Al Qur’an sebagai pedoman umat manusia untuk menjalani kehidupan, harus terlebih dahulu ditafsirkan agar dapat dipahami dan diamalkan oleh umat, sehingga tujuan dari diwahyukannya Al Qur’an dapat terealisasikan. Dalam kajian tafsir, Nabi Muhammad Saw. adalah orang pertama yang melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat Al Qur’an. Adapun metode penafsian yang digunakan Nabi Saw. untuk menafsirkan ayat ialah dengan menggunakan ayat lain dan atau terkadang Beliau menafsirkan ayat dengan ucapan atau sunnahnya.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. penafsiran Al Qur’an diteruskan oleh Sahabat dengan masih menggunakan metode yang sama seperti yang dilakukan oleh Nabi Saw. diantara tokoh yang paling berpengaruh ialah Abdullah bin Abbas Ra. Penafsiran Al Qur’an semakin terus berkembang pasca meluasnya wilayah kekuasaan Islam dan semakin banyaknya orang yang memeluk agama Islam.

Karena semakin banyaknya umat Islam yang masih awam dan ditambah problematika umat yang semakin rumit, maka Ulama tafsir pun banyak melahirkan metode penafsiran yang digunakan untuk menafsirkan Al Qur’an sehingga penafsiran Al Qur’annya dapat disesuaikan dengan zamannya.

Dalam perkembangan kajian tafsir era modern banyak bermunculan teori-teori untuk menganalisis teks Al Qur’an diantaranya ialah semantik. Semantik Al Qur’an pertama kalinya dikenalkan oleh Toshihiko Izutsu.

Secara bahasa “sematik” berasal dari bahasa Yunani yang berarti memaknai, mengartikan, menandakan. Menurut istilah, semantik adalah ilmu yang menyelidiki tentang makna, yang berkaitan dengan hubungan antar kata atau lambang dengan gagasan yang diwakilinya, maupun yang berkaitan dengan penelusuran terhadap riwayat-riwayat makna itu beserta perubahan yang terjadi atas makna tersebut.

Dan menurut Izutsu, Semantik ialah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan sudut pandang tertentu sehingga sampai pada tujuan akhir yakni pengertian konseptual weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.

Menurut Toshihiko Izutsu, untuk memahami suatu kata dalam Al Qur’an secara semantik diperlukan beberapa analisis. Pertama, Analisis makna dasar dan analisis makna relasional. Makna dasar ialah makna awal atau asli yang terkandung pada suatu kata, sedangkan makna relasional ialah makna baru yang diberikan pada suatu kata karena perubahan keadaan tertentu. Untuk menganalisis makna dasar suatu kata harus ditelusuri awal mula kata itu terbentuk. Sedangkan untuk menganalisis makna relasional diperlukan pengetahuan mengenai relasi suatu kata dengan kata lainnya. Diperlukan pula analisis sintakmatik dan analisis paradigmatik untuk mengetahui makna relasional suatu kata. Analisis sintakmatik ialah analisis untuk menemukan makna suatu kata ketika kata tersebut berdampingan dengan kata lainnya. Dan analisis paradigmatik ialah analisis terhadap suatu kata yang kaitannya dengan sinonim dan Antonimnya.

BACA JUGA:  Pesantren, Literasi dan Cinta yang Beretika

Kedua, analisis sinkronik dan diakronik. Analisis sinkronik ialah Analisis yang digunakan untuk mengetahui tidak berubahnya makna dari suatu kata, sedangkan analisis diakronik ialah Analisis yang digunakan untuk mengetahui perubahan makna dari suatu kata yang diakibatkan beberapa kronologi waktu. Kaitanya dengan Al Quran, Izutsu mengelompokkan kronologi waktu ke dalam tiga bagian yakni pra Quranik, era Quranik, dan post Quranik.

Ketiga, menemukan weltanschauung. Langkah terakhir ini ialah menemukan dan mengungkapkan konsep-konsep yang ada di dalam Al Qur’an agar dapat dipahami dan diamalkan oleh umat manusia sehingga tercipta masyarakat yang quranik dan terbentuk kehidupan yang berlandaskan Al Qur’an.

Adanya Semantik Al Qur’an bertujuan untuk memberikan pemahaman baru terhadap apa yang ada di dalam Al Qur’an sehingga dapat diamalkan oleh umat sesuai dengan zamannya. Dan dengan adanya metode analisis semantik seorang penafsir dapat mengungkap pesan dan makna yang ada dalam Al Qur’an secara lebih luas dan lebih rinci.

[zombify_post]


Sumber : harakatuna.com