Harakatuna.com, Kalimantan Timur – Perguruan tinggi atau kampus harus pro aktif dalam melakukan pengawasan untuk mencegah penyebaran radikalisme dan terorisme di lingkungan mereka. Bahkan, bila gejala-gejala itu mulai muncul, kampus harus melakukan pendekatan persuasif kepada orang bersangkutan.

“Pendekatan persuasif itu sangat penting agar kita bisa mengembalikan mereka ke paham yang benar. Mereka jangan dijauhi oleh lingkungannya,” ujar Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjend Pol Hamli saat memberikan paparan pada Dialog Pelibatan Civitas Academica Dalam Pencegahan Terorisme di Institute Teknology Kalimantan (ITK) Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (9/7/2019).

Hamli mengungkapkan, ada tiga tahap perubahan hingga menjadi terorisme. Hal ini perlu dipahami agar terhindar dan menghalau perkembangan dan pertumbuhan radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan perguruan tinggi.

“Pertama, intoleransi, orientasi negatif atau penolakan seseorang terhadap hak-hak politik dan sosial dari kelompok yang ia tidak setuju,” jelasnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Kedua, lanjut mantan analis kebijakan madya bidang penindakan Densus 88/Antiteror Polri ini, radikalisme yaitu suatu ideologi dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan atau ekstrim. Paham ini menyuburkan sikap intoleran, anti-Pancasila, anti-NKRI, penyebaran paham takfiri. dan menyebabkan disintegrasi bangsa.

Ketiga, terorisme yaitu perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Dialog ini digelar BNPT bekerja sama dengan Institute Technology Kalimantan dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur dan dihadiri 170 peserta dari berbagai unsur yaitu pejabat kampus, akademisi dan mahasiswa se-Balikpapan.

BACA JUGA:  Geliat Islam Eksklusif Transnasional di Kampus

Kegiatan yang dibuka oleh Rektor ITK Budi Santoso dihadiri beberapa elemen pemerintahan seperti Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Kalimantan Timur dan Balikpapan, Komandan Lanal Balikpapan, Perwakilan Polda, Perwakilan Kodam Mulawarman serta Pengurus FKPT Kalimantan Timur.

Rektor ITK menyampaikan, ITK harus menjaga NKRI dan melawan radikalisme serta menjadi institut teknologi terbaik di Indonesia bagian timur.

“Acara ini penting untuk menanggulangi radikalime dan terorisme agar nyaman untuk hidup, beragama dan beribadah. Memang selalu terjadi perdebatan antara agama dan negara, tapi yang perlu juga kita pahami bahwa tanpa negara kita tidak akan hidup nyaman, beragama dan beribadah dengan tenang,” terang Budi.


Sumber : harakatuna.com