Mengintip Senja Berdua. Pagi itu rasanya begitu cepat bersua. Bayang-bayang halaman sekolah tempat belajar dan rumah Ma’ Onang tempat biasa bermain tak kunjung sirna. Bayang-bayang itu begitu kuat menyusup ke alam bawah sadar seakan sulit dilupakan.

“Div, siap-siap!” suara Ummi samar-samar terdengar dari dalam dapur, “Orang-orang udah pada datang.”

“Diva sudah siap, Mi.” Diva berkata dengan nada kesal.

Mengapa pagi ini begitu menyebalkan. Tak ada rasa kebahagiaan yang datang menghiburku. Tuhan, aku lagi bingung antara menuruti kemauanku: memilih kabur. Atau membahagiakan orangtua: memenuhi segala bentuk keinginan mereka. Tapi, aku tidak mau disebut anak durhaka karena menyakiti hati mereka.

Diva, putri sulung seorang Kyai kampung dan tokoh masyarakat. Pesantren dan lembaga formal di rumahnya adalah warisan turun-temurun dari kakek dan buyutnya. Sebagai warisan, tidak diperkenankan selain keluarga Kyai mengasuh pesantren ini. Karena pesantren yang dipimpin oleh selain keturunan Kyai akan kehilangan karisma di mata masyarakat, paling tidak berkurangnya kepercayaan masyarakat. Amanah ini terus dipegang oleh Abah.

Anak sulung memang selalu menjadi tumpuan harapan masyarakat memimpin pesantren, apalagi anak Kyai asli, bukan anak asuhan. Masyarakat memercayai peribahasa: “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Kyai yang karismatik dan amanah akan selalu menurun sifat terpujinya kepada anak-anaknya sendiri. Termasuk Diva yang diharapkan menjadi penerus Abah di tengah-tengah masyarakat.

Berpuluh-puluh masyarakat berduyun-duyun mengantarkan Diva berangkat ke Pesantren Annuqayah, sebuah pesantren besar di Madura. Annuqayah didirikan oleh Kyai Moh. Syarqawi, seorang pendatang dari kota Kudus, Jawa Tengah, pada 1887. Kyai Syarqawi muda sebelum mendirikan pesantren pernah menuntut ilmu di berbagai pesantren di Madura, Pontianak, merantau ke Malaysia, Patani (Thailand Selatan), dan bermukim di Mekah. Perantauannya dalam menuntut ilmu ini dilalui kurang lebih selama tiga belas tahun.

Tahun 2009 Diva mulai menginjakkan kaki di pesantren. Banyak santri berlalu lalang, mobil berderet rapi diparkir di halaman masjid, sementara motor berjajar di area parkir yang berbeda. Tak terhitung banyaknya. Diam sejenak, Diva melihat dua menara masjid pesantren menjulang tinggi mencakar langit.

“Menaranya tinggi banget,” Ucap Diva takjub.

Masjid pesantrennya besar, dibangun dengan gaya arsitektur modern. Sementara Diva belum cukup banyak mengenalnya. Tembok masjid berhiaskan kaligrafi Arab yang indah dan memukau seakan-akan membius matanya untuk tidak mau berhenti menatap.

Bilik-bilik santri berjajar panjang, baju-baju bergantungan di tempat penjemuran. Dapur makan terlihat kumuh. Biasanya beberapa santri rata-rata makannya berbarengan pakai talam besar yang memuat lima atau enam orang.

Beragam budaya terbingkai di pesantren, mulai dari budaya pedesaan hingga perkotaan. Karena tidak dapat dipungkiri, santri yang belajar di sana datang dari daerah yang berbeda-beda. Perbedaan ini bertemu, bersatu, dan menguat. Perbedaan budaya di pesantren jarang menimbulkan konflik, melainkan saling menyatu untuk menggapai tujuan yang sama, yakni membumikan Islam yang moderat dan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

BACA JUGA:  Buletin Jum’at Harakatuna 21 Juni 2019

Adanya saling menghargai satu sama lain  di kehidupan pesantren menggambarkan layaknya serambi Indonesia yang menganut semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.” Maka dengan demikian, pesantren terus berkembang dan membumi di negara pluralistik ini. Bahkan, pesantren mendapat apresiasi di Nusantara dengan momentum Hari Santri Nasional.

“Mari kita sowan ke dalem Kyai!” Abah mengajak masyarakat yang mengantarkan Diva ke pesantren. Diva mengikuti Ummi.

Beberapa menit melangkahkan kaki, tampak bangunan rumah sederhana, halamannya tidak begitu luas tapi bersih. Sementara di sekitar rumah ada kebun salak dengan daun yang melambai-lambai. Terlihat mobil yang diparkir di garasi. “Ini rumah Kyai yang mengasuh pesantren ini, Div.” Ummi berdesis.

Diva terdiam.

“Diva nanti akan ketemu temen baru di sini. Bisa belajar bersama. Bisa main bersama.” Ummi menyemangati Diva yang kelihatan murung.

Pikiran Diva meraba kampung halaman, bahkan Nur, Hakim, dan Aina, teman-teman belajar dan bermain. Diva seolah ingin menumpahkan rasa sesal dengan cucuran air mata di hadapan Ummi, namun ia tidak mau Ummi sedih melihat buah hatinya yang juga sedih, sekalipun sejak berangkat Ummi sudah merasakan gejolak hati Diva.

Tak lama berdiri di halaman rumah Kyai, terlihat dari jauh lalu makin dekat seorang berpeci putih sambil mempersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dialah Kyai Warits. Masyarakat mendekat dan menarik tangan Kyai sembari menciumnya, termasuk Abah. Diva hanya menatap sekejap, karena Diva, Ummi, dan rombongan putri akan duduk berlainan dengan rombongan putra.

Memandang Kyai Warits menggugah hati Diva. Rona wajahnya menyenangkan. Tampak bekas sujud di sepertiga malam guna mendoakan santrinya, bahkan terpancar pengetahuan yang luas di petala hatinya.

Aura sang Kyai sedikit mengobati dan menghibur rasa kesal. Diva mulai merasakannya. “Diva berapa lama di sini, Mi?” tanya Diva saat memasuki lingkungan pesantren putri.

“Satu minggu, Div.” Ummi terpaksa berbohong untuk menghibur Diva agar kerasan dan senang belajar di pesantren.

“Kenapa dia nangis, Mi?” tanya Diva kembali sambil menunjuk seorang santri yang bercucuran air mata sedih di pangkuan orangtuanya.

Ummi mengalihkan pembicaraan. “Ini uang sakunya. Budayakan menghemat, Div. Hemat pangkal kaya.”

Diva diam dan membatin.

Tuhan, aku tidak mengerti, apa maksud semua ini? Aku tiada henti menunggu jawaban-Mu. Kenapa hati ini begitu sulit bersahabat dan menginjakkan kaki di tempat ini. Ini pesantren, tempat para insan menimba ilmu? Ataukah ini penjara yang membatasi kreativitas dan kebebasan? Aku tidak ingin hidupku pilu tanpa secercah cinta.

Akhirnya masyarakat meninggalkan Diva di antara teman-teman baru yang belum saling kenal. Sedih.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah


Sumber : harakatuna.com