Budaya masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, sudah melekat erat di dalam kehidupan keseharian. Budaya yang digali dari nilai-nilai luhur yang diajarkan dan diwariskan oleh nenek luhur masih terjaga sampai saat ini, meskipun ada beberapa budaya yang mulai ditinggalkan. Salah satu wujud kebudayaan yang seringkali dikenal adalah tradisi nyadran. Tradisi nyadran ini dilakukan secara turun-temurun.

Kemarin, sebelum/menjelang memasuki bulan Ramadan, masyarakat, khususnya di pekalongan Jawa Tengah sedang nguri-nguri tradisi menjelang puasa, yaitu nyadran.

Nyadran dilakukan setiap bulan Ruwah pada kalender Jawa atau Sya’ban pada kalender Islam. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.

Jadi secara mafhumnya, nyadran adalah upacara selamatan di Jawa untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal dunia yang dilaksanakan rutin setahun sekali menjelang bulan ramadhan tepatnya pada bulan Ruwah atau Sya’ban (Imam Budi Santoso, 2012:53). Menurut Poerwadarminta (1939) yang dikutip oleh Gatut Saksono dalam bukunya yang berjudul faham keselamatan dalam budaya Jawa, nyadran disebut juga dengan slametan atau memberi sesaji ditempat yang angker atau keramat, bisa juga berarti selamatan (selametan) di bulan ruwah untuk menghormati para leluhur (biasanya dimakam atau tempat yang keramat, sekaligus membersihkan dan mengirim bunga (gatut saksono, 2012: 84).

Jika ditilik dari perspektif sosio-historisnya, nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya para walisongo berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musyrik.

Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelasraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan. Kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran atau Ruwahan adalah:

BACA JUGA:  Mahfud MD dan Makna Islam Garis Keras

  1. Menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.
  2. Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan.
  3. Melakukan upacara ziarah kubur, dengan berdoa kepada roh yang telah meninggal di area makam.

Nyadran biasanya dilaksanakan pada setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya’ban. Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga telasih. Bunga telasih digunakan sebagai lambang adanay hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi.

Para masyarakat yang mengikuti Nyadran biasnya berdoa untuk kakek-nenek, bapak-ibu, serta saudara-saudari mereka yang telah meninggal. Seusai berdoa, masyarakat menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang. Tiap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, prekedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya.

Pada masa lalu, untuk menghilangkan pengaruh Hindu pada umat Islam, Sunan Kalijaga mengganti ritual Hindu dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, tahlil, zikir, dan doa bersama.

Ziarah kubur untuk mendoakan arwah keluarga, menjalin kebersamaan dan silaturahim warga, dan pengingatan akan kematian itulah filosofi nyadran. Nyadran tidak bertentangan dengan ajaran Islam, juga bukan bid’ah, kalau bid’ah tentu Sunan Kalijaga tidak akan mengasimilasikan kebudayaan itu dengan Islam. Sunan Kalijaga mengganti ritual Hindu dengan doa-doa Islam supaya ajaran Islam bisa diterima masyarakat tanpa melanggar ajaran Islam itu sendiri.

Ziarah kubur dan mendoakan arwah dibolehkan dalam Islam, apalagi silaturahim itu wajib hukumnya. Jadi selama satu kebudayaan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tidak haram, dan tidak memaksakan diri, tidak apa-apa dilakukan.

*Mustofa kamal, mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi, Tinggal di Pekalongan.


Sumber : harakatuna.com