Aku mencintaimu karena politik; persamaan dalam memilih capres. Mungkin ini salah satu gambaran cinta yang lagi viral dan terkenal. Kalua sama pilihan kita teman, kita kawan, kita cinta. Sebaliknya kalau sudah beda pilihan, bukan kawan, bukan teman, mungkin malah jadi lawan. Bolehkah yang demikian?

Urusan cinta memang rumit bin jelimet. tapi jika kita menengok kembali bagaimana Rasulullah saw membangun istana cinta yang dipenuhi oleh orang-orang yang jatuh cinta. Cinta ini kemudian mampu menumbuhkan persatuan dan kedamaian. Lalu bagaimana cinta yang diajarkan itu?! Pahadal orang-orang tersebut dulunya dikenal sebagai para pembenci, suka perang dan saling bunuh-membunuh.

Tidak susah, tidak rumit, dan tidak jelimet cinta yang diajarkan sang kekasih Rasulullah Muhammad Saw. beliau hanya menekankan bahwa cinta itu indah, cinta itu ketulusan, dan cinta itu adalah karena Allah, Lillah, Fillah, Alallah. Cinta itu yang dibisikkan kepada kawannya ‘aku mencintaimu karena Allah’. Cinta ini yang dijadikan sebagai pondasi utama keimanan ‘tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti cintanya kepada dirinya sendiri’. Sehingga jika ia menerima kebaikan, jika ia bisa berbuat baik, jika ia suka dengan kebaikan, maka selayaknya saudara atau kawan dan temannya perlu juga diarahkan untuk melakukan apa yang ia cintai.

Seperti Hanzhalah yang mengeluh kepada Abu Bakar tentang kemunafikan dirinya, tak inggin hal itu terjadi, Abu Bakar pun mengajaknya kepada Rasulullah saw agar diberi nasehat terbaik untuk dirinya dan juga Hanzhalah hingga keduanya merasa tenang atas jawaban Rasulullah saw, ‘sa’atan sa’atan sa’atan’.

Hal sama juga terjadi pada Salman al-Farisi yang mengeluhkan kepada Rasulullah saw sikap kawannya Abu Darda’ yang sudah tidak pedulikan keluarga bahkan dirinya sendiri karena hanya memfikirkan ibadahnya kepada Allah. Karenanya iapun mengajaknya kepada Rasulullah saw untuk meminta nasehatnya hingga iapun sadar dan lalu melakukan apa yang dinasehatkan Rasulullah saw.

BACA JUGA:  Antara Khalifah dan Khilafah

Terlalu banyak kisah cinta karena Allah yang diajarkan Sang Kekasih Rasulullah saw kepada para sahabatnya sehingga menjadi orang-orang yang saling jatuh cinta karena Allah. Karena cinta inilah, segala harta, keluarga, bahkan nyawa rela dipertaruhkan karena mengharap cinta hakiki, cinta Allah swt.

Tetapi perlu diketahui bahwa realita sahabat yang menggambar keutuhan dan kesempurnaan cinta, juga pernah mengalami keretakan ketika haluan cinta karena Allah berubah ke cinta li politik dan jabatan. Meski untuk menghukumi atau menyalahkan satu sahabat atas sahabat lainnya bukanlah sesuatu yang baik untuk dipaparkan, tetapi ini bisa menjadi contoh bahwa cinta li politik dan jabatan bisa menjadi jurang atau retakan yang bisa menghancurkan persahabatan dan perkawanan. Kisah perang Jamal, perang Shifin, perang antara Yazid dengan Abdullah bin Zubair bin Awwam, dan lainnya tak lain karena adanya perubahan haluan cinta (cinta li politik dan jabatan). Karenanya, mari benahi cinta kita hanya karena Allah, tuluskan, ikhlaskan karena Allah, bukan karena politik dan jabatan yang hanya akan membunuh persahahabatan dan persaudaraan atau bahkan menumbuhkan kebencian abadi yang tak padam-padam. Wallahu a’lam

Dzulkifli Amnan

 


Sumber : harakatuna.com