  kampus, seperti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama (LPPM UNU), Widya Priyahita, menjelaskan sayap mahasiswa HTI, Gema Pembebasan, di dua kampus negeri di Daerah istimewa Yogyakarta itu masih tetap beraktivitas.

“Buktinya bisa dicek akun Twitter dan  Instagramnya. Mereka masih menyebarkan info kegiatan. Pada 23-24 Februari lalu, ada kegiatan  cukup besar untuk umum, publikasi terbuka, dan jelas-jelas pakai label pembebasan. Di UNY ada diskusi pakai nama Teras Dakwah,” tutur Widya saat dihubungi Gatra.com, Sabtu (23/4).

Nama kegiatan sayap HTI tersebut ‘Training Pembebasan’ dengan judul ’Mencetak Kader Progresif Pejuang Syariah dan Khilafah’.

Widya menjelaskan, cabang Gema Pembebasan UGM memang sudah tidak aktif, sementara di UNY tidak ada cabangnya.  Aktivis mahasiswa HTI pun bergabung di tingkat wilayah. “Sekarang aktivitasnya join dan terpusat di tingkat Yogyakarta. Bawah tanah kegiatannya,” kata dia.

Temuan Widya merupakan bagian dari risetnya ‘Bagai Cendawan di Musim Hujan: Menguatnya Gerakan Islamisme di UGM dan Potensi Disruptif yang Ditimbulkannya’.Hasil riset ini telah dipaparkan di diskusi publik ‘Transmisi Ideologi Gerakan Keislaman pada Civitas Akademika Perguruan Tinggi di UGM dan UNY’, di kampus UGM, Kamis (21/3).

“Menariknya HTI pasca-pelarangan, mereka tetap eksis tapi tidak menggunakan nama HTI. Yang dilarang HTI, tidak Gema Pembebasan. Padahal Gema Pembebasan itu afiliasinya ke HTI. Sayap organisasinya HTI. Ini agak aneh, di mana aparat, kalau memang HTI dilarang,” tutur dia di diskusi.

Menurut Widya, Rektorat UGM sebenarnya telah meredam aktivisme HTI dan sayapnya. Namun ternyata Masjid Kampus UGM memberi ruang.

BACA JUGA:  Mahfud MD Ajak Mahasiswa ITB Warisi Sikap Kebangsaan

“Pengelola  mendukung gerakan Islam apapun menjadikan Masjid Kampus UGM ruang diseminasi yang produktif. “Yang jelas dilarang HTI, Gema Pembebasan tidak masalah,” kata  dia.

Widya memaparkan, HTI bersama Tarbiyah  dan Salafi mendominasi gerakan Islamisme di UGM sejak masa reformasi. Eksistensi kelompok moderat seperti NU, Muhammadiyah, dan HMI jalan di tempat dan diambilalih gerakan Islam konservatif,” ujarnya.

Temuan senada ditunjukkan dari riset peneliti LPPM UNU Muhammad Mustafid di UNY.  Menurutnya ada tiga ideologi besar Islamisme di UNY yang punya akar atau jaringan internasional.

“Ada yang berakar Salafi, Ikhwanul Muslimin, dan HTI. Jika di UGM kalah tiga kali (di pemilihan BEM) sejak reformasi, KAMMI yang berakar dari gerakan Tarbiyah Ihwanul Muslimin bahkan tidak pernah kalah,” tuturnya.

Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Abdul Gaffar Karim menanggapi bahwa riset ini detail memetakan fenomena yang sesungguhnya telah diketahui secara umum.

Menurut dia, maraknya gerakan Islam ini di UGM karena agama lebih dijadikan sebagai etos ketimbang sebagai ilmu pengetahuan. “Namun dalam tiap kelompok juga tidak ada yang tunggal, beragam, bisa berseberangan, seperti orang HTI dan Tarbiyah rebutan Masjid Kampus UGM,” tuturnya.

Staf Ahli Wakil Rektor III UNY Nurhidayanto mengatakan akan bercermin atas temuan riset ini sehingga mampu mengelola gerakan ini. “Tapi memang ketika masuk musala kami tidak punya tangan. (Tanya) diskusi apa, kami tidak berani. Kami tidak punya yurisdiksi menyentuh itu,” ujarnya.

 


Sumber : harakatuna.com