Kebekuan Islamophobia yang selama ini kita rasakan dampaknya bagi kerukunan beragama menjadi sedikit mencair dengan adanya pertemuan dua pemimpin besar umat Islam dan Katolik yaitu Syekh Al-Azhar  yang bernama Syekh Dr. Ahmad Thayyib dengan Paus Fransiskus pada tanggal 03-05 Februari lalu. Pasalnya pertemuan yang diselenggarakan di Ibu Kota Uni Emirat Arab (UEA) tersebut membuka sedikit pintu gerbang perdamaian untuk kehidupan antar agama yang lebih baik dan harmonis.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak mengharapkan agar adanya dialog antar pengikut agama yang terbuka, toleran, dan saling menghormati. Sehingga tidak ada lagi penggunaan agama sebagai penebar dan pemicu kebencian, kekerasan, permusuhan, ekstrimisme, dan intoleransi. Paus menegaskan bahwa penggunaan nama Tuhan ataupun agama yang dijadikan topeng untuk berbuat kekerasan justru akan menodai agama itu sendiri. Pun  Syeikh Al-Azhar yang mengatakan bahwa semua agama melarang pertumpahan darah.

Jika kita melihat sejarah, berbagai kejadian-kejadian teror yang mengatasnamakan Islam seperti tragedi WTC di Amerika, bom bunuh diri di Inggris, bom bunuh diri di Spanyol, pembunuhan politikus Belanda, pembunuhan sutradara Theo Van Gogh oleh seorang muslim, dan lain sebagianya menyebabkan stigma negatif bagi agama Islam sehingga Islam dikenal sebagai agama yang keras dan penuh teror yang kehilangan jati dirinya.

Peter Gottschalk dan Gabriel Gabriel Greenberg (2008:1) menyebutkan bahwa sekalipun pihak muslim yang terlibat pada kekerasan tersebut tidak mewakili lebih dari satu golongan dari golongan muslim di dunia, tetapi tetap saja hal ini mengukuhkan citra barat tentang intoleransi muslim hingga akhirnya berdampak pada muslim di Barat ataupun di daerah lainnya yang semakin mengasingkan diri.

Misi agama Islam sendiri sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya’ ayat 107 yaitu sebagai pembawa rahmat (kasih sayang atau kebaikan) sehingga adanya agama Islam ini sudah seyogyanya menebarkan kebaikan kasih sayang dan kebaikan bukan hanya untuk umat muslim saja, melainkan juga bagi untuk semua penghuni alam semesta. Lantas bagaimana dengan mereka yang kian mengkoar-koarkan agama Islam menurut versi mereka sendiri yang seringkali melenceng dari prinsip-prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

Hingga kini menyebarnya beberapa golongan-golongan Islam yang radikal, rigid, dan intoleran semakin memperburuk keadaan dan kerukunan umat beragama. Dan lagi-lagi Islam menjadi topeng dibalik kekerasan tersebut. Meski sebenarnya segala bentuk kekerasan yang berkedok jihad fi sabilillah tak selamanya bernafaskan Islam. Di Indonesia sendiri contohnya, kerenggangan antara umat beragama yang sebenarnya bermula damai hingga akhirnya mulai tergoyahkan.

BACA JUGA:  Indonesia Tanpa Radikalisme Agama

Nahdlatul Ulama’ yang merupakan salah satu organisasi masyarakatpun menyambut dengan baik pertemuan para tokoh agama dunia tersebut. Hal ini selaras dengan gagasan dan praktik perjuangan para kiai NU yang selalu memiliki prinsip ukhuwah yang hingga kini tetap dipegang luhur baik dalam bentuk ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Insaniyah, maupun ukhuwah wathaniyah.

Dalam (meghidupkan ruh pemikiran KH. Achmad Siddiq, 1999) menawarkan pendekatan kesufian dalam melihat umat manusia menjadi salah satu jembatan baik guna menanggapi perbedaan cara pandang keagamaan, baik secara teologis dan fiqh yang seringkali menimbulkan perpecahan antar-manusia sehingga sangat perlu dibangunnya ukhuwah insaniyah.

Paling tidak pertemuan Paus dan Syeikh Al-Azhar memberikan sedikit warna dan dimensi estetika di kalangan umat beragama di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya. Pertemuan ini dilanjut dengan konferensi persaudaraan umat manusia (al ikhwal al insaniyah) yang puncaknya adalah penandatanganan sebuah dokumen yang berisi perlunya membangun jembatan antar-agama, budaya, dan masyarakat yang berbeda-beda.

Syeikh Al-Azhar berharap bahwa umat muslim dapat melindungi umat Kristiani di negara-negara kawasan Timur Tengah yang notabennya beragama Islam sebagai mitra sesama warga negara dan tidak menggunakan kata Islam sebagai agama mayoritas dan non-Islam sebagai agama minoritas. Pun dengan umat Islam yang berada di negara-negara Barat agar mereka tak segan untuk mengintegrasikan diri dalam masyarakat ketika berada dimana saja dan tidak bersikap ekslusif sehingga dapat mengurangi propaganda kelompok ekstrem kanan Eropa/Barat yang semakin kian marak membumi.

*Oleh: Aisyah, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Pekalongan.


Sumber : harakatuna.com