Imam ath-Thabari dalam kitab tarikh-nya menceritakan, demi politik kekuasaan, terjadi perang saudara antara Aisyah dan Ali bin Abi Thalib (Perang Jamal), dan antara Khalifah Ali dengan Mu’awiyah (Perang Shiffin). Maka sejarah juga mencatat dengan linangan air mata dan cucuran darah bagaimana cucu Rasulullah dibunuh secara tragis. Kepala Sayyidina Hussain dipenggal, dan hanya kepalanya yang dibawa ke istana Yazid. Tubuhnya dibiarkan tanpa kepala. Inilah awal munculnya dikotomi Syi’ah dan Sunniyyah.

Pada masa kekhalifahan al-Walid berkuasa sekitar 10 tahun, panglima perangnya al-Hajjaj bin Yusuf, yang terkenal bengis dan kejam, termasuk tak segan membunuh para sahabat Nabi dan ulama yang merintangi kekuasaan Dinasti Umayyah.

Umar bin Abdul Azis, Khalifah kedelapan Dinasti Umayyah, menerima bai’at. Dia dikenal sepanjang masa dengan nama yang harum. Dialah contoh Khalifah terbaik dari Dinasti Umayyah. Namun sayang, kekuasaannya tidak berlangsung lama, sependek usianya. Dia wafat diracun oleh keluarganya sendiri.

Pada jaman Khalifah al-Walid II, dia naik haji ke Mekkah dengan tujuan hendak minum khamr (yang memabukkan) di depan Ka’bah. Dia juga menikahi istri-istri ayahnya–sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Imam Suyuthi meriwayatkan dari Dzahabi bahwa al-Walid II juga melakukan liwath. Karenanya, ada yang sampai hati mengatakan dia seorang zindiq. Kepala al-Walid II dipenggal oleh pasukan Yazid bin al-Walid bin Abdul Malik yang kemudian mengambil alih posisi Khalifah. Setelah dipenggal, atas perintah Yazid, kepala al-Walid II ditusuk di ujung tombak dan diarak ke jalan raya dan pasar di Damaskus, bahkan sengaja dibawa ke bekas rumah ayahnya

Khalifah al-Amin Bin Harun ar-Rasyid dalam tarikh ath-Thabari dideskripsikan bagaimana Khalifah al-Amin ini punya hubungan ‘spesial’ dengan Kasim, pelayan istana. Kasim favoritnya bernama Kaustar. Kita tahu bahwa dalam berbagai monarki terdapat lelaki yang dikebiri dan kemudian bebas masuk keluar istana, termasuk ke kamar raja dan permaisuri untuk melayani kebutuhan keluarga kerajaan. Di masa Abbasiyah, kasim ini juga menjadi bagian dari pelayan istana. Hubungan ‘spesial’ antara Khalifah al-Amin terekam dalam catatan sejarah Imam Thabari dan Imam Suyuthi.

BACA JUGA:  Kebanyakan Makan dan Efeknya Menurut Pandangan Ulama

Sejarah kekhilafahan tidaklah semanis cerita-cerita akhi wa ukhti kader HTI. Persekongkolan, pembunuhan, kekacauan dan lain-lain turut terjadi selama rentang waktu tersebut. Bahkan empat dari lima Khalifah awal wafat dibunuh.


Sumber : harakatuna.com